Kamis, 12 Juni 2014

Makalah Psikologi Agama Tentang Konversi Agama

Toto Si Mandja - Makalah Psikologi Agama Tentang Konversi Agama



A.    Pengertian Konversi Agama
Konversi berasal dari kata conversio yang berarti, tobat, pindah, berubah. Sehingga convertion berarti berubah dari keadaan atau dari suatu agama keagama lain. Konversi agama adalah istilah yang pada umumnya diberikan untuk proses yang menjurus kepada penerimaan suatu sikap keagamaan; proses itu bisa terjadi secara berangsur-angsur atau secara tiba-tiba.[1]
Tidak terdapat pengertian yang sama dikalangan para ahli psikologi tentang konversi. Max Henrich mengetakan bahwa konversi agama adalah suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah pada suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.[2]
Walter Houston Clark dalam bukunya “The Psychology of Religion” memberikan pengertian konversi agama sebagai berikut. Konversi agama sebagai suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti dalam sikap terhadap ajaran dan tindakan agama. Lebih jelas dan lebih tegas lagi, konversi agama menunjukkan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba kearah mendapat hidayah Allah secara mendadak, telah terjadi yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal. Dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.[3]
Konversi agama banyak menyangkut masalah kejiwaan dan pengaruh lingkungan tempat berada. Selain itu, konversi agama yang dimaksudkan uraian diatas memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.
2.      Perubahan yang terjadi dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan sehingga perubahan dapat terjadi secara berproses atau secara mendadak.
3.      Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama keagama lain, tetapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang ianutnya sendiri.
4.      Selain faktor kejiwaan dan konisi lingkungan maka perubahan itupun disebabkan faktor petunjuk dari yang Mahakuasa.
B.     Proses Konversi Agama
Konversi agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar. Proses konversi agama ini dapat diumpamakan seperti proses pemugaran gedung, bangunan lama dibongkar dan pada tempat yang sama didirikan bangunan baru yang lain sama sekali dari bangunan sebelumnya.
Demikian seseorang atau kelompok yang mengalami proses konversi agama ini. Segala bentuk kehidupan batinnya yang semula mempunyai pola tersendiri berdasarkan pandangan hidup yang dianutnya (agama), maka setelah terjadi konversi agama pada dirinya secara spontan pula lama ditinggalkan sama sekali. Segala bentuk perasaan batin terhadap kepercayaan lama, seperti : harapan, rasa bahagia, keselamatan, dan kemantapan berubah menjadi berlawanan arah. Timbullah gejala-gejala baru berupa perasaan serba tidak lengkap dan tidak sempurna. Gejala ini menimbulkan proses kejiwaan dalam bentuk merenung, timbulnya tekanan batin, penyesalan diri, rasa berdosa, cemas terhadap masa depan dan perasaan susah yang ditimbulkan oleh kebimbangan.
Perasaan yang berlawanan itu menimbulkan rasa bertentangan dalam batin, sehingga untuk mengatasi kesulitan tersebut harus dicari jalan penyalurannya. Umumnya apabila gejala tersebut sudah dialami oleh seseorang atau kelompok maka dirinya menjadi lemah dan pasrah ataupun timbul semacam peledakan perasaan untuk menghindarkan iri dari pertentangan batin itu. Ketenangan batin akan terjadi dengan sendirinya bila yang bersangkutan telah mampu memilih pandangan hidup yang baru. Pandangan hidup yang dipilih tersebut merupakan petaruh bagi masa depannya, sehingga ia merupakan pegangan baru alam kehidupan selanjutnya.
Sebagai hasil dari pemilihannya terhadap pandangan hidup itu maka bersedia dan mampu untuk membaktikan diri kepada tuntutan-tuntutan dari peraturan ada dalam pandangan hidup yang dipilihnya itu berupa ikut berpartisipasi secara penuh. Makin kuat keyakinan terhadap kebenaran pandangan hidup itu akan semakin tinggi pula nilai bakti yang diberikannya.[4]
Proses yang dilalui oleh orang-orang yang mengalami konversi, berbeda antara satu dengan yang lainnya. Berlainan sebab yang mendorongnya dan bermacam pula tingkatannya, ada yang dangkal sekedar untuk dirinya saja dan dan ada pula yang mendalam. Disertai engan kegiatan agama yang sangat menonjol sampai kepada perjuangan mati-matian, ada yang tejadi dalam sekejap mata dan ada pula yang berangsur-angsur. Namun dapat dikatakan bahwa tiap-tiap konversi agama itu melalui proses-proses jiwa sebagai berikut :
1.      Masa tenang pertama, masa tenang sebelum menglami konversi, dimana segala sikap tingkah laku dan sifat-sifatnya acuh tak acuh menentang agama.
2.      Masa ketidaktenangan, konflik dan pertentangan batin berkecamuk dalam hatinya, gelisah, putus asa, tegang, panik dan sebagainya. Baik disebabkan oleh moralnya, kekecewaan atau oleh apapun juga. Pada masa tegang, gelisah dan konflik jiwa yang berat itu, biasanya orang mudah perasa, cepat tersinggung dan hampir-hampir putus asa dalam hidupnya dan mudah kena sugesti.
3.      Peristiwa konversi itu sendiri setelah masa goncang itu mencapai puncaknya, maka terjadilah masa konversi itu sendiri. Orang merasa tiba-tiba mendapat petunjuk Tuhan, mendapat kekuatan dan semangan. Hidup yang tadinya seperti dilamun ombak atau diporak porandakan oleh badai  taufan persoalan, jalan yang ditempuh penuh onak dan duri, tiba-tiba angin baru berhembus, hidup berubah menjadi tenang, segala persoalan hilang mendadak. Berganti dengan rasa istirahat (relax) dan menyerah. Menyerah dengan tenang kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Pengasih dan penyayang. Mengampuni segala dosa dan melindungi manusia dengan kekuasaan-Nya.
4.      Keadaan tentram dan tenang, setelah krisis konversi lewat dan masa menyerah dilalui, maka timbullah perasaan atau kondisi jiwa yang baru. Rasa aman , damai dihati, tiada lagi dosa yang tidak diampuni Tuhan, tiada kesalahan yang patut disesali, semuanya telah lewat, segala persoalan menjadi enteng dan terselesaikan. Hati legah an tiaa lagi yang menggelisahkan, kecemasan an kekhawatiran berubah nenjadi harapan yang menggembirakan, tenang, luas, dada menjadi lapang, sikap penuh kessabaran yang menyenangkan. Dia menjadi pemaaf dan dengan mudah baginya mencari jalan untuk memaafkan kesalahan orang.
5.      Ekspresi konversi dalam hidup, tingkat terakhir dari konversi itu adalah pengungkapan konversi agama dalam tindak tanduk kelakuan, sikap dan perkataan, dan seluruh jalan hidupnya berubah mengikuti aturan-aturan yang diajarkan oleh agama. Maka konversi yang dialami dengan tindak dan ungkapan-ungkapan kongkrit dalam kehidupan sehari-hari itulah yang akan membawa tetap dan mantapnya perubahan keyakinan tersebut.[5]
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikendaki- Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS. Al-Qasas:56)

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Al An’am: 125)
Ayat-ayat Al-Qur’an diatas dapat diambil kesimpulan bahwa bagaimanapun usaha orang untuk mempengaruhi seseorang untuk mengikuti keyakinannya, tanpa ada kehendak dari Allah SWT tidak akan bisa. Manusia diperintah oleh Allah SWT untuk berusaha, namun jangan sampai melawankehendak Allah SWT dengan segala pemaksaan.
Contoh 1: Konversi Agama Secara Tiba-Tiba
St. Paulus sebagaiman dilukiskan dalam Kitab Kisah Perbuatan Rasul-Rasul 9. Perlu diingat bahwa Saul (yang kemudian dikenal dengan St. Paulus), seorang Yahudi Ortodoks dan fanatik, aktif melakukan pembantaian oang-orang Kristen. Dia pergi dari Jerusalem menuju Damaskus mengemban tugas dari pemimpin Yahudi pada waktu itu. Dan dalam perjalanan dia melihat secercah cahaya terang dan mendengar suara, yang jelas dari Jesus Kristus, yang mempersalahkannya karena melakukan tindakan kejam dan menyuruhnya pergi ke Damaskus dimana dia akan diberitahu tentang apa yang harus diperbuatnya. Kemudian dia mendapatkan bahwa dirinya sudah buta hingga beberapa hari kemudian datang seorang laki-laki bernama Ananias membimbing tangannya sambil memberitahu bahwa dia akan mengembalikan penglihatannya dan akan diisi denga Ruh Kudus. Kemudian ketika Saul sembuh dari penyakit butanya dan setelah menjalani pembaptisan, dia mulai berkhutbah di sinagog-sinagog bahwa Jesus adalah anak Tuhan.[6]
Contoh 2: Konversi Agama Secara Berangsur-Angsur
Seorang pedagang kaya berasal dari satu daerah yag terkenal kuat agamanya dan adat kebiasaannya. Si pedagang ini seringkali bepergian ke daerah lain dan ke luar negeri untuk urusan dagang. Apabila dia berada di daerahnya, dia berlaku pura-pura alim, ikut ke Masjid dan pura-pura tekun menjalankan ibadah. Akan tetapi, apabila berada diluar daerahnya, dia berbuat apa saja yang dia sukai, seperti minum-minuman keras, berjudi, main perempuan dan sebagainya. Isterinya tinggal di daerahnya. Hidup yang seperti itu berlarut-larut dan semakin jauh dari agama. Isteri dan anak-anaknya mengetahui hal tersebut, tapi ia tetap berpura-pura ketika berada ditengah-tengah mereka, bahkan kalau kebetulan pada bulan puasa ia berada di daerahnya, setiap sore menjelang maghrib, dia berjalan kaki membawa kelapa muda. Apa isi kelapa muda tersebut? Tidak ada orang yang tahu, hanya dia sendiri yang tahu, isinyatelah diganti dengan minuman keras.
Pada suatu ketika, dalam asyik-asyiknya berfoya-foya dengan wanita yang tidak baik, waktu mengendarai mobilnya dan terbalik dan ia luka parah, diangkut kerumah sakit. Setelah ia sadar dan mengalami perawatan beberapa hari di rumash sakit, tahulah bahwa tangannya patah dan mukanya cacad. Betapa sedih hatinya, mengingat dirinya akan cacad, padahal dia seorang yang sangat memperhatikan dan merawat tubuhnya, agar tampak menarik kepada wanita-wanita, memang rupa dan tampangnya baik. Semangatnya untuk hidup sudah hilang. Untuk kembali minta ampun kepada Tuhan, ia takut, jangan-jangan Tuhan tidak sudi mengampuninya, sehingga ia merasa sedih dan putus asa.
Proses konversi menurut M.T.L. Penido mengandung dua unsur, yaitu:
1.      Unsur Dari Dalam
Yang dimaksud dengan proses dari dalam adalah proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok. Konversi yang terjadi dalam batin ini membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu transformasi disebabkan oleh krisis yang terjadi dan keputusan yang diambil seseorang berdasarkan pertimbangan pribadi. Proses ini terjadi menurut gejala psikologis yang beraksi dalam bentuk hancurnya struktur psikologis yang lama dan seiring dengan proses tersebut muncul pula struktur psikologis baru yang dipilih.
2.      Unsur Dari Luar
Yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri atau kelompok sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau kelompok yang bersangkutan. Kekuatan yang datang dari luar kemudian menekan pengaruhnya terhadap kesadaran mungkin berupa tekanan batin, sehingga memerlukan penyelesaian oleh dirinya.[7]
Kedua unsur tersebut kemudian mempengaruhi kehidupan batin untuk aktif berperan memilih penyelesaian yang mampu memberikan ketenangan batin kepada yang bersangkutan.[8]
H. Carrier, membagi proses konversi tersebut dalam pentahapan sebagai berikut :
1.      Terjadi disintegrasi sintesis kognitif dan motivasi sebagai akibat dari krisis yang dialami.
2.      Reintegrasi kepribadian berdasarkan konversi agama yang baru. Dengan aanya reintegrasi ini maka terciptalah kepribadian yang berlawanan engan stuktur lama.
3.      Tumbuh sikap menerima konsepsi agama baru serta peranan yang dituntut oleh ajarannya.
4.      Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.
C.    Faktor dan Model Konversi Agama
Faktor yang mendukung terjadinya konversi adalah petunjuk Ilahi (mendapat hidayah dari Allah). Namun demikian terasa sulit untuk membuktikan secara empiris tentang faktor ini, walau kita mempercayai bahwa petunjuk Ilahi memegang peranan penting dalam perubahan perilaku keagamaan seseorang. Oleh karena itu, perlu ditelusuri faktor-faktor lain, baik itu dilihat dari latar belakang sosiologis, faktor kejiwaan maupun pendidikan yang didapatkan.
Sedangkan para ahli sosiologi berpendapat bahwa terjadinya konversi agama disebabkan oleh pengaruh sosial. Dijelaskan oleh Carlk, pengaruh-pengaruh tersebut antara lain :
1.      Hubungan antarpribadi, baik pergaulan yang bersifat keagamaan maupun yang bersifat nonagama.
2.      Kebiasaan yang rutin. Sebagai contoh adalah menghadiri acara keagamaan atau pertemuan-pertemuan yang bersifat kegamaan, baik pada lembaga formal maupun nonformal.
3.      Anjuran atau propagana dari orang-orang yang dekat seperti keluarga, sahabat karib dan sebagainya.
4.      Pengaruh pemimpin agama.
5.      Pengaruh perkumpulan berdasarkan hobi.
6.      Pengaruh kekuasaan pemimpin.[9]
Dalam redaksi yang hampir senada, Zakiah Daradjat mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi konversi agama, sebagai berikut :
1.      Pertentangan batin (konflik jiwa) an ketegangan perasaan.
2.      Pengaruh dari tradisi agama.
3.      Ajakan (seruan) atau sugesti.
4.      Faktor-faktor emosi.
5.      Kemauan.[10]
Pada bagian lain, para ahli psikologi menyebutkan faktor psikologis yang menyebabkan terjadinya konversi. Sebagai contoh adalah adanya tekanan batin, maka akan mendorong seseorang untuk mencari jalan keluar, yaitu ketenangan batin, atau jiwa yang kosong dan tidak berdaya kemudian mencari perlindungan pada kekuatan lain yang mampu memberikan kehidupan jiwa yang yang tenang dan tentram. Dengan emikian terjadinya konversi tidak hanya didorong oleh faktor luar saja, tetapi juga disebabkan oleh faktor intern.
Yang dapat dikategorikan sebagai faktor intern antara lain:
1.      Kepribadian
Secara psikologis tipe kepribadian tertentu akan memp[engaruhi kehidupan jiwa seseorang. Dalam penelitian Willian James ditemukan bahwa tipe melankolis yang memiliki kerentanagn perasaan lebih menalam dapat menyebabkan terjadinya konversi dalam dirinya.
2.      Pembawaan
Menurut penelitian Guy E. Swanson ditemukan semacam kecenderungan urutan kelahiran yang mempengaruhi konversi agama. Anak sulung an anak bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin. Sementara anak yang dilahirkan pada urutan tengah atau antara sulung dan bungsu sering mengalami stres jiwa.
Sedangkan yang termasuk dalam faktor ekstern antara lain:
1.      Faktor Keluarga
Diantara yang termasuk dalam faktor ini adalah
a.       Keretakan keluarga
b.      Ketidakserasian
c.       Berlainan agama
d.      Kesepian
e.       Kesulitan seksual
f.       Kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat dan sebagainya.
Kondisi demikian menyebabkan batin seseorang akan mengalami tekanan batin sehingga sering terjadi konversi agama dalam usahanya untuk meredakan tekanan batin yang menimpa dirinya.
2.      Faktor Lingkungan Tempat Tinggal
Yang termasuk dalam faktor ini adalah keterasingan dari tempat tinggal atau terasingkan dari tempat tinggal atau tersingkir ari kehidupan disuatu tempet yang menyebabkan seseorang mendambakan ketenangan dan mencari tempat untuk bergantung guna menenangkan jiwanya. Dengan demikian kegelisahan yang menggelayutinya akan hilang.
3.      Perubahan Status
Perubahan status yang dimaksu bisa disebabkan oleh berbagaimacam persoalan, seperti perceraian, keluar dari sekolah atau perkumpulan, perubahan pekerjaan, kawin dengan orang yang berlainan agama dan sebagainya. Biasanya perubahan status tersebut berlangsung secara mendadak an mempengaruhi terjadinya konversi agama.

4.      Kemiskinan
Seringkali terjadi masyarakat awam yang miskin terpengaruh untuk memeluk agama yang menjanjikan dunia yang lebih baik, seperti kehidupan sandang dan pangan yang mendesak. Faktor kemiskinan tersebut sangat relevan hadis Nabi : “kemiskinan sangat ekat dengan kekufuran”.[11]
Para ahli ilmu pendidikan berpendapat bahwa konversi agama dipengaruhi oleh kondisi pendidikan. Penelitian ilmu sosial menampilkan data dan argumentasi, bahwa suasana pendidikan ikut mempengaruhi konversi agama. Walaupun belum dapat dikumpulkan data secara pasti tentang pengaruh lembaga penidikan terhadap konversi agama, namun berdirinya sekolah-sekolah yang bernaung dibawah yayasan agama tentunya mempunyai tujuan agama pula.[12]



[1] Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012), h. 189
[2] Sururin, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: RajaGrafindo Persada,2004), h.103
[3] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama(Jakarta: Bulan Bintang,1991), h.137
[4]Op. cit., Jalaluddin, Psikologi Agama, h. 385-386
[5]Op. cit., Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, h. 138-140
[6]Op. cit., Jalaluddin, Psikologi Agama, h.189-190
[7]Op. cit., Sururin, Ilmu Jiwa Agama, h.109-110
[8]Op. cit., Jalaluddin, Psikologi Agama, h. 387
[9]Op. cit., Sururin, Ilmu Jiwa Agama, h. 106-107
[10]Op. cit., Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, h. 159-171
[11]Op. cit., Sururin, Ilmu Jiwa Agama, h. 107
[12]Op. cit., Jalaluddin, Psikologi Agama, h.385

Tidak ada komentar:
Write komentar