Kamis, 12 Juni 2014

Makalah Psikologi Agama Tentang Memahami Bentuk dan Psikoterapi Islam

Toto Si Mandja - Makalah Psikologi Agama Tentang Memahami Bentuk dan Psikoterapi Islam



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Psikoterapi
Psikoterapy berasal dari kata psycho yang artinya jiwa, dan therapy yaitu penyembuhan. Jadi psikoterapi sama dengan penyembuhan jiwa. Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Istilah ini mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosionalnya dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran dan emosinya, sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.[1]
Menurut Carl Gustav Jung psikoterapi telah melampaui asal usul medisnya dan tidak lagi merupakan suatu metode perawatan sakit.Sekarang ini psikoterapi digunakan untuk orang yang sehat atau pada mereka yang mempunyai hak atas kesehatan psikis yang penderitaannya menyiksa kita semua. Berdasarkan pendapat jung ini bangunan psikoterapi selain diguakan untuk fungsi kuratif (penyembuhan), juga berfungsi preventif (pencegahan) dan konstruktif (pemeliharaan dan pengembangan jiwa yang sehat). Ketiga fungsi tersebutmengisyaratkan bahwa usaha-usaha untuk berkonsultasi kepada psikiater tidak hanya ketika psikis seseorang dalam kondisi sakit.Alangkah lebih baik jika dilakukan sebelum datangnya gejala atau penyakit mental, karena hal itu dapat membangun kepribadian yang sempurna.
Pengetahuan tentang psikoterapi sangat berguna untuk:
1.      Membantu penderita dalam memahami dirinya, menyesuaikan dirinya, serta memberikan persepektif masa depan yang lebih cerah dalam kehidupan jiwanya.
2.      Membantu penderita dalam menentukan langkah-langkah praktis dan pelaksanaan terapinya.
B.     Bentuk-Bentuk Dan Teknik Psikoterapi
Muhammad Abd al-‘Aziz al-Khalidi membagi obat (syifa’) ke dalam dua bagian, Pertama, obat hissi, yaitu obat yang dapat menyembukan penyakit fisik, seperti berobat dengan madu, air buah-buahan yang disebutkan dalam al-Quran. Kedua, obat ma’nawi, obat yang sunnahnya menyembuhkan penyakit ruh dan kalbu manusia, seperti doa-doa dan isi kandungan dalam al-Quran.
Pembagian dua kategori obat didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri manusia terdapat dua substansi yang bergabung menjadi satu, yaitu jasmani dan rohani. Masing-masing substansi ini memiliki sunnah (hukum) tersendiri yang berbeda satu dengan yang lain. Kelainan (penyakit) yang terjadi pada aspek jasmani harus ditempuh melalui sunnah pengobatan bissin, bukan dengan sunnah pengobatan ma’nawi seperti berdo’a. tanpa menempuh sunnahnya maka kelainan itu tidak akan sembuh. Pendapat tersebut menjadi lain apabila yang mendapat kelainan itu kepribadian (tingkah laku) manusia.
Muhammad Mahmud, seorang psikolog muslim ternama, membagi psikoterapi Islam dalam dua kategori, Pertama, bersifat duniawi, berupa pendekatan dan teknik-teknik pengobatan psikis setelah memahami psikopatologi dalam kehidupan nyata. Kedua, bersifat ukhrawi, berupa bimbingan mengenai nilai-nilai moral, spiritual dan agama.[2]
Dalam ajaran islam , selain diupayakan adanya psikoterapi duniawijuga terdapat psikoterapi ukrawi psikoerapi ukrawi merupakan petunjuk (hidayah) dan anugerah dari Allah Swt. Psikoterapi duniawi merupakan hasil ijtihad (daya upaya) manusia, berupa teknik-teknik pengibatan kejiwaan yang di dasarkan atas kaidah-kaidah insaniyah. Kedua model psikoterapi ini sama pentingnya. Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa pendekatan pencaharian psikoterapi islami didasarkan pada kemahakuasaan tuhan dan upaya manusia.
Firman Allah:

اللَّهُأَرَادَوَإِذَابِأَنْفُسِهِمْمَايُغَيِّرُلااللَّهَإِنَّاللَّهِأَمْرِمِنْيَحْفَظُونَهُفِهِخَلْوَمِنْيَدَيْهِبَيْنِمِنْمُعَقِّبَاتٌلَهُ
وَالٍمِنْ دُونِهِمِنْلَهُمْوَمَالَهُمَرَدَّفَلاسُوءًابِقَوْمٍ
Artinya:
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Psikoterapi dalam Islam dapat menyembuhkan semua aspek psikopatologi, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Psikoterapi hati itu ada lima macam :
      1.      membaca Al-qur’an
Al-Quran dianggap sebagai terapi yang pertama dan utama, sebab didalamnya memuat resep-resep mujarab yang dapat menyembuhkan penyaikit jiwa manusia.Tingkat kemujarabannya sangat tergantung seberapa jauh tingkat sugesti keimanan pasien.[3]
Firman Allah:
خَساراًإلاَّالظالِمِيْنَيَزيْدُوَللْمُؤْمِنِيْنَ،وَرَحْمَةٌشفَاءٌهُوَمَاالقرآنِمِنَ وننَزِّلُ
Artinya:
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra’: 82) 
Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ada dua pendapat dalam memahami term syifa’ dalam ayat tersebut. Pertama, terapi bagi jiwa yang dapat menghilangkan kebodohan dan keraguan, membuka jiwa yang tertutup, serta dapat menyembuhkan jjwa yang sakit; kedua, terapi yang dapat menyembuhkan penyakit fisik, baik dalam bentuk azimat maupun tangkal.Sementara Al-Thabathaba’I mengemukakan bahwa syifa’ dalam Al-Qur’an memiliki makna “terapi ruhaniah” yang dapat menyembuhkan penyakit batin.Al-Thabathaba’I jiga mengemukakan bahwa Al-Quran juga dapat menyembuhkan penyakit jasmani, baik melalui bacaan atau tulisan.
Menurut al-Faidh al-Kasyani dalam Tafsirnya mengemukakan bahwa lafal-lafal al-Quran dapat menyembuhkan penyakit badan, sedangkan makna-maknanya dapat menyembuhkan penyakit jiwa.Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, bacaan al-Quran mampu mengobati penyakit jiwa dan badan manusia.Obat yang mujarab yang dapat mengobati kedua penyakit ini adalah hidayah al-Quran.
Kemukjizatan lafal al-Quran bukan hanya perkalimat, tetapi perkata, bahkan perhuruf.Hal itu dianalogikan dengan sabda Nabi bahwa pahala membaca al-Quran bukan perkalimat atau perkata, tetapi per huruf. Apabila al-Quran dihadapkan pada orang yang sehat mentalnya, maka ia bernilaikonstruktif. Artinya, ia dapat memperkuat dan mengembangkan integritas dan penyesuaian kepribadian dirinya. Karena itu, berobat dengan menggunakan al-Quran, baik secara lahiriah maupun batiniah, tidak hanya ketika dalam kondisi sakit, namun sangat dianjurkan dalam kondisi sehat.
      2.      Shalat Tahajjud
Tahajjud berarti meninggalkan tidur, sedangkan yang dimaksud shalat tahajjud adalah shalat yang dikerjakan malam hari, utamanya setelah bangun tidur.
Shalat tahajjud memiliki banyak hikmah. Diantaranya adalah:
a.        Setelah melakukan ibadah tambahan (nafilah), baik dengan shalat maupun membaca al-Quran, maka dirinya mendapatkan kedudukan terpuji dihadapan Allah SWT.
b.      Memiliki kepribadian sebagaimana kepribadian orang-orang salih yang selalu dekat (taqqarub) kepada Allah SWT, terhapus dosanya dan terhindar dari perbuatan munkar.[4]
c.       Jiwanya selalu hidup sehingga mudah mendapatkan ilmu dan ketenteraman, bahkan Allah SWT menjajikan kenikmatan surga baginya.
d.      Doanya diterima, dosanya mendapatkan ampunan dari Allah SWT, dan diberi rizki yang halal dan lapang tanpa susah payah mencarinya.
e.       Sebagai ungkapan rasa syukur terhadap apa yang telah diberikan oleh Allah SWT sebagai rasa syukur, nabi SAW sendiri selalu melakukan tahajjud walaupun tumit kakinya bengkak.
Setelah shalat sunat di malam hari, amalan yang perlu dilakukan adalah berdo’a, berdzikir dan membaca wirid, sebab berdoa di malam hari mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Sabda Nabi SAW : “Sesuatu yang lebih mendekatkan Tuhan kepada hamba-Nya di tengah malam adalah apabila engkau mampu melakukan zikir kepada Allah maka lakukanlah.”
Dengan shalat, seseorang dapat menjaga dua dari lima prinsip kehidupan. Lima prinsip kehidupan itu adalah memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara keturunan, dan memelihara kehormatan dan harta benda. Dengan shalat ia mampu menjaga agamanya, sebab shalat merupakan tiang agama. Demikian juga iadapat menjaga akalnya agar terhindar dari segala zat yang membahayakan. Ketiga, shalat mengandung doa yang dapat membebaskan manusia dan penyakit batin.[5]
      3.      Bergaul dengan orang shalih.
Orang yang salih adalah orang yang mampu mengintegrasikan dirinya dan mampu mengaktualisasikan potensinya semaksimal mungkin dalam berbagai dimensi kehidupan. Dalam tradisi kaum sufi, seseorang yang shalih dan dapat menyembuhkan penyakit ruhani manusia disebut denganal-thabib al-ilahi atau mursyid. Menurut al-Syarqawi, adalah al-thabib al-murabbi (dokter pendidik).
Dokter seperti ini lazimnya memberikan resep penyembuhan kepada pasiennya melalui dua cara, yaitu:
a.       negative (al-salabi), dengan cara membersihkan diri dari segala sifat-sifat dan akhlak yang tercela.
b.      positif (al-ijabi), dengan mengisi diri dari sifat-sifat atau akhlak yang terpuji.
      4.      Melakukan puasa.
Puasa disini adalah menahan diri dari segala perbuatan yang dapat merusak citra fitri manusia. Pembagian puasa ada 2:
Puasa fisik.
a.       Puasa psikis.
Puasa juga mampu menumbuhkan efekemosional yang positif, seperti menyadari akan kemaha kuasaan Allah SWT, menumbuhkan solidaritas dan kepedulian terhadap orang lain, serta menghidupkan nilai-nilai positif dalam dirinya untuk aktualisasi diri sebaik mungkin.
      5.      Zikir
Zikir dalam arti sempit memiliki makna menyebut asma-asma Allah dalam berbagai kesempatan. Sedangkan dalam arti luas mengingat segala keagungan dan kasih sayangAllah SWT yang telah diberikan,serta dengan menaati perintahnya dan menjauhi larangannya.
Dua makna yang terkandung dalam lafal zikir menurut At-Thabathabai:
a.       Kegiatan psikologis yang memungkinkan seseorang memelihara makna sesuatu yang diyakini berdasarkan pengetahuannya atau ia berusaha hadir padanya (istikdhar)
b.      Hadirnya sesuatu pada hati dan ucapan seseorang.
Zikir dapat mengembalikan kesadaran seseorang yang hilang, sebab aktivitas zikir mendorong seseorang untuk mengingat, menyebut kembali hal-hal yang tersembunyi dalam hatinya.[6]Zikir juga mampu mengingatkan seseorang bahwa yang membuat dan menyembuhkan penyakit hanyalah Allah SWT semata, sehingga zikir mampu memberi sugesti penyembuhannya.
Melakukan zikir sama halnya nilainya dengan terapi rileksasi, yaitu satu bentuk terapi dengan menekankan upaya mengantarkan pasien bagaimana cara ia harus beristirahat dan bersantai-santai melalui pengurangan ketegangan atau tekanan psikologis.
Dalam melakukan terapi, masing-masing individu memiliki tingkat kualitas yang berbeda seiring pengetahuan, pengalaman, dan pengamalan yang dimiliki.Tentunya hal itu mempengaruhi tingkat kemujaraban terapi yang diberikan. Perbedaan itu dapat dipahami sebab dalam islam mempercayai adanya anugrah dan kekuatan agung diluar kekuatan manusia, yaitu Allah Swt.




[1]Mujib Abdul, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), Hlm. 207
[2]Muhammad Mahmud, Ilm Al-Nafs Al-Ma’asbir Fi Dbaw’I Al-Islam, (Jiddah: Dar AL-Syuruq, 1984), Hlm. 402
[3]Mujib Abdul, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: PT. Persada Grafindo Persada, 2002), Hlm. 219
[4]Mujib Abdul, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), Hlm. 223
[5]Mujib Abdul, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), Hlm. 227
[6]Muhammad Hasbiyyah Shiddieqy, Pedoman Dzikir Dan Doa, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1997), Hlm. 38

Tidak ada komentar:
Write komentar