Senin, 23 Juni 2014

Studi Analisis atas Teori Kepribadian Manusia Menurut Erik Ericson

Toto Si Mandja - Studi Analisis atas Teori Kepribadian Manusia Menurut Erik Ericson



A.      Biografi Erik Erikson
Erik Homburger Erikson dilahirkan di Frankurt, Jerman pada tanggal 15 juni 1902. Sangat sedikit yang bisa diketahui tentang asal usulnya. Ayahnya adalah seorang laki-laki berkebangsaan Denmark yang tidak dikenal namanya dan tidak mau mengaku Erikson sebagai anaknya sewaktu masih dalam kandungan dan langsung meninggalkan ibunya. Ibunya bernama Karla Abrahamsen yang berkebangsaan Yahudi. Saat Erikson berusia tiga tahun ibunya menikah lagi dengan seorang dokter bernama Theodore Homburger, kemudian mereka pindah kedaerah Karlsruhe di Jerman Selatan. Nama Erik Erikson dipakai pada tahun 1939 sebagai ganti Erik Homburger. Erikson menyebut dirinya sebagai ayah bagi dirinya sendiri, nama Homburger direduksi sebagai nama tengah bukan nama akhir.
Kita tidak bisa melewati biografi kecilnya ini tanpa beberapa komentar tentang dirinya. Perkembangan identitas/diri tampaknya menjadi salah satu perhatian terbesarnya dalam kehidupan Erikson sendiri sama seperti dalam teorinya. Pada waktu kecilnya dan awal remajanya dia adalah seorang Erik Homberger dan orang tuanya menyimpan rahasia tentang kelahirannya. Di sekolah biara, teman-teman sekolahnya menggoda Erik karena dia adalah seorang yahudi. Di sekolah biara, teman-teman sekolahnya menggoda dia karena dia adalah seorang Yahudi. Setelah lulus dari SMA Erik ingin menjadi seorang seniman. Saat dia sedang tidak mengambil kelas seni dia berkeliling Eropa untuk mengunjungi museum dan tidur dibawah jembatan. Dia hidup menjadi seorang yang pemberontak itu sebelum dia menjadi seorang yang “the thing to do”.[1]
Pada saat umur 25 tahun temannya yang bernama Peter Blos seorang seniman yang ada pada akhirnya menjadi seorang psikoanalisis menyarankan Erik untuk melamar menjadi seorang guru disekolah eksperimental untuk murid Amerika yang dipimpin oleh Dorothy Burlingham teman Anna Freud. Selain mengajar seni Erik mendapatkan sertifikat dari pendidikan Montessori dan satu lagi dari perkumpulan psikoanalitik.
Saat mengajar disana, Erik bertemu dengan Joan Serson seorang guru dansa disekolah Kanada. Mereka menikah dan mempunyai tiga orang anak, salah satunya menjadi seorang sosiolog sama seperti dirinya. Pada saat Nazi berkuasa Erikson dan keluarga meninggalkan Vienna, pertama mereka pergi ke Copenhagen lalu ke Boston. Erikson ditawari posisi disekolah Medical Harvard dan membuka praktek psikoanalisis anak secara privat. Pada saat itu Erik bertemu psikolog seperti Henry Muray dan Kurt Lewin dan antropolog seperti Ruth Benedict, Margaret Mead dan Gregory Bateson.
Erik lalu mengajar di Yale dan lalu tinggal di Universitas California di Barkeley. Disinilah Erik melakukan pelajaran tentang kehidupan modern antara Lakota dan Yurok. Saat dia menjadi warga negara Amerika dia secara resmi mengganti namanya menjadi Erik Erikson. Tidak ada yang tahu darimana dia bisa mendapatkan namanya menjadi Erikson.
Erik lalu mengajar di Yale dan lalu tinggal di Universitas California di Barkeley. Di sinilah Erik melakukan pelajaran tentang kehidupan modern antara Lakota dan Yurok. Saat dia menjadi warga negara Amerika dia secara resmi mengganti namanya menjadi Erik Erikson. Tidak ada yang tahu darimana dia bisa mendapatkan namanya menjadi Erikson.[2]
Pada tahun 1950, pada saat pemerintahan Senator Joseph McCarthy melakukan teror Erikson meninggalkan Barkeley pada saat profesor disana meminta dia untuk melakukan “sumpah setia”. Dia menghabiskan 10 tahun dengan bekerja dan mengajar di klinik di Massachussets dan 10 tahun kemudian kembali lagi ke Harvard. Sejak pensiun tahun 1970 dia menulis dan melakukan riset dengan istrinya. Erik Erikson meninggal pada tahun 1994.[3]
B.       Teori Kepribadian Erik Erikson
Erikson memandang jika masa lampau seseorang memiliki makna bagi masa depannya, maka akan terdapat kesinambungan perkembangan yang direfleksikan oleh tahap-tahap perkembangan, masing-masing tahap perkembangan berhubungan dengan tahap-tahap perkembangan lainnya.
1.      Ego kreatif
Erikson memandang ego sebagai kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri secara kreatif dan otonom. Erikson menjelaskan bahwa ego itu mempunyai kreativitas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tidak hanya ditentukan oleh faktor internal yang berasal dari dalam diri individu, tetapi juga ditentukan oleh faktor sosial dan budaya tempat individu itu berada.
Erikson menggambarkan adanya sejumlah kualitas yang dimiliki ego, yang tidak ada pada psikoanalisis Freud, kepercayaan dan penghargaan, otonomi dan kemauan, kerajinan dan kompetensi, identitas dan kesetiaan, keakraban dan cinta, generativitas dan pemelihara serta integritas. Ego semacam itu disebut ego-kreatif, ego yang dapat menemukan pemecahan kreatif atas masalah pada setiap tahap kehidupan. Apabila menemui hambatan atau konflik, ego tidak menyerah tetapi bereaksi dengan menggunakan kombinasi antara kesiapan batin dan kesempatan yang disediakan oleh lingkungan. Ego bukan budak tetapi justru menjadi pengatur id, superego, dan dunia luar. Jadi, ego disamping hasil proses faktor-faktor genetik, fisiologik, dan anatomis juga dibentuk oleh konteks kultural dan historis.[4]
2.      Ego Otonomi Fungsional
Teori ego dari Erikson yang dapat dipandang sebagai pengembangan dari teori perkembangan seksual-infantil dari Freud, mendapat pengakuan yang luas sebagai teori yang khas berkat pandangannya bahwa perkembangan kepribadian mengikuti prinsip epigenetic. Menurut Erikson fungsi psikoseksual dari Freud yang bersifat biologis juga bersifat epigenesist, artinya psikoseksual untuk berkembang membutuhkan stimulusi khusus dari lingkungan, dalam hal ini yang terpenting adalah lingkungan sosial.
Sama seperti Freud, Erikson menganggap hubungan ibu anak menjadi bagian penting dari perkembangan kepribadian. Tetapi Erikson tidak membatasi teori hubungan id-ego dalam bentuk usaha memuaskan kebutuhan id oleh ego. Menurutnya situasi memberi makan merupakan model interaksi sosial antara bayi dengan dunia luar. Lapar jelas manifestasi biologis tetapi konsekuensi dari pemuasan id (oleh ibu) itu akan menimbulkan kesan bagi bayi tentang dunia luar. Dari pengalaman makannya bayi belajar untuk mengantisipasi interaksinya dalam bentuk kepercayaan dasar (basic trust), yakni mereka memandang kontak mata dengan manusia sangat menyenangkan karena pada masa lalu hubungan semacam itu menimbulkan rasa aman dan menyenangkan sebaliknya tanpa basic trust bayi akan mengantisipasi interaksi interpersonal dengan kecemasan karena masa lalu hubungan ddengan interpersonalnya menimbulkan frustasi dan rasa sakit.[5]
Ciri khas psikologi Ego dari Erikson dapat diringkas sebagai berikut.
a.       Erikson menekankan kesadaran individu untuk menyesuaikan diri dengan pengaruh sosial. Pusat perhatian psikologi ego adalah kematangan ego yang sehat, alih-alih konflik salah suai yang neurotik.
b.      Erikson berusaha mengembangkan teori insting dari Freud dengan menambahkan konsep epigenetik kepribadian.
c.       Erikson secara ekspilit mengemukakan bahwa motif mungkin berasal dari implus id yang tak sadar, namun motif itu bisa membebaskan diri dari id seperti individu meninggalkan pesan sosial dimasa lalunya. Fungsi ego dalam pemecahan masalah, persepsi, identitas ego, dan dasar kepercayaan bebas dari id, membangun sistem kerja sendiri yang terlepas dari sistem kerja id.
d.      Erikson menganggap ego sebagai sumber kesadaran diri seseorang. Selama menyesuaikan diri dengan realita, ego mengembangkan perasaan berkelanjutan diri dengan masa lalu yang akan datang.[6]
3.      Aspek psikoseksual
Teori perkembangan dari Erikson melengkapi dan menyempurnakan teori Freud dalam dua hal, pertama melengkapi tahapan perkembangan menjadi delapan tahap yakni tahap bayi (infancy), anak (early childhood), bermain (play-age), sekolah (school age), remaja (adolescence), dewasa awal (young adulthood), dewasa madya (middle adulthood), dan usia tua (late adulthood). Erikson mengakui adanya aspek psikoseksual dalam perkembangan yang menurutnya bisa berkembang positif (aktualisasi seksual yang dapat diterima) atau negatif (aktualisasi ekspresi seksual yang tidak dikhendaki). Dia memusatkan perhatiannya kepada mendiskripsikan bagaimana kapasitas kemanusiaan mengatasi aspek seksual psikoseksual itu; bagaimana mengembangkan insting seksual menjadi positif.[7]
Enam pokok pikiran yang dapat dipakai untuk memahami teori perkembangan psikoseksual Erikson:
a.       Prinsip epigenetik: perkembangan kepribadian mengikuti prinsip epigenetik.
b.      Interaksi bertentangan: konflik antara positif dan negatif itu tetap akan ada sepanjang hayat, justru konflik itu yang membuat kepribadian menjadi hidup.
c.       Kekuatan ego: konflik psikoseksual disetiap tahap hasilnya akan mempengaruhi atau mengembangkan ego.
d.      Aspek somatis: walaupun Erikson membagi tahapan perkembangan kepribadian berdasarkan perkembangan psikoseksual dia tidak melupakan aspek somatis/biologikal dari perkembangan manusia.
e.       Konflik dan pristiwa pancaragam ()multipcility of conflict and event): peristiwa pada awal perkembangan tidak berdampak langsung pada perkembangan kepribadian selanjutnya. Identitas ego dibentuk oleh konflik dan peristiwa masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
f.       Di setiap tahap perkembangan, khususnya dari masa adolesen dan sesudahnya, perkembangan kepribadian ditandai oleh krisis identitas (identity crisis) yang dinamakan Erikson “titik balik, periode peningkatan bahaya dan memuncaknya potensi.” Selama masa krisis banyak terjadi perubahan penting identitas ego, bisa positif atau negatif.
C.      Tahap-Tahap Perkembangan
Basic Trust vs Bsic Mistrust (Kepercayaan Dasar Vs Kecurigaan Dasar) 0-1tahun
Menurut Erikson usia ini merupakan masa secara psikososial amat fundamental bagi tahap perkembangan selanjutnya.[8] Krisis ego yang pertama oleh Erikson disebut sebagai “Rasa Percaya versus Rasa tidak percaya (Trust versus Mistrust).” Dalam tahap ini (yang kurang lebih sama dengan tahap oral yang Freud ajukan), anak (bayi) berusaha keras untuk mendapatkan pengasuhan, kehangatan, dan ekskresi yang menyenangkan. Jika ibu berhasil memenuhi kebutuhan anaknya, sang anak akan mengembangkan kemampuan untuk dapat mempercayai dan mengembangkan asa. Akan tetapi, gangguan pada tahapan ini dapat membuat sang anak mengembangkan rasa tidak percaya dan merasa terabaikan. Anak yang memiliki ibu yang tidak tanggap dalam merespons tangisan kelaparannya atau jarang menggendongnya, biasanya mengalami perasaan tidak aman dan selalu merasa curiga terhadap lingkungannya-perasaan bahwa dunia tidak dapat dipercaya. Jika krisis ego tidak pernah terselesaikan, individu tersebut akan mengalami kesulitan dalam membentuk rasa percaya dengan orang lain sepanjang hidupnya selalu meyakinkan dirinya bahwa orang lain berusaha mengambil keuntungan dari dirinya atau merasa bahwa teman-temannya tidak dapat dipercaya untuk menjaga rahasia.
Pada dasarnya setiap manusia pada tahap ini tidak dapat menghindari rasa kepuasan namun juga rasa ketidakpuasan yang dapat menumbuhkan kepercayaan dan ketidakpercayaan. Akan tetapi, hal inilah yang akan menjadi dasar kemampuan seseorang pada akhirnya untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik. Di mana setiap individu perlu mengetahui dan membedakan kapan harus percaya dan kapan harus tidak percaya dalam menghadapi berbagai tantangan maupun rintangan yang menghadang pada perputaran roda kehidupan manusia tiap saat.


Autonomy vs Shame & Doubt (Otonomi Vs Perasaan Malu  dan Keragun-raguan) 2-3tahun
            Krisis ego yang kedua disebut sebagai “Otonom versus Rasa Malu dan Ragu (Autonomy versus Shame and Doubt).” Dalam tahap ini (kurang lebih berhubungan dengan tahap anal yang Freud ajukan), anak akan belajar bahwa dirinya memiliki kontrol atas tubuhnya. Orang tua hendaknya meberi kepercayaan serta membimbing anak karena jika anak salah mengambil jalan maka akan timbul perasaan bersalah sehingga dia tidak akan percaya dan jadi ragu pada kemampuan dirinya. Sehingga ia kan tumbuh jadi orang yang pemalu dan kurang percaya diri.
Ritualisasi yang dialami oleh anak pada tahap ini yaitu dengan adanya sifat bijaksana dan legalisme. Melalui tahap ini anak sudah dapat mengembangkan pemahamannya untuk dapat menilai mana yang salah dan mana yang benar dari setiap gerak atau perilaku orang lain yang disebut sebagai sifat bijaksana. Sedangkan, apabila dalam pola pengasuhan terdapat penyimpangan maka anak akan memiliki sikap legalisme yakni merasa puas apabila orang lain dapat dikalahkan dan dirinya berada pada pihak yang menang sehingga anak akan merasa tidak malu dan ragu-ragu [9]
Initiative vs Guilt (Inisiatif  Vs Kesalahan) 3-6 tahun
Erikson menyebut tahap ketiga ini (yang berhubungan dengan tahap phallic dari teori Freud) sebagai “Inisiatif versus bersalah (initiativ versus Guilt).” Anak yang berhasil melewati tahap ini akan tahu bahwa ia merupakan individu indivenden dan mandiri, tetapi hanya sekadar itu. Pada periode inilah anak belajar bagaimana merencanakan dan melaksanakan tindakannya. Selain itu, dalam tahap ini anak juga belajar bagaimana bersosialisasi dengan teman sebayanya. Resolusi yang tidak berhasil dari tahapan ini akan membuat sang anak takut untuk mengejar mimpi-mimpi dan kemungkinan-kemjungkinan yang ia bayangkan. Jika perasaan semacam ini tidak dihilangkan sang anak tidak akan dapat mengambil inisiatif atau membuat keputusan, memiliki rasa percaya diri yang rendah dan tidak mau mengembangkan harapan-harapan ketika ia dewasa. Penelitian mengenai hal ini menegaskan bahwa anak yang berasal dari keluarga yang disfungsional (mengalami gangguan ) nantinya akan memiliki masalah harga diri.
Ketidakpedulian (ruthlessness) merupakan hasil dari maladaptif yang keliru, hal ini terjadi saat anak memiliki sikap inisiatif yang berlebihan namun juga terlalu minim. Orang yang memiliki sikap inisiatif sangat pandai mengelolanya, yaitu apabila mereka mempunyai suatu rencana baik itu mengenai sekolah, cinta, atau karir mereka tidak peduli terhadap pendapat orang lain dan jika ada yang menghalangi rencananya apa dan siapa pun yang harus dilewati dan disingkirkan demi mencapai tujuannya itu. Akan tetapi bila anak saat berada pada periode mengalami pola asuh yang salah yang menyebabkan anak selalu merasa bersalah akan mengalami malignansi yaitu akan sering berdiam diri (inhibition). Berdiam diri merupakan suatu sifat yang tidak memperlihatkan suatu usaha untuk mencoba melakukan apa-apa, sehingga dengan berbuat seperti itu mereka akan merasa terhindar dari suatu kesalahan.
Industry vs Inferiority (Kerajinan Vs Inferioritas) -6-11tahun
Tahapan keempat oleh Erikson disebut “Produktif versus Inferioritas”. Pada saat ini anak-anak belajar untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan dari menyelesaikan tugas khususnya tugas-tugas akademis. Penyelesaian yang sukses pada tahapan ini akan menciptakan anak yang dapat memecahakan masalah dan bangga akan prestasi yang ia peroleh. Anak seperti itu adalah anak yang kompeten. Disisi lain, anak yang tidak mampu melewati tahap ini dengan baik akan merasa inferior, seolah-olah ia tidak mampu untuk menemukan solusi positif dan tidak mampu mencapai apa yang diraih oleh teman-teman sebayanya.
Tingkatan ini menunjukkan adanya pengembangan anak terhadap rencana yang pada awalnya hanya sebuah fantasi semata, namun berkembang seiring bertambahnya usia bahwa rencana yang ada harus dapat diwujudkan yaitu untuk dapat berhasil dalam belajar. Anak pada usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil, apakah itu di sekolah atau ditempat bermain. Melalui tuntutan tersebut anak dapat mengembangkan suatu sikap rajin. Berbeda kalau anak tidak dapat meraih sukses karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas), sehingga anak juga dapat mengembangkan sikap rendah diri. Oleh sebab itu, peranan orang tua maupun guru sangatlah penting untuk memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak pada usia seperti ini.
Identity vs Role Confusion (Identitas Vs Kekacauan Identitas) – mulai 12 th
pada tahap ini remaja bereksperimen dengan berbagai macam peran yang berbeda sambil mencoba mengintegrasikannya dengan identitas yang ia dapatkan dari tahapan-tahapan sebelumnya.  Sebagai contoh, seorang anak secara sekaligus juga merupakan anak orang tuanya, seorang pelajar, teman dan mungkin juga seorang saudara. Penyelesaian yang sukses pada tahapan ini akan menciptakan anak yang memiliki perasaan akan diri yang jelas dan multifaset seseorang yang telah berhasil menyatukan banyak peran menjadi “identitas” tunggal dirinya. Erikson mellihat bahwa keadaan memalukan dari masa remaja dapat menyebabkan adanya kebingungan identitas ketidakpastian mengenai kemampuan, asosiasi, dan tujuan masa depan individu. Ia menyebut kebingungan ini sebagai krisis identitas (identity crisis). Kegagalan penyelesaian krisis ego ini akan menciptakan individu yang terus menerus memiliki krisis identitas seseorang yang tidak yakin siapa dirinya dan yang selalu berusaha keras untuk mencari tahu siapa dirinya.
Intimacy vs Isolation (Keintiman Vs Isolasi)
Dalam tahap ini para orang dewasa muda mempelajari caraa berinteraksi dengan orang lain secara lebih mendalam. Mereka memperbolehkan orang lain untuk mengenal “diri” mereka dalam cara yang intim. Tujuan tahap ini adalah mencari hubungan dengan sesama yang memiliki banyak kesamaan, khususnya untuk membentuk hubungan asmara dengan pasangan.
Generativity vs Self-absorbtion (Generativitas Vs Stagnasi)
Pada tahapan inilah individu mulai menyerahkan dirinya pada orang lain. Terkadang dalam bentuk seperti membesarkan dan mengasuh anak, namun juga dapat berbentuk beberapa kegiatan lain, seperti kegiatan sosial. Idenya adalah memberikan sesuatu pada dunia sebagai balasan dari apa yang telah dunia berikan untuk dirinya juga melakukan sesuatu yang dapat memastikan kelangsungan generasi penerus dimasa depan.
Ego Integrity vs  Despair (Integritas Vs Keputusasaan)
Pada tahap usia lanjut ini individu memperoleh kebijaksanaan dari pengalaman-pengalaman hidupnya dan mereka juga dapat mengingat kembali masa lalu dan melihat makna, ketentraman, dan integritas. Refleksi ke masa lalu itu terus menyenangkan dan pencarian saat ini adalah untuk mengintegrasikan tujuan hidup yang telah dikejar selama bertahun-tahun. Kegagalan dalam melewati tahapan ini akan menyebabkan munculnya ras putus asa.[10]
D.      Menyelesaikan Krisis Ego
Penting untuk diingat bahwa Erikson menekankan keseimbangan sebagai hasil yang optimal untuk setiap krisis ego; karakteristik dari teorinya sering kali terlalu disederhanakan dan disalahartikan. Pada tahapan pertama, tujuannya adalah agar anak mengembangkan rasa percaya, walaupun juga tidak baik jika seorang anak menjadi terlalu naif dan mudah tertipu. Penekanan yang berlebihan pada kepercayaan ataupun penekanan yang berlebihan pada ketidakpercayaan dapat menyebabkan permasalahan yang sama buruknya. Individu yang berada pada tahap ini harus belajar memiliki rasa percaya, namun individu harus tetap mengembangkan dan mempertahankan kemampuan untuk bersikap skeptis dan membela diri. Hal yang sama berlaku disetiap tahap. Pada setiap tahap, salah satu fitur harus lebih unggul walaupun kedewasaan yang sebenarnya mencakup keduanya.
Erikson tidak hanya memfokuskan perhatiannya pada rentang hidup, namun ia juga menekankan pentingnya masyarakat. Ia mempelajari kebudayaan, sejarah, dan antropologi, dan ia membuat profil orang-orang terkenal seperti Martin Luther dan Mahatma Gandhi. Pendekatan rentang hidup yang dikemukakan oleh Erikson yang memiliki sisi positif dan negatif lebih realistis jika dilihat dari sudut pandang pertumbuhan manusia normal (dibandingkan dengan hanya berfokus pada permasalah-permasalahan manusia).[11]
E.       Analisis terhadap Teori Kepribadian menurut Erik Erikson
Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erik Erikson merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Hal ini dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga lanjut usia. Selain itu, teori Erikson juga membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya yang dianggap lebih realistis.
Bagi Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil  interaksi  antara  kebutuhan  dasar  biologis  dan  pengungkapannya  sebagai tindakan-tindakan sosial. Hal ini berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme. Sehingga seseorang tersebut menjadi matang secara fisik dan psikologi. Masyarakat yang berbeda dengan perbedaan kebiasaan cara mengasuh anak, cenderung membentuk kepribadian yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai budayanya.
Kemampuan bawaan penting dalam perkembangan kepribadian, namun ego muncul karena dibentuk oleh masyarakat. Bagi Erickson , pada waktu manusia lahir ego hadir hanya sebagai  potensi namun untuk menjadi aktual dia harus hadir dalam lingkungan kultural. Tahap perkembangan yang satu terbentuk dan dikembangkan di atas perkembangan sebelumnya (tetapi tidak mengganti perkembangan tahap sebelumnya itu).
Pada dasarnya kedua teori Psikoanalisa yang diungkapakan oleh Freud dan Erikson tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama mengklasifikasikan fase-fase Psikologi seorang individu berdasarkan usia sejak saat dilahirkan hingga meninggal nantinya. Hanya saja, Freud berpendapat bahwa dari semua fase Psikologis yang dialami manusia merupakan murni karena dorongan/keinginan yang luar biasa dari dalam (internal) individu tersebut baik secara sadar maupun tidak sadar (bawah sadar). Kemudian seperti yang kita ketahui, Erik Erikson berusaha menyempurnakan teori Psikoanalisa yang telah dikemukakan Freud dengan menambahkan bahwa selain keinginan/ dorongan dari dalam diri si individu fase-fase psikologis tersebut ternyata juga dipengaruhi oleh faktor-faktor luar (eksternal), seperti adat, budaya dan lingkungan tempat si individu dan kepribadian dibangun melalui serangkaian krisis-krisis dan alternatif-alternatif. Berdasar argumentasi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya (interdependence).
Pada dasarnya pusat dari perumusan konsep Erikson meliputi beberapa bagian yang dianggap memiliki aspek penting seiring berjalannya roda dalam kehidupan manusia yaitu : Identitas ego yang menurut Erikson berarti bahwa perkembangan setiap individu adalah di dalam kerangka lingkungan dan budaya di mana setiap individu dapat menemukan dirinya yang sebenarnya. Langkah-langkah guna mengembangkan psikososial yang epigenetik. Pada awalnya teori Erikson bermula dari teori Freud mengenai psikoseksual namun kemudian dikembangkan oleh Erikson ke luar dari pendapat tersebut dengan mempertimbangkan perkembangan ego dalam konteks psikososial.
Hal lain yang menurut Erikson penting bahwa apabila kecenderungan dari segi positif yang diinginkan tidak dapat dicapai dalam tahap sebelumnya, maka pada tahap-tahap sesudahnya semua itu dapat terulang kembali untuk dapat diraih dan dikembangkan.
Setelah mempelajari teori perkembangan kepribadian Erikson ada hal positif dan negatif yang muncul mengenai Teori Psikososial dari Erik Erikson yaitu bahwa pencetus ide dalam teori ini, dalam hal ini Erikson setidak-tidaknya berhasil memberi arah perkembangan kepribadian yaitu guna pencapaian identitas ego berikut pematangannya. Dan hal ini diterangkan maupun dipaparkan oleh Erikson secara baik dan lengkap melalui delapan tahap yang ada. Sedangkan dari sisi negatifnya bahwa Erikson menetapkan hubungan antar tahap agak mengikat, seolah-olah tahap sebelumnya begitu menentukan secara langsung kwalitas dan kwantitas pada tahap berikutnya.
Erik Erikson berusaha menyempurnakan teori Psikoanalisa yang telah dikemukakan oleh Freud dengan menambahkan bahwa selain keinginan/ dorongan dari dalam diri si individu, fase-fase psikologis tersebut ternyata juga dipengaruhi oleh faktor-faktor luar (eksternal), seperti adat, budaya dan lingkungan tempat tinggal si individu dan kepribadian dibangun melalui serangkaian krisis-krisis dan alternatif-alternatif.



[1]Syamsu Yusup & Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), h 97.

[2]Ibid, h. 98.
[3]Ibid, h.99.
[4]Ibid, h. 115.
[5]Ibid, h. 116.
[6]Ibid, h.117.
[7]Ibid, h.117
[8]Ibid, h.118.
[9]Op,Cit, h. 119.
[10]Howard S Friedman, Kepribadian teori klasik dan riset Modern, (Jakarta: Erlangga, 2006), 157-160.
[11]Ibid, h. 162.

Tidak ada komentar:
Write komentar