Minggu, 18 September 2016

Konsep Pendidikan Islam Perspektif Muhammad Abduh

TotoSiMandja.Com - Konsep Pendidikan Islam Perspektif Muhammad Abduh

Muhammad Abduh














A.    Historisitas Muhammad Abduh
Muhammad Abduh dilahirkan tahun 1849 (1266 H) di salah satu desa di Delta Mesir bagian hilir. Ayahnya adalah seorang petani keturunan Turki yang telah lama menetap di Mesir, dan ibunya keturunan Arab yang memiliki hubungan darah dengan suku Arab asal keturunan kholifah Umar ibn Khottob. Muhammad Abduh sejak kecil sudah diketahui sebagai anak yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi.
 Di usia kanak-kanak ia telah mampu menghafal Al-Quran dalam waktu hanya 2 tahun. Selanjutnya ia dikirim ke masjid al-Ahmady selama dua tahun untuk mempelajari Bahasa Arab, Nahwu dan berbagai pengetahuan kebahasaan. Dan ternyata metode taqlidiyat (verbalisme) yang digunakan ketika itu tidak memuaskan keinginan Muhammad Abduh, hingga ia meninggal kan perguruan tersebut.

Menyadari akan potensi yang dimiliki oleh Muhammad Abduh dan perilaku yang demikian, maka pamannya Syeh Darwis berusaha membimbingnya dan atas saran serta ketekunan Syekh Darwis, akhirnya Muhammad Abduh bersedia melanjutkan pelajarannya ke kota Thanta tahun 1865. Kemudian dia melanjutkan pelajarannya di al-Azhar, dan Jurnal Ilmu menamatkan pelajarannya pada tahun 1877.
Di sinilah dia memperoleh pengalaman yang paling berkesan dari gurunya Syeh Hasan al-Thawil dan Syekh Muhammad al-Basyuni, masing-masing sebagai guru mantiq dan Balaghah. Selain itu, Muhammad Abduh sempat pula berkenalan dan sekaligus menjadi murid Jamal al-Din al-Afghani. Dari tokoh ini, ia mempelajari berbagai macam ilmu. Dengan demikian, kemampuan intelektual Muhammad Abduh kian tampak.

B.     . Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh
Sebagai seorang pemikir muslim yang terkenal dalam memajukan dunia Islam, Muhammad Abduh dalam pemikirannya dilatar belakangi oleh faktor situasi sosial keagamaan dan situasi pendidikan yang ada pada saat itu, terutama pengalaman pendidikan yang dialaminya. Situasi sosial keagamaan yang dimaksud dalam hal ini adalah sikap yang umumnya diambil oleh umat Islam di Mesir dalam memahami ajaran-ajaran agama dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sikap tersebut tidak jauh berbeda dari apa yang dialami umat Islam di bagian dunia Islam lainnya. 

Pemikiran yang statis, taklid, bid’ah dan khurafat yang menjadi ciri dunia Islam saat itu, juga berkembang di Mesir. Muhammad Abduh memandang pemikiran yang jumud itu telah merambat dalam berbagai bidang, bahasa, syari’ah, akidah, dan sistem masyarakat. Keadaan lainnya yang memunculkan pemikiran pendidikan Muhammad Abduh adalah sistem pendidikan yang ada pada saat itu. Pada abad ke-19 Muhammad Abduh mengawali pembaharuan pendidikan di Mesir. Baginya pendidikan itu penting sekali, karena menurut ajaran Islam bahwa mempelajari ilmu pengetahuan itu hukumnya wajib. 

Dalam hal ini Muhammad Abduh berusaha mencari alternatif pemecahan atas pemberhentian dan kebekuan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di madrasah Mesir, baik dalam hal penetapan mata pelajaran maupun pemilihan metode. Muhammad Abduh berusaha membenahi kegiatan belajar mengajar dengan cara kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya, yakni Islam mendorong untuk mengembangkan potensi intelektual, khususnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Muhammad Abduh berusaha untuk merombak sistem pendidikan yang ada saat itu, dimana terjadi dualisme sistem kependidikan, yaitu model pendidikan yang dilaksanakan di sekolah-sekolah modern, baik yang dibangun oleh pemerintah Mesir maupun sekolah yang dibangun oleh bangsa asing, dan model sekolah agama yang bersifat doktrinal dan tradisional. 

Kedua model sekolah tersebut tidak mempunyai hubungan antara yang satu dengan yang lainnya, masing-masing berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan pendidikannya. Sekolah-sekolah agama berjalan di atas garis tradisional, baik dalam kurikulum, maupun metode pengajaran yang diterapkan. Pengajaran fikih misalnya, terbatas pada masalah ibadah dan hukum-hukumnya yang diberikan tanpa pengertian dan pemahaman terhadap apa yang diterima. 

Pada sekolah-sekolah agama juga tidak diberikan mata pelajaran ilmu-ilmu modern yang berasal dari barat. Dengan demikian pendidikan agama pada saat itu kurang memperhatikan perkembangan aspek intelektual yang sebenarnya harus mendapat perhatian besar sesuai dengan ajaran Islam. Dari hal tersebutlah pemikiran yang statis tetap mendominasi corak pemikiran guru dan murid pada saat itu, bukan hanya pada tingkat awal dan menengah, tetapi juga dalam kalangan al-Azhar sendiri.

Sebaliknya, pada sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah, kurikulum yang diberikan adalah ilmu pengetahuan Barat sepenuhnya, tanpa memasukkan ilmu pengetahuan agama. Keadaan seperti itu, menurut Muhammad Abduh, juga terjadi di sekolah-sekolah militer, para murid pada umumnya tumbuh dengan bekal ilmu pengetahuan yang memenuhi otak dan pemikiran, tanpa pengetahuan yang mendalam sehingga dapat membentuk sikap dan kepribadiannya agar lebih setia terhadap tugas yang dibebankan negara, memelihara kedisiplinan, serta lebih taat kepada Allah. 

Dualisme pendidikan yang demikian juga melahirkan dua kelas sosial dengan spirit yang berbeda. Model sekolah yang pertama memproduksi para ulama serta tokoh masyarakat yang enggan menerima perubahan dan cenderung untuk mempertahankan tradisi, sedangkan model sekolah yang kedua melahirkan kelas elit generasi muda yang sering menggunakan slogan (kebebasan, nasionalisme dan etnisitas). Mereka meniru pola dan gaya hidup ala Barat yang akhirnya terjerumus kepada sikap konsumerisme dan pemborosan.

Melihat kenyataan yang demikian, Muhammad Abduh berusaha untuk merekonstruksi pola pikir yang pertama karena tidak dapat dipertahankan lagi. Apabila pemikiran tersebut dipertahankan, maka akan menyebabkan umat Islam tertinggal jauh, terdesak oleh arus kehidupan dan pemikiran modern. Sedangkan pada pola pemikiran kedua, ia melihat bahaya yang mengancam sendi-sendi agama dan moral yang akan tergoyah oleh pemikiran modern yang mereka serap karena menafikan aspek relegiutas. 

Dari berbagai problematika yang dihadapi oleh umat Islam saat itu, maka Muhammad Abduh melahirkan pemikiran pendidikan, yang dibagi ke dalam dua hal, yaitu pendidikan formal dan pendidikan non formal yang tujuan esensinya adalah menghapuskan dualisme pendidikan yang tampak, yakni pendidikan modern dan pendidikan agama. Oleh karena itu, ia bertolak dari tujuan pendidikan yang dirumuskan sebagai berikut: Tujuan pendidikan adalah mendidik akal dan jiwa dan menyampaikannya kepada batas­batas kemungkinan seseorang mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Rumusan tujuan pendidikan tersebut dapat dipahami, bahwa tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh Muhammad Abduh adalah tujuan dalam pengertian yang luas, mencakup aspek akal (kognitif) dan aspek spiritual (afektif). Dengan tujuan demikian pula ia mengingin  kan terbentuknya pribadi yang mempunyai struktur jiwa yang seimbang, yang tidak hanya menekankan perkembangan akal, tetapi juga perkembangan spiritual. Tujuan pendidikan Muhammad Abduh yang demikian itu jelas berbeda dengan tujuan pendidikan yang berlaku saat itu, yakni mementingkan perkembangan salah satu aspek dan mengabaikan aspek lainnya.

Sesuai dengan tujuan pendidikan yang dicetuskan oleh Muhammad Abduh, menurutnya pendidikan harus diikuti oleh semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Perempuan haruslah mendapat hak-hak yang sama dalam bidang pendidikan dengan kaum lelaki, karena dalam agama tidak ada pembedaan gender dalam mendapatkan pendidikan semasa hidupnya.

Sedangkan untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana tersebut di atas, Muhammad Abduh mengenalkan metode baru dalam pendidikan dan pengajaran. Ia tidak setuju dengan metode hafalan (verbalistik) tanpa adanya pengertian, dan terlebih dapat merusak daya nalar peserta didik, sebagaimana yang dipraktekkan di sekolah-sekolah pada umumnya, terutama pada sekolah agama. Muhammad Abduh lebih memilih menerapkan metode diskusi untuk memberikan pengertian yang mendalam kepada murid agar dapat mengasah otak dan menemukan solusi yang cerdas dalam setiap permasalahan yang dihadapi.

Pustaka:
Luk-Luk Nur Mufidah. 2013. Konsep Pendidikan Islam Perspektif Muhammad Abduh. Tulungagung: Jurnal Ilmu Tarbiyah At-Tajdid.

 

Tidak ada komentar:
Write komentar