Kamis, 12 Juni 2014

Makalah Psikologi Agama Tentang Agama dan Psikoterapi

Toto Si Mandja - Makalah Psikologi Agama Tentang Agama dan Psikoterapi



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Agama
Kata agama dalam bahasa Indonesia berarti sama dengan “din” dalam bahasa Arab dan Semit, atau dalam bahasa Inggris “religion”. Dari arti bahasa (etimologi) agama berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi turun temurun. Sedangkan kata “din” menyandang arti antara lain menguasai, memudahkan, patuh, utang, balasan atau kebiasaan.
Secara istilah (terminologi) agama, seperti ditulis oleh Anshari bahwa walaupun agama,din, religion, masing-masing mempunyai arti etimologi sendiri-sendiri, mempunyai riwayat dan sejarahnya sendiri-sendiri, namun dalam pengertian teknis terminologis ketiga istilah tersebut mempunyai makna yang sama, yaitu:
     a.       Agama, dinreligion adalah satu sistem credo (tata keimanan atau tata keyakinan) atas adanya Yang Maha Mutlak diluar diri manusia;
     b.       Agama juga adalah sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya Maha Mutlak tersebut. 
      c.       Di samping merupakan satu sistema credo dan satu sistema ritus, agama juga adalah satu sistem norma (tata kaidah atau tata aturan) yang mengatur hubungan manusia sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan termaktub diatas.
Menurut Durkheim, agama adalah sistem kepercayaan dan praktik yang dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus. Bagi Spencer, agama adalah kepercayaan terhadap sesuatu yang Maha Mutlak. Sementara Dewey, menyatakan bahwa agama adalah pencarian manusia terhadap cita-cita umum dan abadi meskipun dihadapkan pada tantangan yang dapat mengancam jiwanya; agama adalah pengenalan manusia terhadap kekuatan gaib yang hebat. Dengan demikian, mengikuti pendapat Smith, tidak berlebihan jika kita katakan bahwa hingga saaat ini belum ada definisi agama yang benar dan dapat diterima secara universal.[1]
Eksistensi agama merupakan sarana pemenuhan kebutuhan esoteris manusia yang berfungsi untuk menetralisasi seluruh tindakannya. Tanpa bantuan agama manusia senantiasa bingung, resah, bimbang dan gelisah. Sebagai akibatnya manusia tidak mampu menperoleh arti kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya.
Kondisi jiwa yang tidak tenang, seperti gelisah, resah, bingung dan sebagainya dapat dikategorikan dalam gangguan jiwa atau dalam istilah psikopatoplogi disebut neurosis. Dalam Al-qur’an (ajaran agama Islam) disebutkan dengan jelas, bahwa dengan mengingat Allah, jiwa manusia akan menjadi tenang, Al-qur’an sebagai petunjuk dan sebagai obat.
Dalam memahami Islam sebagai agama, terdapat tiga paradigma yang bisa dikembangkan, yaitu:
a.       Agama dalam dimensi subjektif, yaitu kesadaran keimanan umat (aqidah).
b.      Agama dalam dimensi objektif, yaitu berupa alamiah atau perilaku pemeluk agama (akhlak)
c.       Agama dalam dimensi simbolik, yaitu ajaran keagamaan atau biasa disebut dengan syariat.
Ketiga dimensi tersebut merupakan satu kesatuan yang integral. Apabila perilaku umat Islam tidak mampu mencerminkan ketiga dimensi tersebut, ia tidak akan mampu menghayati dan menjadikan agama Islam sebagai alternatif terapi dalam berbagai persoalan yang dihadapinya.[2]
B.     Pengertian Psikoterapi
Istilah Psikoterapi (Psychotherapy) mempunyai pengertian cukup banyak dan kabur, terutama karena istilah tersebut digunakan dalam berbagai bidang operasional ilmu empiris seperti psikiartri, psikologi, bimbingan dan penyuluhan, kerja sosial, pendidikan dan ilmu agama. Secara harfiah Psikoterapi berasal dari kata psycho yang artinya jiwa, dan therapy yang artinya penyembuhan, pengobatan, dan perawatan. Oleh karena itu psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental atau terapi pikiran.  Jadi, psikoterapi sama dengan penyembuhan jiwa.[3]
Secara terminologi psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Pengertian psikoterapi mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosional dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran, dan emosinya seperti halnya proses redukasi (pendidikan kembali), sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.[4]
Orang yang melakukan psikoterapi disebut Psikoterapis (Psychotherapist). Seorang psikoterapis bisa dari kalangan dokter, psikolog atau orang dari latar belakang apa saja yang mendalami ilmu psikologi dan mapu melakuka psikoterapi. Psikoterpi bisa diartikan sebagai suatu interaksi antara dua orang atau yang lebih yang hasilnya adlah mengubah pikiran, perasaan atau perilaku seseorang menjadi lebih baik.
James P. Chaplin membagi pengertian psikoterapi dalam dua sudut pandang. Secara khusus, psikoterapi diartikan sebagai penerapan teknik khusus pada penyembuhan penyakit mental atau pada kesulitan-kesulitan penyesuain diri setiap hari. Secara luas, psikoterapi mencakup penyembuhan lewat keyakinan agama melalui pembicaraan nonformal atau diskusi personal dengan guru atau teman.
Pengertian psikoterapi selain digunakan untuk penyembuhan penyakit mental, juga dapat digunakan untuk membantu, mempertahankan dan mengembangkan integritas jiwa, agar ia tetap tumbuh secara sehat dan memiliki kemampuan penyesuaian diri lebih efektif terhadap lingkungannya. Dengan demikian, tugas utama psikoterapis di sini adalah memberi pemahaman dan wawasan yang utuh mengenai diri pasien serta memodifikasi atau bahkan mengubah tingkah laku yang dianggap menyimpang.
Menurut Carl Gustav Jung pengertian psikoterapi telah melampaui asal-usul medisnya dan tidak lagi merupakan suatu metode perawatan orang sakit. Psikoterapi kini digunakan untuk orang yang sehat atau pada mereka yang mempunyai hak atas kesehatan psikis yang penderitaannya menyiksa kita semua. Berdasarkan pendapat Jung ini, bangunan psikoterapi selain digunakan untuk fungsi kuratif (penyembuhan), juga berfungsi preventif (pencegahan) dan konstruktif (pemeliharaan dan pengembangan jiwa yang sehat). Ketiga fungsi tersebut mengisyaratkan bahwa usaha-usaha untuk berkonsultasi pada psikoterapis tidak hanya ketika psikis seseorang dalam kondisi sakit. Alangkah lebih baik jika dilakukan sebelum datangnya gejala atau penyakit mental, karena hal itu dapat membangun kepribadian yang sempurna.
Pengetahuan tentang psikoterapi sangat berguna untuk:
1.      Membantu penderita memahami dirinya, mengetahui sumber-sumber psikopatologi dan kesulitan penyesuaian diri, serta memberikan perspektif masa depan yang lebih cerah dalam kehidupan jiwanya;
2.      Membantu penderita mendiagnosis bentuk-bentuk psikopatologi;
3.      Membnatu penderita dalam menentukan langkah-langkah praktis dan pelaksanaan terapinya.[5]
Diakui atau tidak, banyak seseorang yang sebenarnya telah mengidap penyakit jiwa, namun ia tidak sadar akan sakitnya, bahkan ia tidak mengerti dan memahami bagaimana seharusnya yang diperbuat untuk menghilangkan penyakitnya. Karenanya dibutuhkan pengetahuan tentang psikoterapi.
Psikoterapi berbeda dengan pengobatan tradisional yang sering memandang gangguan psikologis sebagai gangguan karena sihir, kesurupan jin atau karena roh jahat. Anggapan-anggapan yang kurang tepat tersebut karena sebagian masyarakat terlalu mempercayai tahayul dan kurang wawasan ilmiahnya. Dalam psikoterapi, gangguan psikologis diidentifikasi secara ilmiah dengan standar tertentu kemudian dilakukan proses psikoterapi menggunakan cara-cara modern yang terbukti berhasil mengatasi hambatan psikologis. Dalam psikoterapi tidak ada hal-hala yang bersifat mistik, klien psikoterapi juga tidak diberi obat karena yang sakit adalah jiwanya, bukan fisiknya.
Muhammad Mahmud membagi psikoterapi dalam dua macam, yaitu:
1)     Bersifat duniawi, yaitu terapi yang memberikan kerangka pendekatan dan teknik pengobatan serta pemahaman dasar-dasar penciptaan manusia.
2)     Bersifat ukhrawi, yaitu dengan memberikan kerangka asasi terhadap nilai-nilai agama, moral dan spiritual.[6]  
C.    Hubungan Agama dengan Psikoterapi
Pada dasarnya bahwa manusia terdiri dari dua substansi yang berbeda, yaitu tubuh yang bersifat materi dan jiwa yang bersifat immateri (al-nafs). Yang menjadi hakekat manusia adalah al-nafs yang mempunnyai dua daya, yaitu daya berpikir yang disebut rasio (akal) yang berpusat di kepala dan daya rasa yang berpusat di dada.
Cara pengembangan dua daya ini telah diatur oleh Islam sedemikian rupa. Daya pikir atau akal yang berpusat di kepala, dipertajam oleh ayat kaunniyat, ayat yang mengandung perintah agar manusia meneliti, merenung, berpikir, menganalisis dan menyimpulkan demi lahirnya gagasan-gagasan inovatif. Sementara daya rasa yang berpusat di dada dipertajam melalui ibadat shalat, puasa, zakat, dan haji.
Tanpa agama, jiwa manusia tidak mungkin dapat merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Jadi, agama dan percaya pada Tuhan adalah kebutuhan pokok manusia, yang akan menolong orang dalam memenuhi kekosongan jiwanya.
Setidaknya ada empat fungsi agama dalam kehidupan, yaitu:
      a.       Agama memberi bimbingan dan petunjuk dalam hiduup.
      b.      Agama adalah penolong dalam kesukaran.
      c.       Agama menentramkan batin.   
      d.      Agama mengendalikan moral.
Ada beberapa cara untuk mencegah munculnya penyakit kejiwaan dan sekaligus menyembuhkannya, melalui konsep-konsep dalam Islam. Adapun upaya tersebut, adalah:
      1.      Menciptakan kehidupan yang islami dan religius.
      2.      Mengintensifkan kualitas ibadah.
      3.      Meningkatkan kualitas dan kuantitas dzikir.
      4.      Melaksanakan rukun Islam, rukun Iman dan berbuat ihsan. 
      5.      Menjauhi sifat-sifat tercela (akhlak mazmumah).
      6.      Mengembangkan sifat-sifat terpuji (akhlak mahmudah).
Psikoterapi dan agama sama-sama memandang manusia secara utuh sebagai terapi. Ada beberapa kasus gangguan mental yang dapat disembuhkan melalui perilaku keagamaan. Walaupun agama tidak identik dengan psikoterapi, namun perilaku keagamaan mempunyai peran sangat besar untuk mengatasi gangguan mental. Bahkan agama dapat dijadikan landasan untuk membina kesehatan mental serta mampu membentuk dan mengembangkan kepribadian seseorang melalui kegiatan peribadatan.



[1] Didiek Ahmad Supadie,dkk. Pengantar Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm. 35-36
[2]Sururin, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 179-181
[3] Abdul Aziz Ahyani, Psikologi Agama, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1995), hlm. 156
[4]Abdul Mujib, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 207
[5]Abdul Mujib, Ibid, hlm. 208
[6]Sururin, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 184-185

Tidak ada komentar:
Write komentar