Rabu, 07 Mei 2014

Makalah Psikologi Umum Tentang Aspek Motorik

Toto Si Mandja - Makalah Psikologi Umum Tentang Aspek Motorik


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Aspek Psikomotorik
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) psikomotor secara harfiah berarti sesuatu yang berkenaan dengan gerak fisik yang berkaitan dengan proses mental. Psikomotorik adalah berhubungan atau mengarah kepada akibat-akibat motor dari proses mental (kerja otak).Kemampuan motorik berasal daribahasa Inggris yaitu motor ability, dalam Filosofi Pembelajaran dan Masa Depan Teori Pendidikan Jasmani Kephart, mendefinisikan bahwa motoradalah gerak dari dorongan dalam (internal) yang diarahkan kepada beberapa maksud lahiriah (external) dengan wujud keterampilan rendah Perkembangan keterampilan motorik (motor skill) ini merupakan keterampilan yang dimiliki seseorang untuk mampu melakukan suatu rangkaian gerakan jasmaniah dalam urutan tertentu, dengan mengadakankoordinasi antara gerak berbagai anggota badan secara terpadu.

Ciri khas dari keterampilan motorik adalah otomatisme, yaiturangkaian gerak-gerik yang berlangsung secara teratur dan berjalan lancar tanpa dibutuhkan banyak refleksi atau berfikir terhadap apa yang harus dilakukan dan mengapa harus mengikuti suatu gerakan.Keterampilan motorik memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, seorang anak yang memiliki keterampilan motoriksempurna, ia mampu merawat dirinya sendiri dan bergerak secara efektif dan efisien, misalnya seorang anak kecil yang belajar berjalan tegak, menaiki tangga, memegang dan mengambil benda dan sebagainya.Berkembangnya kemampuan motorik tersebut didapatkan dari hasil belajar dan latihan. Dengan belajar dan latihan tersebut akan membuat fungsi otot dan persendianmenjadi lebih kuat.
Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa yangdimaksud dengan perkembangan psikomotorik adalah perkembangan kepribadian manusia yang berhubungan dengan gerakan jasmaniah dan fungsiotot akibat adanya dorongan dari pemikiran, perasaan dan kemauan dari dalam diri seseorang.[1]
Di dalam membicarakan perkembangan motorik anak, akan dibahas tentang ciri-ciri motorik, yang pada umumnya melalui empat tahap, yaitu:
1.      Gerakan-gerakan yang tidak disadari, tidak disengaja dan tanpa arah. Gerakan anak pada masa ini semata-mata hanya karena adanya dorongan dari dalam. Misalnya anak menggerak-gerakkan kaku dan tangannya, memasukkan tangan ke mulut, mengedipkan mata dan gerakan-gerakan lain yang tidak disebabkan oleh adanya rangsangan dari luar.
2.      Gerakan-gerakan anak itu tidak khas. Artinya gerakan yang timbul, yang disebabkan oleh perangsang tidak sesuai dengan rangsangannya. Misalkan bila kita meletakkan suatu benda di tangan si anak, maka benda itu dipegangnya tidak sesuai dengan kegunaan benda tersebut, sehingga bagi orang dewasa tampak sebagai suatu gerakan yang bodoh.
3.      Gerakan-gerakan anak itu dilakukan dengan masal. Artinya hampir seluruh tubuhnya ikut bergerak untuk mereaksi perangsang yang datang dari luar. Misalnya, bila anak diberikan sebuah bola, maka bola itu diterima dengan kedua tangan dan kedua kakinya sekaligus.
Gerakan-gerakan anak itu disertai gerakan-gerakan lain yang sebenarnya tidak diperlukan.[2]
Di dalam perkembangan selanjutnya gerakan-gerakan itu semakin lama semakin terdiferensiasi, artinya hanya bagian tubuh tertentu saja yang bergerak dan itu pun bila ada perangsang yang mengenalnya. Misalnya bila pada bibirnya disentuhkan sesuatu, maka hanya bibirnya saja yang bergerak. Inilah suaatu tanda bahwa perkembangan adalah suatu prises diferensiasi.
Sesudah agak besar, maka tampak bahwa gerakan-gerakan anak itu tidak hanya oleh karena dorongan dari dalam, melainkan gerakan-gerakan itu sudah dikuasai. Tentu saja hal ini disebabkan oleh perkembangan yang lain, misalnya dibantu oleh perkembangan indera.
Pada masa berikutnya anak sering pula melakukan gerakan-gerakan yang berlebihan. Hal ini dapat dilihat pada waktu mereka bermain-main. Mereka tampak berlari-lari, berteriak-teriak dan sebagainya yang sebenarnya tidak perlu. Hal ini yang menyebabkan mengapa pada kehidupan anak-anak itu sering terjadi ribut yang menurut orang tua kurang dimengerti. Hal ini pula mengapa anak-anak lebih suka bermain-maiin dari pada duduk tanpa melakukan suatu apapun.[3]
Aspek motorik yaitu berfungsi pelaksana tingkah laku manusia seperti perbuatan dan gerakan jasmaniah lainnya.[4]Ada tiga unsur yang memegang peranan dalam motorik, yaitu otot, otak dan saraf. Gerakan-gerakan tubuh yang dimotori denngan kerjasama antara otot, otak dan saraf-saraf kita dinamakan motorik. Mula-mula bayi dapat menguasai otot-otot bibir, lidah, mata dan sebagainya, kemudian ia menguasai otot-otot leher dan bahunya. Anak yang berusia 3 bulan sudah dapat menggerakkan kepalanya untuk mencari-cari sumber bunyi, mengikuti benda dengan mata. Pada saat inilah ada artinya anak diberi alat mainan, misalnya balon berwarna yang digantungkan diatas ayunannya.
Anak yang berusia 4 bulan, jika ia ditelungkupkan, mencoba-coba mengangkat kepalanya walaupun hanya beberapa detik. Selanjutnya ia menguasai lengan, tangan, tungkai dan kakinya. Latihan itu umumnya dicari-cari sendiri, dilakukan dengan sukarela dan gembira.
Anak yang berusia 5 bulan dapat menggerakkan lengannya kearah tententu, kesalah satu benda yang dilihatnya. Selanjutnya ia menguasai jari-jarinya untuk memungut benda-benda yang kecil dan akhirnya ia dapat memegang sesuatu. Ada kemungkinan batas-batas usia disebutkan disini tidak sesuai dengan usia anak yang sedang kita lihat, sebab batas-batas usia itu sebenarnyaa sangat relatif[5].

Ciri-ciri gerakan motorik
1.      Gerakan dilakukan dengan tidak sengaja, tidak ditujukan untuk maksud-maksud tertentu.
2.      Gerak yang dilakukan tidak sesuai untuk mengangkat benda.
3.      Gerak serta. Kita perhatikan anak yang bermain dengan botol susunya, kelihatan bahwa mulut, leher dan kepalanya turut bergerak semuanya. Gerakan-gerakan yang berlebihan merupakan ciri-ciri dari motorik yang masih muda.[6]
Perkembangan motorik tergantung pada kematangan otot dan saraf. Perkembangan bentuk kegiatan motorik yang berbeda sejalan dengan perkembangan daerah system saraf yang berbeda. Karena perkembangan  pusat saraf yang lebih rendah, yang bertempat dalam usat saraf tu;ang belakang, pada waktu lahir berkembangnya lebih baik ketimbang pusat saraf lebih tinggi yang ada dalam otak, maka gerak refleks pada waktu lahir lebih baik dikembangkan dengan sengaja ketimbang berkembang sendiri. Dalam waktu yang singkat sesudah lahir, gerak refleks penting yang diperlukan untuk hidup seperti menghisap, menelan, berkedip, merenggutkan lutut, dan refleks urat daging tempurung lutut, bertambah kuat dan berkoordinasi secara lebih baik.[7]
B.     Jenis-jenis Aspek Psikomotorik
Aspek psikomotorik ini terbagi menjadi dua jenis antara lain sebagai berikut :
1.      Tingkah laku yang tidak disadari ( Perilaku Refleksif )
Perilaku refleksif adalah perilaku yang terjadi atas reaksi secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme tersebut. Misalnya kedip mata bila kena sinar; gerak lutut bila kena sentuhan palu; menarik tangan apabila menyentuh api dan lain sebagainya.
Perilaku refleksif terjadi dengan sendirinya, secara otomatis. Stimulus yang diterima organisme tidak sampai ke pusat susunan syaraf atau otak sebagai pusat kesadaran yang mengendalikan perilaku manusia. Dalam perilaku yang refleksif, respons langsung timbul begitu menerima stimulus. Dengan kata lain, begitu stimulus diterima oleh reseptor, begitu langsung respons timbul melalui afektor, tanpa melalui pusat kesadaran atau otak.
Perilaku ini pada dasarnya tidak dapat dikendalikan. Hal ini karena perilaku refleksif merupakan perilaku yang alami, bukan perilaku yang dibentuk oleh pribadi yang bersangkutan.
2.      Tingkah laku yang disadari ( Perilaku Non-Refleksif )
Perilaku non-refleksif adalah perilaku yang dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran/otak. Dalam kaitan ini, stimulus setelah diterima oleh reseptor langsung diteruskan ke otak sebagai pusat syaraf, pusat kesadaran, dan kemudian terjadi respons melalui afektor.
Proses yang terjadi didalam otak atau pusat kesadaran inilah yang disebut proses psikologis. Perilaku atau aktivitas atas dasar proses psikologis inilah yang disebut aktivitas psikologis atau perilaku psikologis. Pada perilaku manusia, perilaku psikologis inilah yang dominan, merupakan perilaku yang dominan dalam pribadi manusia. Perilaku ini dapat dibentuk, dapat dikendalikan. Karena itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sebagai hasil proses belajar.
C.    Karakteristik Tingkah Laku yang Disadari dan Tidak Disadari
1.      Tingkah laku yang tidak disadari ( Refleksif)
Telah dipaparkan di atas bahwa gerak yang tidak disadari (Refleksif) adalah gerak reaksi yang tidak disadari terhadap perangsang. Refleks ini berhubungan gejala konasi yang rendah tingkatannya, maka refleks hanya boleh dikatakan gerak refleks, bukan perbuatan refleks. Berikut ini adalah ciri-ciri gerak yang tidak disadari (Refleksif) :
a.       Pada gerak refleks terdapat hubungan erat antara perangsang dan reaksi, yakni reaksi terhadap perangsang itu.
b.      Gerak refleks berlangsung di luar kesadaran (tidak disadari)
c.       Gerak refleks bersifat mekanis (bergerak dengan sendirinya) dan tidak mempunyai tujuan tertentu.
d.      Sangat terikat oleh perangsang tertentu, boleh dikatakan bahwa setiap jenis perangsang tertentu menimbulkan gerak refleks tertentu.
e.       Tidak berhubungan dengan pusat susunan saraf dan bertalian dengan susunan saraf, yakni sumsum tulang belakang.
Adapun proses terjadinya gerak refleks yaitu: Perangsang – pancaindera -sel-sel saraf sensoris - urat saraf – motoris – reaksi. Disamping itu, gerak refleksif terdiri dari beberapa macam diantaranya sebagai berikut:
a.       Refleks Bawaan
Refleks bawaan yakni refleks yang dibawa sejak lahir disebut pula refleks sewajarnya. Refleks ini merupakan suatu cara tertentu untuk bertindak yang dibawa sejak lahir, berfungsi menjamin hidupnya makhluk yang baru lahir yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungnanya. Refleks berguna untuk menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan, misalnya menutup mata karena menentang sinar yang sangat terang, gemetar karena lapar dan sebagainya. Refleks semacam ini tidak terbatas pada bayi yang baru lahir atau anak-anak, pada orang dewasa pun terdapat pula.
b.      Refleks latihan
Refleks latihan ialah refleks yang diperoleh dari pengalaman. Refleks ini tidak dibawa sejak lahir, melainkan hasil daripada pengalaman atau perbuatan yang selalu diulang. Misalnya kecakapan mengendarai sepeda, keterampilan mengemudi mobil. Baik bagi pengendara sepeda maupun pengendara mobil tidak setiap saat harus memikirkan gerak-gerik untuk membelokan dan memikirkan gerak-gerik untuk membelokan kemudi dan menginjak rem. Kalau kecakapan mengemudi telah dikuasai niscaya perbuatan demikian seolah-olah sudah dapat dilakukan dengan mudah, seolah-olah dapat berjalan dengan sendirinya, tidak banyak dipikirkan dan dipertimbangkan gerak-geriknya.
c.       Refleks Bersyarat
Refleks ini tidak terantung pada perangsang alam yang asli, tapi timbul karena rangsangan lain yang berasosiasi dengan rangsangan alam tersebut. Supaya timbul asosiasi dengan perangsang  lain perlu adanya satu perantara yang disebut syarat. Hal-hal yang dapat menimbulkan asosiasi hingga terjadi suatu refleks disebut syarat atau kondisi. Contoh orang yang sedang merasa haus, melihat buah asam air liurnya terus keluar.[8]
2.      Gerak yang disadari (Non-Refleksif)
Urutan impuls[9]pada gerak biasa berbeda dengan pada gerak refleks. Urutan jalannya impuls pada gerak biasastimulus pada organ reseptor – sel saraf sensorik – otak – sel saraf motorik – respon pada organ efektor. Jadi rangsangan semisal kamu melihat bunga yang indah, nah bunga itu diterima oleh mata kemudian dibawa ke otak melalui neuron sensorik kemudian diolah di otak bahwa bunga itu indah, kemudian sinyal itu diteruskan oleh neuron motorik ke efektor. Jadi mungkin tangan kamu akan memetiknya.
Aspek psikomotorik berhubungan dengan kemampuan motorik, sebagai hasilnya dilihat dalam bentuk keterampilan dan kemampuan bertindak. Terdapat beberapa ahli pendidikan yang mengelompokkan aspek psikomotorik yaitu Dave, Simpson, Harrow dan Romiszowski. Psikomotor yang digunakan adalah dibagi menjadi lima kategori sebagai berikut:
a.       Imitation (Peniruan)
Kemampuan ini dimulai dengan mengamati suatu gerakan kemudian memberikan respon serupa dengan yang diamati. Kegiatan dalam pembelajaran antara lain kemampuan menggunakan alat ukur setelah diperlihatkan cara menggunakannya.
b.      Manipulation (Manipulasi)
Kemampuan ini merupakan kemampuan mengikuti pengarahan (instruksi), penampilan dan gerakan­-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan. Kegiatan dalam pembelajaran antara lain mampu melakukan kegiatan penyelidikan sesuai dengan prosedur yang dibacanya, merencanakan apa yang akan dilakukan dalam percobaan.
c.       Precision (Ketetapan)
Kemampuan ini lebih menekankan pada kecermatan, proporsi dan kepastian yang lebih tinggi. Kegiatan dalam pembelajaran antara lain menggunakan alat ukur, memperhatikan skala alat ukur yang digunakan dan satuan yang digunakan juga dalam mengambil data, orang yang memiliki ketetapan biasanya melakukan pengamatan berulang kali untuk mendapatkan hasil yang lebih pasti.
d.      Articulation (Artikulasi)
Merupakan kemampuan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di antara gerakan­gerakan yang berbeda. Kegiatan dalam pembelajaran antara lain menulis dengan rapi dan jelas, mengetik dengan cepat dan tepat dan menggunakan alat­alat sesuai dengan ketentuannya.
e.       Naturalization (Pengalamiahan)
Menekankan pada kemampuan yang lebih tinggi secara alami, sehingga gerakan yang dilakukan dapat secara rutin dan tidak memerlukan pemikiran terlebih dahulu. Kegiatan dalam pembelajaran antara lain kemampuan membuat kesimpulan dari percobaan yang dilakukan.[10]


[2]Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), h. 23.
[3]Ibid. hal. 24.
[4]Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hal. 169.
[5]Zulkifli, Psikologi Perkembangan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hal. 25.
[6]Ibid.
[7]Elisabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, 1995), hal. 151.
[8]Abu Ahmadi, Psikologi Umum (Surabaya: PT Bina Ilmu Offset, 1982), hal. 81.
[9]Rangsangan atau gerak hati yang timbul dengan tiba-tiba untuk melakukan sesuatu tanpa pertimbangan
[10]Sobur, Psikologi Umum (Bandung: Pustaka Setia, 2009).

Tidak ada komentar:
Write komentar