Rabu, 07 Mei 2014

Makalah Psikologi Agama Tentang Perkembangan Agama Pada Masa Anak-anak

Toto Si Mandja - Makalah Psikologi Agama Tentang Perkembangan Agama Pada Masa Anak-anak


BAB II
PEMBAHASAN
A.      Agama pada masa anak-anak
Masa anak – anak dimaksudkan sebelum masa remaja, yaitu sebelum berumur + 12 tahun, dimana masa tersebut sebenarnya mengandung 3 periodesasi perkembangan yaitu:
Ø Umur 0 – 2 tahun disebut masa vital.
Ø Umur 2 – 6 tahun disebut masa kanak- kanak
Ø Umur 6 – 12 tahun disebut masa sekolah
Masa ini merupakan masa perubahan jasmani yang tercepat. Pada umumnya anak normal dan sehat, maka selama enam bulan pertama bertambah kurang lebih dua kali lipat dari berat badannya sewaktu lahir. Masa ini adalah masa dimana anak banyak membutuhkan pertolongan dari orang tua. Usaha orang tua ini akan memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis dan juga pembentukan pribadi anak.[1]

Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.[2]



B.       Tahap Perkembangan Beragama Pada Masa Anak-Anak
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian:
1.      The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng).
Pada tahap ini anak yang berumur 3-6 tahun konsep mengenal Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi sehingga dalam menanggapi agama, anak masih menggunakan konsep fantastik, yang diliputi oleh dongeng-dongeng. Menurut hasil penelitian Dr. Hanni mengindikasikan bahwa kemampuan berfikir tentang konsep agama pada anak sangat sedikit, kalau tidak dikatakan tidak ada artinya dan itu hanyalah permainan bebas dari fantasi dan emosinya. Hal ini menjadi wajar, karena konsep agama biasanya cukup rumit dan mengatasi daya tangkap intelektual anak, sehingga terjadi penerimaan atau penolakan itu merupakan hal yang wajar. Dan itu terjadi tentunya bukan pemahaman secara intelektual melainkan pada alasan lain.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada pemuka agama daripada isi ajarannya, dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kanak-kanaknya.

2.      The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)
Pada fase ini ide-ide tentang Tuhan muncul dan telah tercermin dalam konsep yang realistik, dan biasanya muncul dari lembaga agama atau pengajaran orang dewasa. Ide keagamaan muncul dari anak didasarkan atas emosional, sehingga melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Tahap ini dimulai sejak usia masuk sekolah 7 tahun. Yang perlu dicatat pada tahap ini adalah bahwa pada tahap usia tujuh tahun dipandang sebagai permulaan perturnbuhan logis, sehingga wajar ketika Rosulullah mernerintahkan untuk menyuruh anak-anak umatnya untuk melaksanakan shalat pada usia tujuh tahun dan memberi sanksi berupa pukulan apabila melanggarnya.[3]



3.      The Individual Stage (Tingkat Individu)
. Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan:
a.       Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.
b.      Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan).
c.         Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik, yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama.[4]
Pemikir Islam Imam Bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu:
1.      Fase dalam kandungan
Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit, apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya. Sebagaimana Firman Allah:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ 
Artinya
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS AL-A’raf: 172).
2.      Fase bayi
Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak.Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.
3.      Fase kanak- kanak
Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan.Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan- ucapan orang disekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan- tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru.
4.      Masa anak sekolah
Seiring dengan perkembangan aspek- aspek jiwa lainnya, perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis.Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang.[5]








C.      Sifat Agama Pada Anak
Sifat Agama pada anak mengikuti pola concept on authority yaitu konsep keagamaan yang dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka anak itu sendiri. Ketaatan dan tidaknya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, orang tua atau guru mereka.
Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian:
1.      Unreflektif (kurang mendalam /tanpa kritik)
Pada fase ini anak memahami kebenaran agarna kurang begitu mendalam, mereka merasa puas dengan penjelasan/keterangan walaupun kurang masuk akal. Menurut penelitian, pikiran kritis baru muncul ketika umur 12 tahun.
2.      Egosentris
Anak lebih menonjolkan kepentingan dirinya dan lebih menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dan kesenangan dirinya. Sebagai contoh tujuan do'a dan sholat yang mereka lakukan adalah untuk mencapai keinginan pribadi. Mereka meminta sesuatu yang diinginkannya, minta ampun atas segala dosa yang telah diperbuatnya, dan minta tolong atasa ketidakmampuan yang mereka hadapi. Sifat ini muncul berkisar antara usia 5-9 tahun. Pada usia 9-12 tahun ide tentang do’a sebagai komunikasi antara anak dengan yang ilahimulai tampak. Setelah itu isi do’a beralih dari keiniginan egoistis menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis.
3.      Anthromorphis
Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalaman. Ketika berhubungan dengan orang lain , pertanyan anak mengenai "bagaimana" dan "mengapa" biasanya mencerminkan usaha mereka menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkrit.
Hasil penelitian Praff misalnya anak usia 6 tahun, kebanyakan menggambarkan Tuhan seperti manusia yang mempunyai wajah, telinga, mata, dsb. Dan memberi ganjaran atau hukuman misalnya dihubungkan dengan oiang tua ketika memberi hadiah.

4.      Verbalis dan Ritualis
Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). Mereka menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan dan mengajarkan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman yang diajarkan kepada mereka.
5.      Imitatif
Peranan orang tua terhadap anak sangatlah penting, karena perbuatan tindak keagamaan anak yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya diperoleh melalui imitasi (meniru). Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran akan tetapi berupa teladan atau peragaan hidup yang nyata (riil). Penghayatan keagamaan anak-anak sebenarnya belum merupakan keseriusan, sebab tingkat perkembangan pikirannya baru pada tingkat imitative.
6.      Rasa Heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. Berbeda dengan rasa heran pada orang dewasa, rasa heran dan kagum anak belum didasari dengan kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum dengan keindahan lahiriyah saja. Untuk itu perlu bagi orang tua memberi pengertian dan penjelasan sesuai dengan perkembangan pemikirannya.[6]


[1] Sri Rumini & Siti Sundari, Perkembangan Anak & Remaja, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), h 37.
[2] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), h 42.
[3] Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2004), h. 51
[4] Sururin, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), h. 54.
[5] Imam Bawani, Ilmu Jiwa Perkembangan dalam Konteks Pendiidikan Islam, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1990), h. 15-104.
[6] Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012), h.53-78.

Tidak ada komentar:
Write komentar