Rabu, 07 Mei 2014

Struktur dan Perkembangan Kepribadian Sigmund Freud

Toto Si Mandja - Struktur dan Perkembangan Kepribadian Sigmund Freud


A.   BIOGRAFISIGMUND FREUD
Sigmund Freud dilahirkan pada tanggal 6 Mei 1856 di Kota Morivia dan meninggal dunia pada tanggal 23 September 1939, di London. Dia lahir dari keluarga kelas menengah Yahudi. Ayahnya Jacod Freud bekerja sebagai seorang pedagang wol yang kurang sukses. Pada saat perdagangannya mengalami kerugian di Morivia, keluarganya pindah ke Leipzig, Jerman dan mereka pindah lagi ke Wina Austria, yaitu pada saat Freud berumur 4 tahun (Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, 2007: 38).
Pada tahun 1873, Freud masuk fakultas kedokteran Universitas Wina, dan pada tahun 1881 dia lulus sebagai dokter dengan Yudisium “excellent”. Freud adalah seorang ahli neurologi, dia mulai berpraktek medis di Wina sampai akhir abad 19. Seperti halnya para ahli neurologi lainnya pada masa itu, dia sering membantu orang-orang yang mengalami masalah-masalah nervous, seperti: rasa takut yang irrasional, obsesi dan cemas. Dalam membantu penyembuhan masalah-masalah gangguan mental (mental disorders) tersebut, dia mengembangkan prosedur yang inovatif yang dinamai psikoanalisis (Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, 2007: 39).

Di bawah pimpinan Sigmund Freud, para psikoanalisis menekankan adanya proses mental tak sadar. Menurut Sigmund Freud, sumber utama konflik dan gangguan-gangguan mental terletak pada ketidaksadaran ini. Oleh karena itu, untuk mempelajari gejala-gejala ini, Freud mengembangkan tehnik psikoanalisis yang sebagian besar didasarkan atas interprestasi arus pikiran pasien yang diasosiasikan secara bebas dan analisis mimpi. baik isi maupun metodenya merupakan sudut pandang yang radikal.
Teori psikoanalisis dari Freud dapat berfungsi sebagai 3 macam teori, yaitu:
1.      Sebagai teori kepribadian.
2.      Sebagai tehnik analisis kepribadian.
3.      Sebagai metode terapi (penyembuhan).
Sebagai teori kepribadian, psikoanalisis mengatakan bahwa jiwa terdiri dari sistem, yaitu id, ego, dan super ego.
Dalam teori psikoanalisis sebagai teori kepribadian Freud selanjutnya mengatakan bahwa pada setiap orang terdapat seksualitas kanak-kanak, yaitu dorongan seksual yang sudah terdapat sejak bayi. Dorongan ini akan berkembang terus menjadi dorongan seksuil pada orang dewasa, melalui beberapa tingkat perkembangan, yaitu:
1.      Fase oral (sejak lahir-1 tahun)
2.      Fase anal (1-3 tahun)
3.      Fase phalik (3-6 tahun)
4.      Fase lathent (6-11 tahun)
5.      Fase genithal (11-18 tahun)
B.     STRUKTUR KEPRIBADIAN
1.      Id
Id merupakan komponen kepribadian yang bersifat primitif, instinktif (yang berusaha untuk memenuhi kepuasan instink) dan rahim tempat ego dan superego berkembang. Id berorientasi pada prinsip kesenangan (pleasure principle) atau prinsip reduksi ketegangan. Id merupakan sumber dari instink kehidupan (eros)atau dorongan-dorongan biologis (makan, minum, tidur, bersetubuh dsb) dan instink kematian/instink agresif yang menggerakkan tingkah laku. 
Untuk menghilangkan ketidakenakan dan mencapai kenikmatan itu id mempunyai dua cara (alat proses), yaitu:
(a)    Refleks dan reaksi-reaksi otomatis, seperti misalnya bersin, berkedip, dan sebagainya.
(b)   Proses primer (primair vorgang), seperti misalnya orang lapar membayangkan makanan.       

2.      Ego
Ego merupakan eksekutif atau manajer dari kepribadian yang membuat keputusan (decision maker) tentang instink-instink mana yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya; atau sebagai sistem kepribadian yang terorganisasi, rasional, dan berorientasi kepada prinsip realitas(reality principle). Peranan utama Ego adalah sebagai mediator (perantara) atau yang menjembatani antara id (keinginan yang kuat untuk mencapai kepuasan) dengan kondisi lingkungan/dunia luar (external social world) yang diharapkan. Ego dibimbing oleh prinsip realitas (reality principle) yang bertujuan untuk mencegah terjadinya tegangan sampai ditemukan suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan atau dorongan id.
Ego senantiasa berupaya untuk mencegah dampak negatif dari masyarakat (seperti hukuman dari orang tua atau guru). Dalam upaya memuaskan dorongan, ego sering bersifat pragmatis, kurang memperhatikan nilai/norma atau, bersifat hedonis. Namun begitu ego juga berupaya untuk mencapai tujuan-tujuan jangka panjang dengan cara menunda kesenangan/kepuasan sesaat.  

3.      Super Ego
Super ego merupakan komponen moral kepribadian yang terkait dengan standaratau norma masyarakat mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Super ego berkembang pada usia sekitar 3 atau 5 tahun. Pada usia ini anak belajar untuk memperoleh hadiah (rewards) dan menghindari hukuman (punishment) dengan cara mengarahkan tingkah lakunya yang sesuai dengan ketentuan atau keinginan orang tuanya. Apabila ternyata tingkah lakunya ternyata salah, tidak baik (bad) atau tidak sesuai dengan ketentuan orang tuanya, kemudian mendapat hukuman, maka peristiwa itu membentuk kata hati (conscience) anak. Sedangkan apabila perkataan atau tingkah lakunya baik (good), disetujui dan mendapat ganjaran dari orang tuanya, maka peristiwa itu membentuk ego-ideal anak.
Baik kata hati maupun ego-ideal, kedua-duanya merupakan dua komponen yang membentuk super ego sebagai suatu system dalam kepribadian individu. Kata hati berfungsi sebagai hakim dalam diri seseorang, apabila dia melakukan kesalahan, maka kata hati menghukumnya dengan membuatnya merasa bersalah (guilty feeling). Sementara ego ideal berfungsi sebagai pemberi hadiah atau ganjaran kepada individu apabila dia berbuat baik dengan cara membuatnya merasa bangga akan dirinya.   
Super ego berfungsi untuk (1) merintangi dorongan-dorongan id, terutama dorongan seksual dan agresif, karena dalam perwujudannya sangat dikutuk oleh masyarakat, (2) mendorong ego untuk menggantikan tujuan-tujuan realistis dengan tujuan-tujuan moralistik, dan (3) mengejar kesempurnaan (perfection).
Menurut Freud, kunci kepribadian yang sehat adalah keseimbangan antara id, ego, dan superego.



C.    PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
1.      Tahap Oral (Oris=Mulut)
Tahap oral adalah periode bayi yang masih menetek yang seluruh hidupnya masih bergantung kepadaorang lain. Pada masa ini libido didistribusikan ke daerah oral sehingga perbuatan mengisap dan menelan menjadi metode utama untuk mereduksi/mengurangi ketegangan dan mencapai kepuasan (kenikmatan). Ketidakpuasan pada masa oral (seperti disapih dan kelahiran adiknya) dapat menimbulkan gejala regresi (kemunduran)yaitu berbuat seperti bayi atau anak yang sangat bergantung pada kedua orang tuanya atau banyak tuntutan yang harus dipenuhi dan juga gejala perasaan iri hati (cemburu).

2.      Tahap Anal (Anus=Dubur)
Tahap ini berada pada usia 2sampai 3 tahun. Pada tahap ini libido terdistribusikan ke daerah anus. Anak akan mengalami ketegangan, ketika duburnya penuh dengan ampas makanan dan peristiwa buang air besar yang dialami oleh anak merupakan proses pelepasan ketegangan dan pencapaian kepuasan. Orang tua melakukan sosialisasi nilai-nilai sosial pertama melalui latihan kebersihan (toilet training), yaitu usaha sosialisasi nilai-nilai sosial pertama yang sistematis sebagai upaya untuk mengontrol dorongan-dorongan biologis anak.

3.      Tahap Phallik (Phallus=Dzakar)
Tahap ini berlangsung kira-kira usia 4 sampai 5 tahun. Pada usia ini anak mulai memperhatikan atau senang memainkan alat kelaminnya sendiri. Pada tahap ini, anak masih bersikap “selfish, mementingkan diri sendiri, belum berorientasi ke luar atau memperhatikan orang lain.  

4.      Tahap Latensi
Tahap latensi berkisar antara usia 6 sampai 12 tahun. Periode tertahannya dorongan-dorongan seks dan agresif. Pada tahap ini, anak mengembangkan kemampuannya bersublimasi (pembelotan libido seksual kepadakegiatan yang secara sosial lebih dapat diterimaseperti mengerjakan tugas-tugas sekolah, bermain olah raga, dan kegiatan-kegiatan lainnya).Mereka belum mempunyai perhatian khusus kepadalawan jenis (bersikap netral) sehingga dalam bermain pun anak laki-laki akan berkelompok dengan anak laki-laki lagi, begitu pun anak wanita. Tahap ini dipandang sebagai masa perluasan kontak sosial dengan orang-orang di luar keluarganya.


5.      Tahap Genital

Tahap ini dimulai sekitar usia 12 atau 13 tahun. Masa ini ditandai dengan matangnya organ reproduksi anak. Pada periode ini, instink seksual dan agresif menjadi aktif. Anak mulai mengembangkan motif untuk mencintai orang lainatau mulai berkembangnya motif altruis (keinginan untuk memperhatikan kepentingan orang lain).Masa ini ditandai juga dengan proses pengalihan perhatian, dari mencari kepuasan/kenikmatan sendiri kepadakehidupan sosial orang dewasa dan berorientasi kepada kenyataan (prinsip realitas).   

Tidak ada komentar:
Write komentar