Senin, 23 Juni 2014

Studi Analisis atas Teori Kepribadian Manusia Menurut Alfred Adler

Toto Si Mandja - Studi Analisis atas Teori Kepribadian Manusia Menurut Alfred Adler



     A.    Biografi Alfred Adler
Alfred Adler lahir di Wina pada tahun 1870. Dia menyelesaikan studinya dalam lapangan kedokteran pada Universitas Wina tahun 1895. Mula-mula mengambil spesialisasi dalam Ophthalmologi, dan kemudian dalam lapangan psikiatri. Mula-mula bekerja sama dengan Freud dan menjadi anggota serta akhirnya menjadi presiden “Masyarakat Psikoanalisis Wina”. Namun dia segera mengembangkan pendapatnya sendiri yang menyimpang dari pendapat Freud serta lain-lain anggota persatuan itu, yang akhirnya menyebabkan di mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden serta dari keanggotaannya tersebut dan mendirikan aliran baru yang diberi nama Individual Pshycologie. Hal ini terjadi pada tahun 1911.
Sejak tahun 1935 Adler menetap di Amerika Serikat. Disana dia melanjutkan prakteknya sebagai ahli penyakit syaraf dan juga menjadi guru besar dalam psikologi medis di Long Island College of Medicine. Dia meninggal di Scotlandia pada tahun 1937, ketika sedang dalam perjalanan keliling untuk memberikan ceramah-ceramah.
Seperti psikoanalisis pengaruh Adler juga lekas meluas, walaupun tidak seluas pengaruh Psikoanalisis, terutama karena Adler dengan pengikut-pengikutnya mempraktekan teorinya dalam lapangan pendidikan. Juga di Amerika Serikat pengaruh Individual Pshychologie itu cukup luas.[1]
      B.     Kepribadian menurut Alfred Adler
Alfred Adler menggambarkan manusia bukan sebagai korban dari insting dan konflik yang dikontrol oleh sifat-sifat biologis dan pengalaman masa kecil. Teori ini Ia sebut sebagai psikologi individual (Individual Psychology) karena ia memfokuskan pada keunikan dari setiap orang dan menyangkal motif-motif biologis dan tujuan yang universal seperti yang dikatakan Sigmund Freud.
Menurut Adler, manusia adalah makhluk sosial. Kepribadian kita terbentuk dari lingkungan sosial dan interaksi yang unik, bukan oleh usaha-usaha mencapai kepuasan biologis. Karena itu Adler meminimalisir peran seks dalam teorinya. Bagi Adler, yang menjadi inti dari kepribadian adalah alam sadar kita dan manusia memiliki kebebasan untuk mengatur  diri dan mengarahkan diri pada tujuan kita,bukan diatur oleh faktor-faktor dari luar yang tidak dapat kita kontrol.
      C.    Pokok-pokok Teori Adler
1.      Individualitas sebagai Pokok Persoalan
Adler memberi tekanan kepada pentingnya sifat khas (unik) kepribadian, yaitu individualitas, kebulatan serta sifat-sifat pribadi manusia. Menurut Adler tiap orang adalah suatu konfigurasi motif-motif, sifat-sifat, serta nilai-nilai yang khas; tiap tindak yang dilakukan oleh seseorang membawakan corak khas gaya kehidupannya yang bersifat individual.[2]
2.      Pandangan Teleologis: Finalisme Semu
Adler terpengaruh filsafat hans Vaihinger yang mengembangkan gagasan akan gamabaran fiktif. Gambaran-gambaran fiktif ini misalnya: “semua manusia diciptakan sama”;  “kejujuran adalah politik yang paling baik”; “tujuan membenarkan sarana”, dan lain-lain.
Adler mengambil ajaran filsafat positivisme idealistis yang bersifat pragmatis dan disesuaikannya dengan pendapatnya sendiri. Adler menemukan gagasan bahwa manusia lebih didorong oleh harapan-hapannya terhadap masa depan daripada pengalaman-pengalaman masa lampaunya. Tujuan itu tidak ada di masa depan sebagai bagian daripada suatu rancangan teologis, melainkan ada secara subyektif (dalam diri si subyek) pada waktu kini sebagai keinginan atau cita-cita yang mempengaruhi tingkah laku dewasa ini. Jadi, segala aktivitas proses psikis ditentukan oleh motif-motif tertentu, juga bilamana motif-motif ini tak disadari oleh yang bersangkutan.
3.      Dua Dorongan Pokok
Di dalam diri manusia terdapat dua dorongan pokok, yang mendorong serta melatarbelakangi segala tingkah lakunya, yaitu:
            a.       Dorongan kemasyarakatan, yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada masyarakat.
            b.      Dorongan keakuan, yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada aku sendiri.[3]
4.      Rasa Rendah Diri dan Kompensasi
Adler mengemukakan bahwa yang menentukan letak gangguan tertentu adalah inferoritasdasar pada bagian itu, suatu inferoritas yang timbul karena hereditas maupun karena kelainan sesuatu dalam perkembangan. Selanjutnya ia mengamati orang cacat sering kali mengkompensasikan kelemahan itu dengan jalan memperkuat latihan secara intensif, misalnya Theodore Roosevelt yang lemah pada masa mudanya, tetapi berkat latihan yang sistematik akhirnya menjadi orang yang berfisik tegap.
Perasaan inferoritas merupakan perasaan yang muncul akibat kekurangan psikologis atau sosial yang dirasakan secara subjektif maupun yang muncul dari kelemahan atau cacat tubuh. Adler menyatakan inferoritasdengan “feminitas” dan kompensasinya disebut “protes maskulin”.
Adler berpendapat bahwa rasa rendah diri itu bukanlah suatu pertanda ketidaknormalan, melainkan justru merupakan pendorong bagi segala perbaikan dalam kehidupan manusia. Tentu saja dapat juga rasa rendah diri itu berlebih-lebih sehingga manifestasinya juga tidak normal, misalnya timbulnya kompleks rendah diri atau kompleks untuk superior. Tetapi dalam keadaan normal rasa rendah diri itu merupakan pendorong ke arah kemajuan atau kesempurnaan (superior).
5.      Dorongan Kemasyarakatan
Dorongan kemasyarakatan itu adalah dasar yang dibawa sejak lahir, pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Namun sebagaimana lain-lain kemungkinan bawaan, kemungkinan mengabdi kepada masyarakat itu tidak nampak secara spontan, melainkan harus dibimbing dan dilatih.[4]
6.      Gaya Hidup
Gaya hidup adalah pengertian yang sentral dalam teori Adler, tetapi juga pengertian yang paling sukar dijelaskan. Gaya hidup ini adalah prinsip yang dapat dipakai landasan untuk memahami tingkah laku seseorang, inilah yang melatarbelakangi sifat khas seseorang. Tiap orang punya gaya  hidup masing-masing. Tiap orang punya tujuan yang sama yaitu mencapai superioritas. tapi cara kita untuk menuju hal tersebut berbeda-beda. Kita mengembangkan sebuah pola unik dari karakter, tingkah laku, kebiasaan, yang mana disebut Adler sebagai style of lifeatau gaya hidup. Bayi memiliki inferiority feelings yang memotivasi mereka untuk mengkompensasi rasa putus asa dan kebergantungan. Dalam upaya untuk melakukan kompensasi, anak-anak memperoleh berbagai macam tingkah laku. Tingkah laku ini menjadi bagian dari gaya hidup (the style of life).
Semua yang kita lakukan terbentuk dengan keunikan gaya hidup kita. Hal ini menentukan aspek kehidupan mana yang cenderung kita sukai atau tidak sukai, dan sikap mana yang kita pegang.  Gaya hidup dipelajari dari interaksi sosial yang terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan. Adler mengatakan bahwa gaya hidup terbentuk sejak umur 4 atau 5 tahun, dan setelah itu sangat sulit untuk dirubah. Gaya hidup menjadi salah satu penentu dari sikap-sikap kita ke depannya.
Contohnya, anak yang diabaikan merasa tidak mampu mengatasi tuntutan hidup, karena itu dia tumbuh dengan rasa ketidakpercayaan dan sering berseteru. Hasilnya, gaya hidupnya sering melibatkan rasa dendam, membenci kesuksesan orang lain, dan mengambil apapun yang dia rasa adalah haknya.
Adler menggambarkan beberapa masalah yang umum dan membaginya dalam 3 kelompok:
            a.       Masalah yang melibatkan perilaku kita terhadap orang lain
            b.      Masalah dalam pekerjaan
            c.       Masalah tentang percintaan
Kemudian, Ia mengemukakan 4 gaya hidup yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah itu:
            a.       Dominant type
            b.      Getting type
            c.       Avoiding type
            d.      Socially useful type
Tipe pertama adalah sikap memerintah dengan kesadaran sosial yang rendah. Orang seperti ini berperilaku tanpa memikirkan orang lain. Orang yang paling ekstrim dari jenis ini akan menyerang orang lain secara langsung dan menjadi sadis dan ganas. Sementara orang yang tidak terlalu ekstrim  akan menjadi alkoholik, kecanduan obat, dan bunuh diri.
Getting type (tipe paling umum menurut Adler) adalah yang mana manusia mengharapkan apa saja dari orang lain dan sangat bergantung dengan mereka.
Avoiding type membuat tidak ada upaya dalam menghadapi masalah kehidupan. Dengan menghindari semua kesulitan, menghindari setiap kemungkinan terjadinya kegagalan.
Social useful type dimana kita berdampingan dengan orang lain dan berperilaku sesuai dengan kebutuhan mereka. Orang-orang tersebut mengatasi permasalahan hidup dengan mengembangkan kerangka sosial dengan baik.
Social Interest, Adler percaya bahwa bergaul dengan orang lain merupakan tugas pertama kita dalam menghadapi hidup. Adler mengkonsepkan minat sosial (social interest) sebagai potensial individu yang dibawa sejak lahir untuk bekerja sama dengan orang lain  mencapai tujuan pribadi maupun sosial.
Menurut Adler, meskipun kita lebih kuat dipengaruhi oleh sosial daripada biologis, potensi dari minat sosial ini merupakan pembawaan dari lahir. Namun, tingkat untuk potensi minat sosial bergantung pada awal pengalaman sosial kita. Adler menyatakan bahwa peran ibu sangat penting sebagai orang pertama dalam berhubungan dengan bayi. Melalui perilaku ibu kepada si anak, ibu dapat membantu perkembangan minat sosial anak.
7.      Diri yang Kreatif
Diri yang kreatif adalah penggerak utama, pegangan filsafat, sebab pertama bagi semua tingkah laku. Sukarnya menjelaskan soal ini adalah karena orang tak dapat menyaksikannya secara langsung akan tetapi hanya dapat menyaksikan lewat manifestasinya. Inilah yang mengantarai antara perangsang yang dihadapi individu dengan response yang dilakukannya. Diri yang kreatif inilah yang memberi arti kepada hidup, yang menetapkan tujuan serta membuat alat untuk mencapainya.[5]
Adler berpendapat bahwa setiap orang memiliki kontrol terhadap hidupnya sendiri dan bahwa mereka menciptakan style of life mereka sendiri. Kekuatan kreativitas itulah yang membuat setiap individu menciptakan diri, karakter, serta kepribadian mereka.
      D.    Struktur Kepribadian menurut Alfred Adler
Manusia dimotivasi oleh adanya dorongan utama, yaitu mengatasi perasaan inferior dan menjadi superior. Inferioritas berarti merasa lemah dan tidak memiliki keterampilan untuk menghadapi tugas atau keadaan yang harus diselesaikan. Hal itu tidak berarti rendah diri terhadap orang lain dalam pengertian yang umum, meskipun ada unsur membandingkan kemampuan diri dengan kemampuan orang lain yang lebih matang dan berpengalaman. Misalnya manusia yang lebih lemah akan berjuang untuk menjadi lebih kuat.
Sedangkan superioritas bukan berarti lebih baik dibandingkan dengan orang lain, melainkan mencoba untuk menjadi lebih baik, semakin dekat dengan tujuan ideal seseorang. Adler meyakini bahwa motif utama setiap orang adalah untuk menjadi kuat, kompeten, berprestasi dan kreatif.
      E.     Perkembangan Kepribadian menurut Alfred Adler
1.    Inferiority Feelings
Adler percaya bahwa inferiority feelingsselalu ada dalam diri manusia sebagai motivasi. Karena kondisi ini umum adanya pada diri kita, bukan sebagai suatu kelemahan atau tidak normal. Ia mengatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia mempunyai kelemahan organis. Menurut Adler, kelemahan inilah yang mendorong manusia untuk mengadakan kompensasi, yaitu suatu usaha manusia untuk menutupi kelemahannya. Mekanisme kompensasi inilah yang mendasari  tingkah laku manusia.
Prosesnya bermulai sejak masa bayi. Bayi sangat kecil dan sangat bergantung dengan orang dewasa disekitarnya. Mereka menyadari akan kekuatan dari orang tua mereka sehingga mereka mengembangkan inferiority feelings mereka kepada orang-orang dewasa disekitarnya. Inferiority feelings ini mutlak adanya dan diperlukan karena ini menuntut bayi bertahan hidup dan bertumbuh.
2.    Birth Order
Adler menyatakan bahwa urutan kelahiran adalah pengaruh sosial yang utama ketika masa kanak-kanak. Meskipun memiliki hubungan saudara, berasal dari orang tua yang sama dan tinggal di rumah yang sama, mereka tidak memiliki lingkungan sosial yang sama. Adler menuliskan empat situasi yaitu anak pertama (the first-born child), anak kedua (the  second-born child), anak paling muda (the youngest child) dan anak tunggal (the only child).
a.       Anak Pertama (The First-Born Child)
Anak pertama biasanya mendapat perhatian yang penuh dari orang tua mereka. Hasilnya, anak pertama memiliki kebahagiaan, dan hidup yang tentram hingga anak kedua lahir. Adler yakin bahwa semua anak pertama merasa terkejut akan pergeseran status mereka dalam keluarga, tetapi bagi mereka yang manja berlebihan akan merasakan kehilangan yang lebih besar. Karena telah terbiasa memiliki kekuasaan, anak pertama cenderung membawa sifat itu sepanjang  hidupnya.
Ada keuntungan-keuntungan menjadi anak pertama. Pada usia muda, anak pertama sering diharapkan oleh orang tua untuk membantu menjaga saudara kandungnya lebih muda. Pengalaman ini sering membuat anak pertama lebih dewasa secara intelektual dibandingkan saudara lainnya.
Adler yakin bahwa anak pertama memiliki ketertarikan pada pemeliharaan urutan dan kekuasaan. Adler menemukan bahwa mereka menjadi organisator yang sangat bagus, teliti dan cermat terhadap detail dan penguasa serta bersikap konservatif. Anak pertama dapat tumbuh dengan perasaan tidak aman dan bermusuhan terhadap yang lain. Adler menemukan bahwa penjahat, kriminal dan neurotik lebih sering adalah anak pertama.
b.      Anak Kedua (The  Second-Born Child)
Anak kedua, yang membuat pergolakan pada hidup anak pertama, tidak pernah memiliki pengalaman posisi kekuasaan yang dialami oleh anak pertama sehingga mereka tidak mengalami shock yang berat seperti anak pertama bila ada bayi lainnya. Bayi kedua tidak membawa sesuatu yang baru seperti anak pertama dan orang tua mungkin lebih rileks dalam menghadapi anak kedua.
Pada awalnya, anak kedua yang menentukan model pada saudara kandung yang lebih tua. Anak kedua selalu mencontoh perilaku dari anak yang lebih tua sebagai model. Persaingan dengan anak pertama dapat memotivasi anak kedua, yang berusaha untuk mengejar dan mengungguli saudara kandungnya yang lebih tua. Mereka optimis tentang masa depan dan suka untuk bersaing dan ambisius, seperti Adler. Namun, keterampilan yang baik dari anak pertama dapat menenggelamkan sifat kompetitif anak kedua sebab ia merasa tidak akan pernah bisa menang dari saudaranya yang lebih tua.
c.       Anak Paling Muda (The Youngest Child)
Anak paling muda atau anak terakhir tidak pernah mengalami shock dethronement dari anak lain dan sering dijadikan kesayangan di dalam keluarga, terutama jika hubungan dengan saudara kandung yang lainnya lebih tua dari beberapa tahun. Didorong melalui kebutuhan yang melebihi dari saudara kandung yang lebih tua, anak terakhir sering berkembang sungguh cepat. Anak terakhir sering berprestasi tinggi di dalam pekerjaan apapun yang mereka kerjakan seperti orang dewasa.
Bagaimanapun anak yang paling muda biasanya manja dan mereka tidak membutuhkan pembelajaran untuk melakukan apapun sendiri. Tidak biasa dengan kondisi untuk berusaha dan berjuang, mereka akan sulit untuk menyelesaikan masalah pada masa dewasa.
d.      Anak Tunggal (The Only Child)
Anak tunggal tidak pernah kehilangan posisi keunggulan dan kekuatan yang mereka dapatkan di dalam keluarga, mereka tetap menjadi fokus dan pusat perhatian. Anak tunggal sering tumbuh dewasa dengan cepat dan meraih kedewasaan perilaku sebab mereka lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan orang dewasa daripada saudara kandung mereka.
Anak tunggal akan merasa kesulitan ketika mereka tidak menjadi pusat perhatian. Anak tunggal telah belajar, untuk selalu menjadi yang pertama. Jika kemampuan anak tidak membawa cukup pengakuan dan perhatian, dia mungkin merasa sangat kecewa.
Dengan gagasan tentang urutan kelahiran, Adler tidak menaruh aturan tetap untuk perkembangan pada masa kanak-kanak. Anak tidak akan secara otomatis memperoleh karakter semata-mata didasarkan pada posisinya di dalam keluarga. Adler memberi kemungkinan dari perkembangan gaya hidup tertentu yang pasti akan berkembang karena fungsi dari urutan kelahiran yang digabungkan dengan interaksi sosial seseorang pada awal hidupnya.
      F.     Arti Psikologi Individual
Psikologi individual mempunyai arti yang penting sebagai cara untuk memahami tingkah laku manusia. Pengertian seperti gambaran semu, rasa rendah diri, kompensasi, gaya hidup, diri yang kreatif, member pedoman yang penting untuk memahami sesama manusia. Karena itu justru dalam praktek pendidikanlah teori Adler ini punya arti yang sangat penting, karena hal-hal berikut ini:
1.      Penentuan tujuan-tujuan yang susila, seperti:
            a.       Keharusan memikul tanggung jawab.
            b.      Keberanian menghadapi kesulitan hidup.
            c.       Mengurangi dorongan keakuan dan mengembangkan dorongan kemasyarakatan.
            d.      Mengenali diri-sendiri dan menunjukkan kecenderungan egoistis yang tersembunyi.
2.      Optimismenya dalam bidang pendidikan. Lain daripada itu pendekatannya secara psikologi social berarti membuka halaman baru dalam bidang psikologi kepribadian.
Cara pendekatan ini kemudian banyak ditempuh dari ahli-ahlilain, seperti Erich Fromm (1941) Karen Horney, Henry Stack Sulivan (1935) dan lain-lain ahli lagi.
Dalam pada itu beberapa keberatan terhadap teori Adler itu dilancarkan juga seperti:
            a.       Kehidupan jiwa dipandang terlampau sederhana.
           b.      Arti dasar dan keturunan dipandang sangat kecil dan pengaruh lingkungan dinilai berlebih-lebihan. Hal ini sangat berguna bagi praktek pendidikan akan tetapi secara teori mudah mendapat tantangan.[6]
      G.    Analisis terhadap Teori Kepribadian menurut Alfred Adler
Manusia dimotivasi oleh dorongan sosial. Pria dan wanita adalah makhluk sosial dan masing-masing orang dalam berelasi dengan orang lain mengembangkan gaya hidup yang unik. Adler sangat menekankan determinan sosial kepribadian daripada seksual. Pusat kepribadian adalah kesadaran. Manusia sangat terdorong oleh kebutuhan inferoritas yang inheren serta untuk mencapai superioritas. Tujuan hidup adalah kesempurnaan, bukan kesenangan.
Usaha yang dilakukan untuk mencapai superioritas adalah dengan mencari kekuasaan. Dengan itu seseorang ingin mengubah kelemahan dengan kekuatan sebagai kompensasi kekurangannya. Selain itu orang mengembangkan gaya hidup yang berbeda. ada yang mengembangkan inteleknya, mengembangkan ototnya, dan seterusnya. Gaya hidup ini dibentuk pada masa kanak-kanak. 
Kontribusi Adler dalam dunia psikologi sangatlah besar karena pandangannya mencakup masyarakat luas. Pandangannya tentang psikologi individual banyak mempengaruhi tokoh-tokoh psikologi dunia. Adler mengatakan bahwa manusia akan berusaha untuk menutupi kekurangannya agar tidak kelihatan lemah. Ini berasal dari pengalaman masa kecil Adler yang kemudian mempengaruhi keadaannya sehingga menjadi lebih berusaha agar dia tidak terlihat lemah, dibandingkan dengan abangnya. Dari keadaannya ini  lah Adler mengeluarkan teorinya.
Pada akhirnya teori Adler tersebut banyak diterapkan dalam dunia psikologi. Menurut kami teori Adler  masuk akal dan juga mudah dipahami karena berdasarkan pengalaman masa kecil Adler. Teori tersebut dapat dilihat secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Aplikasi teori Adler dalam dunia pendidikan yaitu Peserta didik pada dasarnya adalah penentu dirinya sendiri dan bahwa mereka membentuk kepribadian dari makna yang mereka berikan kepada pengalaman-pengalaman mereka oleh karena itu guru harus bisa membiarkan peserta didik merealisasikan dirinya tanpa harus di kekang asal kegiatan ersebut positif. Harusnya sebagai seorang guru dapat menanamkan keperayaan interpretasi peserta didik terhadap pengalaman lebih penting daripada pengalaman itu sendiri. Sehingga peserta didik bergerak maju, termotivasi di depan lebih daripada insting bawaan atau daya kausal.



[1] Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 184
[2] Ibid, hlm. 185
[3] Ibid, hlm. 186
[4] Ibid, hlm. 189
[5] Ibid, hlm. 191
[6] Ibid, hlm. 192

Tidak ada komentar:
Write komentar