Minggu, 22 Juni 2014

Studi Analisis atas Teori Kepribadian Manusia Menurut Carl G. Jung

Toto Si Mandja - Studi Analisis atas Teori Kepribadian Manusia Menurut Carl G. Jung


BAB II
PEMBAHASAAN

A.    Mengenali Carl Gustav Jung
Carl Gustav Jung lahir pada tanggal 26 juli 1975 di sebuah desa kecil bernama Kessewil, di swiss. Ayahnya bernama Paul Jung, seorang pendeta desa. Ibunya bernama Emilie preiswerk jung, gustav jung lahir di tengah keluarga besar yang cukup berpendidikan. Diantara keluarga besar jung senior ada yang jadi pendeta dan punya pemikiran yang eksentrik.
Jung senior mulai mengajari jung bahasa latin ketika dia berumur 6 tahun, dan inilah yang menjadi awal minatnya pada bahasa dan sastra, khususnya sastra kuno. Di samping bahasa bahasa Eropa barat modern, jung dapat membaca babarapa bahasa kuno, termasuk sangsekerta, bahasa asli kitab suci umat hindu.
Pada tahun 1903, jung menikah dengan Emma R kemudian dia mengajar di Universitas of Zurich, membuka praktek psikiatri dan menemukan beberapa istilah yang masih tetap dipakai sampai sekarang. Selama kuliah dan dan melalui beberapa mengalaman kerja, dia mengagumi tokoh Sigmund Freud, dalam rentan wakru yang cukup lama. Dia memang terpengaruh sekali oleh latar belakang teori freudian, disamping pengetahuan luas di bidang mitologi, agama dan filsafat.[1]
Pada tahun 1907, jung berkesempatan bertemu langsung dengan freud, dalam beberpapa literatur dikisahkan, pada awal pertemuannya freud malah membatalkan kegiatannya hari itu dan mereka berbincang santai selama 13 jam. Kisah mereka berdua berlanjut setelah pertemuan pertama ini, malah dampak dari pertemuan ini luar biasa bagi kedua pemikir ini. Freud akhirnya menyakini bahwa jung lah yang kelak akan menjadi ‘’putra mahkota’’ kajian psikoanalisis dan pewaris tahta keilmuannya.
Di samping itu jung juga memeiliki kemampuan meramal, di musim gugur tahun 1913, dia bermimpi banjir yang sangat menakutkan yang meluluh lantahkan hampir eropa dan menhancurkan pegunungan ditanah kelahiranya, swiss. Dalam mimpinya dia melihat ribuan orang tenggelam dan semua beradaban ambruk. Dan kemudian banjir itu berubah menjadi banjir darah. Mimpi itu diikuti mimpi mimpi yang lain yang tak kalah mengerikannya.dan ternyata mimpinya seolah menjadi nyata, di bulan agustus tahun itu, pecahlah perang duian pertama. Dengan kejadian itu Jung merasakan keterkaitan dirinya sebbagai individu dan manusia secara keseluruhan, sebagai hubungan yang tidak bisa dijelaskan.
Selama masa perang dunia pertama adalah masa-masa menyakitkan bagi Jung. Tapi masa ini juga menjadi batu loncatan baginya untuk melahirkan teori-teori kepribadian yang tiada duanya di dunia. Setelah perang berakhir, Jung melakukan perjalanan ke berbagai negara. Ia mengunjungi suku-suku primitif di Afrika, Amerika, dan india. Dia pensiun tahun 1946, sembilan tahun kemudian istrinya mninggal tahun 1955. Sejak itu dia mulai menarik diri dari kehidupan umum. Jung meninggal pada tanggal 6 juni 1961 di Zurich.
B.     Pendekatan Terhadap Kepribadian[2]
Dibandingkan dengan teori-teori lain, jung memberikan tekanan kuat pada ketidaksadaran. Sigmund freud adalah tokoh yang pertama-tama menyadarkan kita tentang pentingnya kekuatan-kekuatan tak sadar dalam membentuk kepribadian. Sedangkan Jung memeberikan suatu demensi yang lebih dalam kepada kehidupan batin kita yang tersembunyi yang kita miliki. Jung memasukan sebagai bagian dari ketidaksadaran, tidak hanya pengalaman-pengalaman yang kita kumpulkan masing-masing dalam hidup, tetapi juga pengalaman-pengalaman yang telah dikumpulkan oleh semua anggota spesies manusia dan nenek moyang. Dalam pengertian yang sebenarnya kita semua memiliki warisan tetap yang tersusun dari semua pengalaman manusia sepanjang masa.
Dengan berbagai observasi terhadap pasien-pasiennya, dan bacaan yang sekian banyak tentang mitos-mitos serta legenda-legenda dan peradaban kuno (berupa lambang-lambang, upacara-upacara keagamaan, dan ritual-ritual khusus agama), serta penyelidikannya terhadap macam-macam topik seperti kimia, astrologi, dan kewaskitaan/kesaktian, Jung memetakan kodrat seluruh ketidaksadaran yang pengarunya sangat luas. Pengalamannya sendiri selama krisis dalam usianya yang setengah tua (termasuk pengalaman-pengalamannya dari banyak pasien yang telah ditanganinya ) juga memeberika keyakinan tentang keharusan memeperoleh kontak dengan lambang-lambang, upacara-upacara keagamaan, dan mitos-mitos sejarah manusia seperti yang terkandung dalam ketidak sadaran.
Di dalam garis garis literatur bukunya,banyak kesengsaraan dan keputusasaan manusia serta perasaan kesia-siaan, tanpa tujuan, tanpa arti, yang dikemukakan jung, adalah akibat karena kehilangan kontak dengan pondasi-pondasi kepribadian yang tak sadar. Dia percaya bahwa banyak kontak-kontak yang hilang itu dikarenakan oleh kepercayaan kita semakin bertambah dalam ilmu pengetahuan dan pikiran sebagai petunjuk-petunjuk hidup. Jung menyatakan, ‘ kita telah terlalu berat sebbelah, terlalu menekankan kesadaran, yang ada rasa hanya rasional, dengan mengorbankan ketidak sadaran.’’ Ada kesejajaran yang mencolok anatara pandangan Jung ini dengan usulan yang di kemukakan Carl Rogers,’’ kondisi tragis manusia ialah bahwa dia telah kehilangan kepercayaan akan petunjuk-petunjuk dari dalam ketidak sadarannya sendiri.
Selanjutnya Jung memeberikan penilaian seperti ini ; kita telah membebaskan diri dari kepercayaan-kepercayaan takhayul (kurang lebih kita menyakinkan diri kita). Tetapi dalam melalukannya, kita telah kehilangan nilai-nilai spiritual dan identitas kita dengan alam;dengan kata lain, kita telah didehumaisasikan. Dengan demikian kita merasa diri kita ada tanpa arti atau hubungan, dikuasai oleh kegagalan dan keampaan.” Neurosis umum dari zaman kita “ ini merupakan akibat langsung dari kehilangan hubungan spiritual kita dengan masa lampau.
C.     Struktur Kepribadian[3]
 Dalam pandangan jung, keperibadian terdiri dari tiga sistem yang terpisah tetapi berinteraksi, yaitu: aku (ego), ketidak sadaran pribadi, dan ketidak sadaran kolektif, Meskipun sistem-sistem ini berbeda, namun mereka dapat mempengaruhi satu sama lain.
Sistem pertama : Aku atau Ego
Aku (ego) adalah alam sadar dan meliputi demua persepsi, ingatan, pikiran, dan perasaan, yang selalu ada dalam kesadaran manusia pada setiap saat. Sepanjang hidup, manusia terus menerus dihujani oleh sejumlah besar stimulus, begitu banyak bagi kita untuk memperhatikan secara efektif. Karena itu masnuia harus selektif dalam mengelola persepsinya terhadap apa yang berlangsung di sekitarnya. Kitaharus menyaring stimulus-stimulus yang tidak berarti, tidak relevan, dan tidak penting seerti halnya dengan stimulus-stimulus yang menyakitkan atau mengancam. ‘Aku’ melaksanakan fungsi yang sangat penting ini. Kecuali kalau dikenal dan diterima dalam kesadaran, maka pendirian, idea tau ingatan tidak akan dilihat, didengar, atau dipikirkan.
 Banyak dari kesadaran manusia –pada saat kita mengamati dan bereaksi terhadap dunia) ditentukan oleh sikap ekstraversi dan sikap introversi. Kedua sikap ini merupakan cara yang berlawanan dalam melihat dunia, dan keduanya meruppakan bagian yang sangat terkenal dalam teori jung. Pada umumnya, psikologi secara keseluruhan telah menerima secara baik kedua sikap ini. Keduanya merupakan dua orientasi kesadaran yang berbeda, dua kepribadian yang sudah dibahas di dalam buku-buku.
Seseorang yng bersikap ekstraversi berorientasi kepada dunia kenyataan objek luar. Orang serupa itu terbuka dan suka bergaul dengan orang-orang lain, dan tamapak sungguh-sungguh senang bersahabat dengan orang-orang lain. Sebaliknya, seseorang yang bersikap introversi berorientasi pada kehidupan batin yang subjektif dan mungkin menjadi introvektif, suka menyendiri, dan pemalu. Kedua sikap ini merupakan arah berlawanan – eksternal versus internal – dan jung berpendapat bahwa semua manusia dapat ditempatkan pada salah satu di antara kedua kategori tersebut.
Biasanya dalam kehidupan seseorang, salah satu dari sikap-sikap ini menjadi dominan dan menguasai tingkah laku dan kesadaran. Ini tidak berarti sikap yang lain sama sekali ditiadakan. Sikap tersebut masih ada, tetapi bukan sebagai bagian dari kesadaran. Sikap tersebut menjadi bagian dari ketidaksadaran pribadi dimana dia tetap mamu mempengaruhi tingkah laku.
Jadi, walaupun seseorang pada dasarnya mungkin bersikap eksraversi, namun dia sama sekali tidaklah bersiakp  demikian sepenuh-penuhnya. Sikap yang tidak dominan masih ada, meskipun pengaruhnya lebih lemah. Kita akan mebicarakan kemudian implikasi-implikasi dari dominasi sikap ini untuk kesehatan psikologi, bagaimana ia bias berubah karena usia.
Ada lebih banyak hal yang nyangkut kesadaran daripaada sikap ekstraversi . jung juga memperkenalakan fungsi-fungsi psikologis. Fungsi-fungsi ini adalah cara-cara untuk mengamati dan bereaksi terhadap dunia luar dan dunia dalam. Tak semua orang yang introversi atau yang ekstraversi adalah sama; mereka berbeda dalam sikap mereka terhadap dunia. Perbedaan ini mungkin dalam penggunaan aspek rasional dan tidak rasional.
·         Fungsi rasional adalah pikiran dan perasaan. Fungsi-fungsi ini  benar benar berlawanan, tetapi keduanya terlibat dalam membuat keputusan-keputusan dan penilaian- penilaian tentang pengalaman-pengalaman itu.
·         Fungsi tidak rasional adalah pengindraan dan intuisi. Keduanya tidak menggunakan logika. Fungsi ini juga berlawanan, pendirian terlibat dalam mengalami kenyataan melalui indera-indera, sedangkan intuisi berdasarkan firasat-firasat atau semacam pengalaman yang tidak berhubungan dengan pancaindra.
Berkenaan dengan oreientasi dasar kita kepada dunia, maka hanya salah satu fungsi yang dominan dalam kesadaran kita, sementara ketiga fungsi yang lain menjadi bagian dari ketidaksadaran pribadi, seperti halnya hanya salah satu sikap yang dominan. Jelas, bahwa hanya suatu fungsi yang rasional dan tidak rasional dapat menjadi doamain dalam diri seseorang karena ketidak cocokan fungsi-fungsi itu. Seseorang bereaksi secara tetap terhadap dunia dengan menggunakan kedua tipe fungsi itu pada saat yang sama. Juga hanya salah satu dari setiap pasangan fungsi dapat menjadi domain pada setiap saat. Seseorang tidak dapat beroperasi dengan cara dan pikiran, atau perasaan, dengan kedua cara (pengindraan dan intuisi) pada saat yang sama.
Akhirnya, dalam kelasifikasi yang agak kompleks tentang kepribadian-kepribadian ini, kedua sikap dan keempat fungsi berinteraksi untuk membentuk kedelapan tipe psikologis. Orang-orang yang introversi atau ekstraversi dapat dikuasai oleh salah satu dari kira-kira dapat dilihat dalam bagan 2-1. Misalnnya, seorang yang ekstraversi dapat berfungsi dalam cara pikiran atau pengindraan, sedangkan seorang yang introversi dapat berfungsi dalam cara perasaan atau intuisi. Kombinasi inilah yang memunculan delapan tipe psikologis.





BAGAN 2-1[4]
DELAPAN TIPE PSIKOLOGI MENURUT JUNG
(Visualisasi rekaan Mif Baihaqi)
TIPE SIKAP
EKRTAVERSI
INTRAVERSI
FUNGSI RASIONAL
Pikiran
Tipe ekstraversi pikiran
Tipe intraversi pikiran
Perasaan
Tipe ekstraversi perasaan
Tipe intraversi perasaan
FUNGSI TIDAK RASIONAL
Pengindraan
Tipe ekstraversi pengindraan
Tipe intraversi pengindraan
Pengintuisi
Tipe ekstraversi pengintuisi
Tipe intraversi pengintuisi

Meskipun kesadaran itu penting, namun kesadaran diangga Jung jauh kurang penting dalam kepribadian dengan ketidaksadaran. Ada dua tingkat ketidaksadaran, yaitu ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif.
Sistem kedua : Ketidaksadaran Pribadi
Tingkat yang lebih tinggi dan lebih dangkal dari dua sistem ketidaksadaran adalah ketidaksadaran pribadi. Pada hakikatnya ketidaksadaran ini merupakan suatu gudang atau wadah dari ‘bahan’ yang tidak lagi sadar, tetapi dapat dengan mudah muncul dalam kesadaran. Bahan atau ‘timbunan pengalaman’  ini adalah ingatan-ingatan dan pikiran-pikiran yang telah dikeluarkan dari alam sadar kerena kurang penting atau bersifat mengancam.
Ada suatu batas untuk berapa banyak pengalaman yang dapat kita sadari pada setiap saat tertentu. Kita hanya dapat memperhatikan atau memikirkan salah satu beberapa ide dan pengalaman pada setiap saat . ingatan-ingatan dan pikiran-pikiran yang lain harus dikesampingkan untuk member tempat bagi bahan yang sedang menjadi pusat perhatian. Misalnya, kita semua memliki banyak informasi –berupa nama-nama teman sekolah saat di SD, SMP, SMA; nomor-nomor telepon; alamat-alamat penting; anaeka symbol dan gambar ikon; atau ingatan-ingatan dari masa lampau. Kita bias menjawab nama teman-teman yang akrab di SMP pada saat ditanya orang, meski kita tidak menghapalnya setiap waktu. Kita dengan mudah mengetahui nomor telepon sahabat, tetapi kita memikirnya setiap saat. Akan tetapi apabila kita membutuhkannya, kita dapat menarik kembali segera kepada alam sadar kita.
Jadi, ada lalu lintas yang sungguh-sungguh bolaj-balik antara kesadaran dan ketidaksadaran pribadi. Perhatian anda dapat beralih dari isi-isi pembahsan bab ini kepada ingatan terhadapa apa yang anda lakukan tadi malam atau rencana-rencana yang akan anda lakukan besok. Kita dapat membandingkan ketidaksadaran ribadi dengan sebuah lemari arsip yang berisi semua perasaan, pikiran, dan ingatan kita. Diperlukan sedikit usaha untuk menarik suatu ingatan khusus, memeriksa sebentar, kemudian menempatkannya kembali, dan melupakannya beberapa waktu sampai kelak kita perlu untuk mengingatnya kembali.
Menurut Jung, ada suatu segi penting dari ketidaksadaran pribadi, yaitu adanya kompleks-kompleks, yakni kelompok emosi, ingatan, dan pikiran sekitar suatu pokok yang umum. Sedikit banyak, kompleks-kompleks merupakan kepribadian-kepriadian yang lebih kecil dari seluruh kepribadian dan cirinya ialah sangat mengutamakan sesuatu. Misalnya, apabila kita berkata bahwa seseorang memiliki kompleks perasaan rendah-diri atau komples kekuasaan, maka yang kita maksudkan ialah dia mengutamakan perasaan rendah-diri atau kekuasaan dan pusat ini sangat mempengaruhi tingkah lakunya.
Akan tetapi orang dengan suatu kompleks tidak menyadari berapa banyak dia dikontrol oleh alam sadarnya, karena kompleks bukanlah bagian dari alam sadar. Komples itu ada dalam ketidaksadaran pribadi. Kompleks-kompleks ini benar-benar menentukan segala sesuatu tentang kita, misalnya bagaimana kita mengamati dunia nilai-nilai, minat-minat, serta dorongan-dorongan apa yang pernah menggerakan kita berperilaku.
D.    Analisis atas Teori Kepribadian Manusia menurut Carl G. Jung dan Perkembangan Kepribadian[5]
 Banyak ahli teori psikologi, mungkin karena mereka memepalajari teori-teori dan petunjuk dari Sigmund Freud, kemudian mereka percaya bahwa perkembangan manusia kira-kira umur 5 tahun. Dalam pandangan ini, bentuk dan kodrat kepribadian ditentukan oleh apa yang dialami seseorang pada masa bayi masa kanak-kanak, dan terdapat sekitar kemungkinan untuk mengubah kepribadian setelah umur itu.
      Ada juga para ahli teori yang menyetujui bahwa kepribadian dapat terus berkembang sampai akhir masa remaja. Tetapi apakah kepribadian terbentuk dan terwujud sebelum usia 5 tahun atau 15 tahun,bagaimana seseorang dibentuk dalam tahun-tahun awal kehidupanya, yang jelas kita membentuk kodrat kita (termasuk aspek-aspek yang lainnya) dalam kehidupan kita. Masa remaja, dewasa, usia setengah baya, atau usia tua, setidak-tidaknya dilihat sebagai saat-saat perluasan atau pengetahuan lebih lanjut dan kepribadian yang sudah terbentuk sebelumnya.
     Jung adalah ahli teori pertama yang tidak menyetujui pendekatan ini dan mengemukakan bahwa kepribadian terus berkembang sepanjang kehidupan seseorang, dan kepribadian itu mengalami perubahan yang menentukan antara usia 35 dan 50 tahun. Pandangan ini akan menhadapi masa transisi (masih dalam fase eksplorasi), dan juga bagi orang-orang yang sekarang berada dalam pergolakan yang hebat karena krisis usia setengah tua.[6]
Jung menggambarkan perkembangan kepribadian dalam empat fase :
1.      Usia anak (childhood),dibagi menjadi tiga tahap :
Tahap anarkis (0 – 6 tahun) Tahap ini ditandai dengan kesadaran yang kacau dan sporadic atau kadang ada kadang tidak. Tahap monarkis (6 – 8 tahun) Tahap ini ditandai dengan perkembangan ego, dan mulainya pikiran verbal dan logika. Pada tahap ini, anak memandang dirinya secara obyektif, sehingga sering secara tidak sadar mereka menganggap dirinya sebagai orang ketiga. Tahap dualistic (8 – 12 tahun) Tahap ini ditandai dengan pembagian ego menjadi 2, obyektif dan subyektif. Pada tahap ini, kesadaran terus berkembang. Anak kini memandang dirinya sebagai orang pertama, dan menyadari eksistensinya sebagai individu yang terpisah.
2.      Usia pemuda ( Youth and Young adult hood)
Tahap muda berlangsung mulai dari puberitas sampai usia pertengahan. Pemuda berjuang untuk mandiri secara fisik dan psikis dari orang tuanya. Tahap ini ditandai oleh meningkatnya kegiatan, matangnya seksual, tumbuh kembangnya kesadaran dan pemahaman bahwa era bebas masalah dari kehidupan anak-anak sudah hilang. Kesulitan utama yang sering dihadapi masalah kecenderungan untuk hidup seperti anak-anak dan menolak menghadapi masalah kekinian yang disebut prinsip konservatif. Kelahiran jiwa terjadi pada awal puberitas, mengikuti terjadinya perubahan-perubahan fisik dan ledakan seksualitas. Tahap ini ditandai oleh perbedaan perlakuan kepada anak-anak menjadi perlakuan kepada orang dewasa dari orang tua mereka. Kepribadian selanjutnya harus dapat memutuskan dan menyesuaikan diri dengan kehidupan social.
3.      Usia pertengahan (middle hood)
Tahap ini dimulai antara usia 35 atau 40 tahun. Periode ini ditandai dengn aktualisasi potensi  yang sangat bervariasi. Pada tahap usia pertengahan, muncul kebutuhan nilai spiritual, yaitu kebutuhan yang selalu menjadi bagian dari jiwa, tetapi pada usia muda dikesampingkan, karena pada usia itu orang lebih tertarik pada nilai materialistic. Usia pertengahan adalah usia realisasi diri.
4.      Usia tua ( old age )
Fase ini merupakan fase terakhir pertumbuhan kepribadian. Jung hanya menulis sedikit tentang usia tua, tetapi dia mengemukakan kesamaan antara tahun-tahun trakhir dan tahun pertama kehidupan. Baik dalam usia tua maupun dalam masa kanak-kanak, ketidak sadaran adalah dominan; sementara kepribadian sama sekali terbenam didalamnya. Orang-orang tua tidak bisa melihat kebelakang. Mereka membutuhkan satu tujuan untuk mengarahkan mereka ke masa depan, terutama dalam kehidupan keagamaan.[7]



[1] MIF Baihaqi,2008.”PSIKOLOGI PERTUMBUHAN’.Bandung: PT REMAJA ROSDAKARI. Hal :14-15


[2] MIF Baihaqi,2008.”PSIKOLOGI PERTUMBUHAN’.Bandung: PT REMAJA ROSDAKARI. Hal :20-22



[3] MIF Baihaqi,2008.”PSIKOLOGI PERTUMBUHAN’.Bandung: PT REMAJA ROSDAKARI. Hal :22



[4] Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian (Bandung: Rosdakarya, 2007), h. 58
[5] MIF Baihaqi,2008.”PSIKOLOGI PERTUMBUHAN’.Bandung: PT REMAJA ROSDAKARI. Hal :34
[6] Suryabrata,Sumadi. 1998. Psikologi Kepribadian . Jakarta: PT. Grafindo Persada

[7] Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian (Bandung: Rosdakarya, 2007), h. 58.




Tidak ada komentar:
Write komentar