Rabu, 07 Mei 2014

Teori Kepribadian Alfred Adler

Toto Si Mandja - Teori Kepribadian Alfred Adler


     A.    Biografi Alfred Adler
Alfred  Adler  dilahirkan  di  Wina  pada  tanggal  9 Februari1870,Dia menyelesaikan studinya dalam lapangan kedokteran pada Universitas Wina pada tahun1895. Mula-mula mengambil spesialisasi dalam opthamologi dan kemudian  dalam lapangan  psikiatr. Mula-mula bekerjasama dengan Freud  dan  menjadi  anggota  serta akhirnya menjadi presiden “Masyarakat  Psikoanalisis Wina”. Namun  dia  segera mengembangkan  pendapatnya  sendiri yang menyimpang dari pendapat Freud yang akhirnya menyebabkan dia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden serta dari keanggotaannya dalam“Masyarakat Psikoanalisis Wina” tersebut pada tahun 1911dan mendirikan aliran baru yang diberi nama “Individual Psychology” atau psikologi individual.
Sejak tahun 1935 Adler menetap di Amerika Serikat. Di sana dia melanjutkan prakteknya sebagai ahli penyakit syaraf dan juga menjadi guru besar dalam psikologi medis di Long Island College of Medicine. Dia meninggal di Scotlandia pada tahun 1937, ketika sedang dalam perjalanan keliling untuk memberikan ceramah-ceramah.

     B.     Struktur Kepribadian (Inferiority atau Inferioritas)
Bagi Adler inti dari kepribadian adalah pencarian dan perjuangan untuk menggapai superioritas. Ketika seseorang tenggelam dalam rasa ketidakberdayaan atau mengalami suatu peristiwa yang membuat dirinya tidak mampu berbuat apa-apa, orang tersebut kemungkinan akan merasa inferior. Jika perasaan terssebut semakin dalam, ia sangat mungkin mengembangkan kompleks imperioritas. Inferioritas berarti merasa lemah atau merasa minder dan tidak memiliki keterampilan untuk menghadapi tugas atau keadaan yang harus diselesaikan. Hal itu tidak berarti rendah diri terhadap orang lain dalam pengertian yang umum, meskipun ada unsur membandingkan kemampuan diri dengan kemampuan orang lain yang lebih matang dan berpengalaman.Misalnya manusia yang lebih lemah akan berjuang untuk menjadi lebih kuat.
Perasaan inferioritas ada pada semua orang, karena manusia mulai hidup sebagai mahluk kecil dan lemah. Sepanjang hidup, perasaan iri terus muncul ketika orang menghadapi tugas baru dan belum dikenal yang harus diselesaikan. Contohnya, seorang anak yang tidak pernah memiliki prestasi yang baik di sekolah, ia bukan siswa yang buruk namun dibandingkan penghargaan siswa teladan dan prestasi akademis kedua saudara kandungnya yang lain, pencapaiannya saat ini terlihat tidak berharga.
Adler berpendapat bahwa rasa rendah diri itu bukanlah suatu pertanda ketidak normalan; melainkan justru merupakan pendorong bagi segala perbaikan dalam kehidupan manusia. Tentu saja dapat juga rasa rendah diri itu berlebih‑lebih sehingga manifestasinya juga tidak normal, misalnya timbulnya kompleks rendah diri atau kompleks untuk superior. Tetapi dalam keadaan normal rasa rendah diri itu merupakan pendorong ke arah kemajuan atau kesempurnaan (superior).
Penyebab kompleks inferioritas yaitu:
1.       Organic Inferiority yang berlebihan
Kelemahan fisik yang berlebihan (misal: cacat) menyebabkan munculnya perasaan inferior yang berlebih sehingga mereka berusaha keras untuk melakukan kompensasi terhadap kelemahan mereka. Mereka menjadi terlalu peduli pada diri mereka dan kurang mempertimbangkan keadaan orang lain. Hal ini dapat mengakibatkan kompensasi yang ekstrim.
2.       Pampering Child
Memiliki minat social rendah namun punya hasrat yang kuat untuk mempertahankan hubungan yang bersifat parasit. Mereka mengharapkan orang lain utuk terus merawat, melindungi, dan memuaskan kebutuhan mereka. Karakteristik yang menonjol adalah putus asa yang berlebih, kebimbangan, oversensitive, tidak sabar, dan emosi yang berlebihan, terutama kecemasan. Mereka memandang dunia dengan kacamata pribadi dan merasa berhak untuk jadi yang pertama dari segalanya.
3.       Neglected Child
Pengabaian bersifat relative. Anak-anak yang disiksa dan diperlakukan tidak baik cenderung menciptakan gaya hidup yang terabaikan dan memiliki minat social yang minim. Rasa percaya diri rendah. Tidak percaya pada orang lain. Mengalami rasa iri yang kuat terhadap keberhasilan orang lain. Karakteristik mereka mirip dengan anak manja namun cenderung lebih mudah curiga dan memiliki kemungkinan besar untuk membahayakan orang lain. 
     C.    Struktur Kepribadian (Superiority atau Superioritas)
Selain kompleks inferioritas, Adler mencetuskan pula istilah kompleks superioritas. Superioritas, pengertiannya mirip dengan trandensi sebagai awal realisasi diri dari Jung, atau aktualisasi dari Horney dan Maslow. Superiorita bukan lebih baik dibanding orang lain atau mengalahkan orang lain, tetapi berjuang menuju superioritas berarti terus menerus berusaha menjadi lebih baik-menjadi semakin dekat dengan tujuan final. Superioritas ini bisa diartikan sebagai cara untuk menetralkan inferioritas yang dirasakan. Adler meyakini bahwa motif utama setiap orang adalah untuk menjadi kuat, kompeten, berprestasi dan kreatif. Kompleks superioritas yaitu menutupi kelemahan dengan cara berpura-pura memiliki kelebihan atau superioritas. Kompleks superiorita biasanya hadir dalam bentuk kediktatoran, senang mengintimidasi orang lain yang dianggap lebih lemah, atau senang memandang rendah orang lain berdasarkan etnik, ras,agama, orientasi seksual dan postur tubuh. Sesungguhnya orang tersebut tersiksa dengan perasaan tidak mampu, namun dengan cara tertentu berhasil menampilkan diri seolah-olah ia adalah orang yang hebat.
Tujuan utama kita adalah superiority atau perfection (kesempurnaan), tapi cara kita untuk menuju hal tersebut berbeda-beda. Kita mengembangkan sebuah pola unik dari karakter, tingkah laku, kebiasaan, yang mana disebut Adler sebagai style of life atau gaya hidup. Bayi memiliki inferiority feelings yang memotivasi mereka untuk mengkompensasi rasa putus asa dan kebergantungan. Dalam upaya untuk melakukan kompensasi, anak-anak memperoleh berbagai macam tingkah laku. Tingkah laku ini menjadi bagian dari gaya hidup (the style of life).
Semua yang kita lakukan terbentuk dengan keunikan gaya hidup kita. Hal ini menentukan aspek kehidupan mana yang cenderung kita sukai atau tidak sukai, dan sikap mana yang kita pegang.  Gaya hidup dipelajari dari interaksi sosial yang terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan. Adler mengatakan bahwa gaya hidup terbentuk sejak umur 4 atau 5 tahun, dan setelah itu sangat sulit untuk dirubah. Gaya hidup menjadi salah satu penentu dari sikap-sikap kita ke depannya.
Banyak orang yang berjuang menjadi superioritas dengan tidak memperhatikan orang lain. Tujuannya bersifat pribadi, dan perjuangannya dimotivasi oleh perasaan diri inferior yang berlebihan. Namun pada umumnya perbuatan atau perjuangan menjadi superior sukar dibedakan, mana yang motivasinya untuk keuntungan pribadi dan mana yang motivasinya minat sosial. Orang yang secara psikologi sehat, mampu meninggalkan perjuangan menguntungkan diri sendiri menjadi perjuangan yang termotivasi oleh minat sosial, perjuangan untuk menyukseskan nilai-nilai kemanusiaan. Orang ini membantu orang lain tanpa mengharap imbalan, melihat orang lain bukan sebagai saingannya akan tetapi sebagai rekan yang siap bekerjasama demi kepentingan sosial.
     D.    Dinamika Kepribadian
Menurut Adler, untuk berperilaku atau bersikap, individu menciptakan tujuan akhir fiksi. Tujuan ini adalah “fiktif” karena tujuan tidak selalu didasarkan pada realitas. Sebaliknya, tujuan mewakili ide-ide kita tentang apa yang mungkin didasarkan pada interpretasi subjektif kita tentang dunia. ada Karena, seperti yang kita lihat, drive primer manusia adalah menjadi lebih baik, lebih besar, lebih kuat, lebih terampil, dan seterusnya-tujuan yang mereka tetapkan sendiri adalah ekspresi dari negara yang ideal, ekspresi yang membantu dalam berurusan dengan lingkungan.
Berbeda secara tajam dengan pandangan Freud bahwa tingkah laku manusia di dorong oleh insting- insting yang di bawa sejak lahir dengan aksioma pokok. Adler berpendapat bahwa manusia pertama-tama dimotivasikan oleh dorongan-dorongan sosial. Dorongan sosial adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir, meskipun tipe-tipe khusus berhubungan dengan orang dan pranata-pranata sosial yang berkembang di tentukan oleh corak masyarakat tempat orang itu dilahirkan.
Sumbangan penting kedua dari Adler bagi teori kepribadian adalah konsepnya mengenai diri yang kreatif.  Diri yang kreatif adalah penggerak utama, pegangan filsafat, sebab pertama bagi semua tingkah laku.  Tidak seperti ego Freud, yang terdiri dari kumpulan proses psikologis yang melayani tujuan insting-insting. Diri Adler merupakan sistem subjektif yang sangat dipersonalisasikan, yang menginterpretasikan dan membuat pengalaman-pengalaman organisme penuh arti. Diri mencari pengalaman-pengalaman yang akan membantu pemenuhan gaya hidup sang pribadi yang unik; apabila pengalaman-pengalaman ini tidak ditemukan di dunia maka diri akan berusaha menciptakannya. Konsepsi tentang diri yang kreatif adalah teori baru bagi teori psikoanalitik dan ia membantu mengimbangi objektifisme ekstrem psikoanalisis klasik, yang hampir sepenuhnya bersandar pada kebutuhan-kebutuhan biologis dan stimulus-stimulus dari luar untuk menerangkan dinamika kepribadian. Sumbangan Adler berupa arah baru pengakuan atas diri sebagai penyebab penting tingkah laku umumnya dipandang sangat penting. Ciri ketiga psikologi Adler yang membedakannya dari psikoanalisis klasik adalah tekanannya pada keunikan kepribadian. Adler berpendapat bahwa setiap orang merupakan konfigurasi unik dari motif-motif, sifat-sifat, minat-minat, dan nilai-nilai; setiap perbuatan yang dilakukan orang membawa corak khas gaya hidupnya sendiri. Perbedaannya manusia pertama-tama adalah makhluk sosial bukan seksual. Manusia dimotivasikan oleh minat sosial bukan oleh dorongan seksual. Inferioritas mereka tidak terbatas pada bidang seksual, melainkan bisa meluas pada segala segi baik fisik maupun psikologis.
Menurut Adler, masalah dalam kehidupan selalu bersifat sosial. Fungsi yang sehat bukan hanya mencintai dan bekerja, melainkan merasakan kebersamaan dengan orang lain dan mempedulikan kesehjateraan mereka. Beberapa prinsip penting dalam teori Adler adalah sebagai berikut:
a.       Setiap orang berjuang untuk mencapai superioritas atau kompetensi personal.
b.      Setiap orang mengembangkan gaya hidup dan rencana hidup yang sebagian disadar atau direncanakan dan sebagian tidak disadari.
·         Gaya hidup seseorang mengindikasikan pendekatan yang konsisten pada banyak situasi.
·         Rencana hidup dikembangkan berdasarkan pilihan seseorang dan mengarah pada tujuan yang diperjuangkan seseorang untuk dicapai.
c.       Kualitas kepribadian yang sehat adalah kapasitas untuk mencapai “fellow feeling”, yang fokus pada kesehjateraan orang lain. Adler menyebutnya minat sosial. Adler percaya bahwa bergaul dengan orang lain merupakan tugas pertama kita dalam menghadapi hidup. Adler mengkonsepkan minat sosial (social interest) sebagai potensial individu yang dibawa sejak lahir untuk bekerja sama dengan orang lain  mencapai tujuan pribadi maupun sosial.
d.      Ego merupakan bagian dari jiwa yang kreatif. Menciptakan realitas baru melalui proses menyusun tujuan dan membawanya pada suatu hasil, disebut dengan fictional goals. Ada 3 tahap dalam pemikiran Adler tentang tujuan final manusia, yakni: menjadi agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior.
      E.     Studi Analisis Teori Alfred Adler
Menurut Adler urutan kelahiran yang didasarkan pada keturunan, lingkungan dan kreativitas individual membentuk perkembangan seseorang. Menurutnya, dalam sebuah keluarga, setiap anak lahir dengan unsur genetik yang berbeda, masuk dalam setting sosial yang berbeda, dan anak-anak itu menginterpretasikan situasi dengan cara yang berbeda pula.
Adler menganggap urutan kelahiran dalam keluarga mempunyai peranan penting dalam membentuk pertumbuhan perkembangan seseorang, urutan-urutan tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan dalam menginterpretasikan setiap pengalaman yang didapat. Sejalan dengan perhatiannya terhadap penentu-penentu sosial kepribadian, Adler mengamati bahwa kepribadian anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu dalam suatu keluarga akan berlainan. Ia mengkaitkan perbedaan-perbedaan ini dengan pengalaman-pengalaman khusus yang dimiliki setiap anak sebagai anggota suatu kelompok sosial.
Anak pertama pada awalnya selalu menjadi anak terfavorit karena mereka adalah anak satu-satunya, namun kemudian mereka harus belajar untuk menghadapi kenyataan bahwa mereka bukanlah lagi fokus utama dan bahwa orangtua mereka harus membagi perhatiannya dengan saudaranya yang lain. Perubahan yang tiba-tiba ini dapat mendorong munculnya sifat kemandirian dan perjuangan untuk mendapatkan status, atau para anak pertama dapat juga mengembangkan peran sebagai orang tua semu, yang membantu mengasuh saudara kandung ataupun orang lain. Kelebihan sebagaianak pertama yaitu bertanggung jawab, melindungi dan mudah bersosialisasi. Sedangkan kekurangannya yaitu merasa tidak aman, bermusuhan dan pesimis.
Anak kedua atau anak tengah lahir dalam situasi persaingan dan kompetisi. Adler sendiri memiliki rasa persaingan yang kuat dengan kakak laki-lakinya, dan ketidakmampuannya untuk berkompetisi secara fisik karena sakit yang diderita Adler menyebabkan munculnya perasaan inferioritas. Walaupun hal ini dapat menjadi sesuatu yang berguna besar, kegagalan yang berulang dapat merusak kepercayaan diri. Kelebihan sebagai anak kedua atau anak tengah yaitu ambisius dan dapat menyesuaikan diri dengan baik dibandingkan kakak atau adiknya. Sedangkan kekurangannya yaitu memberontak dan iri hati, dan kesulitan dalam berasumsi.

Anak terakhir atau anak bungsu biasanya lebih manja dari anak lainnya. Mereka akan selamanya menjadi bayi dalam keluarga. Adler percaya bahwa memiliki panutan yang berlebihan dari saudara kandung akan menyebabkan seorang anak merasa ditekan untuk sukses di semua bidang, dan ketidakmampuan sang anak untuk melakukannya akan mengakibatkan anak itu menjadi malas dan cenderung memiliki sikap mengalah. Kelebihan sebagai anak bungsu yaitu banyak kesempatan untuk bersaing dan terpacu melebihi kakak-kakanya. Sedangkan kekurangan sebagai anak bungsu yaitu merasa rendah diri, dan merasa tidak mampu untuk menyesuaikan diri.

Tidak ada komentar:
Write komentar