Rabu, 07 Mei 2014

Makalah Psikologi Agama Tentang Hubungan Antara Agama dan Kesehatan Mental

Toto Si Mandja - Makalah Psikologi Agama Tentang Hubungan Antara Agama dan Kesehatan Mental


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kesehatan Mental
Kesehatan mental sebagai salah satu cabang ilmu jiwa sudah dikenal sejak abad ke-19 dan pada pertengahan abad ke-20 ini ilmu kesehatan mental sudah jauh berkembang dan maju dengan pesatnya sejalan dengan kemajuan ilmu dan teknologi modern. pada umumnya dulu pengertian orang pada ilmu kesehatan mental bersifat terbatas dan sempit. Kesehatan mental itu hanya diperuntukan bagi orang yang terganggu dan berpenyakit jiwa saja dan tidak diperlukan bagi setiap orang pada umumnya.[1](ramayulis 125)
Pengertian agama menurut J.H. Leuba, agama adalah cara bertingkah laku, sebagai systemkepercayaan atau sebagai emosi yang bercorak khusus. Sedangkan definisi agama menurut Thouless adalah hubungan praktis yang dirasakan dengan apa yang dia percayai sebaimahluk atausebagai wujud yang lebih tinggi dari manusia.
Secara etimologis mental berasal dari bahasa latin yaitu mens atau mentis yang artinya roh, jiwa atau nyama. Dalam bahasa yunani kesehatan terkandung dalam kata hygiene yang berarti ilmu kesehatan. Maka kesehatan mental merupakan bagian dari ilmu jiwa. Ada yang berpendapat bahwa kesehatan mental adalah terhindar dari gangguan dan penyakit kejiwaan.
Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental baikberupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial). Kesehatanmental adalah terhindarnya seseorang dari gangguan dan penyakit jiwa. 


Adapun menurut para ahli mengenai pengertian kesehatan mental diantaranya yaitu:
1.              Menurut Musthafa Fahmi, beliau menemukan dua pola dalam mendefinisikan kesehatan mental[2] :
a.               Pola negatif (salabiy), bahwa kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari segala neurosis[3] (al-amradh al-asbabiyah) dan psikosis[4] (al-amradh al-dzibaniyah)
b.      Pola positif (ijabiy) bahwa kesehatan mental adalah kemampuan dalam individu dalam penyesuain terhadap diri sendiri dan terhadap lingkungan sosialnya. Pola yang kedua ini lebih umum dan lebih luas dibanding dengan pola pertama.
2.      Menurut Atkinson menentukan kesehatan mental dengan kondisi normalitas kejiwaan, yaitu kondisi kesejahteraan emosional kejiwaan seseorang. Atkinson lebih lanjut menyebutkan 6 indikator normalitas kejiwaan seseorang[5] :
a.       Persepsi realita yang efisien
b.      Mengenali diri sendiri
c.       Kemampuan untuk mengendalikan perilaku secara sadar.
d.      Harga diri dan penerimaan
e.       Kemampuan untuk membentuk ikatan  kasih
f.       Produktivitas
3.      Menurut Hanna Djumhana Bastaman kesehatan mental dibagi menjadi empat pola yaitu[6]:
a.       Pola Simtomatis, pola yang berkaitan dengan gejala (symtoms) dan keluhan (complaints).
b.      Pola penyesuaian diri, pola yang berkaitan dengan keaktifan seseorang dalam memenuhi tuntutan lingkungan tanpa kehilangan harga diri atau memenuhi kebutuhan pribadi tanpa mengganggu orang lain.
c.       Pola pengembangan diri, pola yang berkaitan dengan kualitas khas insane seperti kreativitas, produktivitas, kecerdasan, tanggung jawab dan sebagainya. Hal ini berarti mengembangkan potensi-potensi manusiawinya secara maksimal.
d.      Pola agama, pola yang berkaitan dengan ajaran agama. Orang yang dikatakan sehal mental ialah individu yang mampu melaksanakan ajaran agama secara benar dan baik dengan landasan keimanan dan ketaqwaan.
4.      Menurut Marie Jahoda bahwa kesehatan mental memiliki sifat dan karakteristik utama yaitu[7]:
a.       Memiliki sikap kepribadian terhadap diri sendiri dalam arti ia mengenal dirinya dengan sebaik-baiknya.
b.      Memiliki pertumbuhan, perkembangan dan perwujudan diri
c.       Memiliki integritas diri yang meliputi keseimbangan jiwa kesatuan pandangan dan tahan terhadap tekanan-tekanan kejiwaan yang terjadi.
d.      Memiliki otonomi diri yang mencangkup unsur-unsur pengatur kelakuan dari dalam ataupun kelakuan-kelakuan bebas
e.       Memiliki presepsi mengenai realitas, bebas dari penyimpanganan kebutuhan dan penciptaan empati serta kepekaan social
f.       Memiliki kemampuan untuk menguasai lingkungan dan berintegrasi denganya
5.      Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1959 memberikan batasan mental yang s dan sehat adalah sebagai berikut[8]:
a.       Dapat menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan meskipun kenyataan itu buruk baginya.
b.      Memperoleh kepuasan dari hasil jerih payah usahanya.
c.       Merasa lebih puas memberi daripada menerima.
d.      Secara relatif bebas dari rasa tegang dan cemas.
e.       Berhubungan dengan orang lain secara tolong-menolong dan saling memuaskan.
f.       Menerima kekecewaan untuk dipakainya sebagai pelajaran di kemudian hari.
g.      Menjerumuskan rasa permusuhan kepada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif.
h.      Mempunyai rasa kasih sayang yang besar.
Kriteria tersebut disempurnakan pada tahun 1984 dengan menambahkan satu elemen spiritual (agama). oleh karena itu yang dimaksud dengan sehat adalah bukan sehat dari segi fisik, psikologi, dan sosial saja, akan tetapi juga sehat dalam arti spiritual/agama, atau dalam istilah Dadang Hawari disebut empat dimensi sehat: bio-psiko-sosial-spiritual.
6.      Menurut Zakiah Daradjat[9], beliau merumuskan pengertian kesehatan mental dalam pengertian yang luas dengan memasukan aspek agama di dalamnya seperti berikut bahwa Kesehatan mental ialah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuain diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkunganya, berlandaskan keimanan dan ketaqwaan, serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia dan di akhirat.
a.       Pengertian terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan adalah berkembangnya seluruh potensi kejiwaan secara seimbang sehingga manusia dapat mencapai kesehatan lahir dan batin, jasmani dan rohani dan terhindar dari pertentangan batin, kegoncangan jiwa, kebimbangan dan keragu-raguan serta tekanan perasaan dalam menghadapi berbagai dorong dan keinginan.
b.      Tentang terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya adalah usaha seseorang untuk melakukan penyesuaian diri yang sehat terhadap dirinya, yang mencakup pembangunan dan pengembangan seluruh potensi dan daya yang terdapat dalam dirinya serta berkemampuan untuk memanfaatkan potensi dan daya itu seoptimal mungkin sehingga penyesuaian diri membawa kepada kesejahteraan dan kebahagian diri dari orang lain.
c.       Pengertian penyusuaian diri yang sehat dengan lingkungan atau terhadap masyarakat adalah mengandung tuntutan kepada seseorang untuk meningkatkan keadaan masyarakat dan keadaan dirinya sendiri dalam masyarakat dan mengadakan perbaikan di dalamnya, tetapi juga dapat mengembangkan dirinya secara serasi di dalam masyarakat tersebut. Hal-hal tersebut di atas hanya dapat dicapai apabila masing-masing individu dan masyarakat sama-sama berusaha meningkatkan diri secara terus menerus dalam batas yang diridhai Allah.
d.      Adapun pengertian mengenai berlandasakan keimanan dan ketaqwaan adalah bahwa masalah keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi kejiwaan dan penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya dan lingkunganya atau masyarakat hanya dapat terwujud dan tercapai secara sempurna apabila usaha itu berdasarkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Jadi factor agama memainkan peranan yang penting dalam mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan mental dalam defenisi ini.
e.       Pengertian bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia dan di akhirat adalah tujuan dari ilmu kesehatan mental untuk mewujudkan kehidupan yang baik. Sejahtera dan bahagia bagi manusia secara lahir maupun batin, jasmani dan rohani serta dunia dan akhirat.
Dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental merupakan suatu kondisi keserasian jiwa seseorang dalam penyesuian dirinya dan dengan lingkungan dengan dilandasi aspek-aspek diri dengan bertujuan untuk mencapai hidup yang bahagia.


B.     Hubungan Antara Agama dengan Kesehatan Mental
Dalam ilmu kedokteran dikenal dengan istilah psikosomatik (kejiwabadanan). Dimaksudkan dengan istilah tersebut adalah untuk menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang erat antara jiwa dan badan. Terbukti jika  jiwa berada dalam kondisi yang kurang normal seperti susah, cemas, gelisah dan sebagainya maka badan turut menderita. Di bidang kedokteran dikenal beberapa macam pengobatan seperti menggunakan obat-obatan, selain itu ada cara pengobatan lain yaitu dengan psiko analisa dengan hipotherla (hypnotis). Dan kemudian dikenal dengan psikotherapi atau autotherapia (penyembuhan diri sendiri) yang dilakukan tanpa menggunakan bantuan obat-obatan biasa. Tekhnik ini dilakukan dengan cara menghubungkan dengan aspek keyakinan masing-masing pasien. Sejumlah kasus yang menunjukan adanya hubungan antara factor keyakinan dengan kesehatan jiwa atau mental telah diungkapkan oleh Carel Gustav Jung “diantara pasien saying yang setengah baya, tidak seorangpun yang penyebab penyakit kejiwaanya yang tidak dilatarbelakangi oleh aspek agama”. [10].
Sebelum mengkaji kaitanya kesehatan mental dalam pandangan agama kami akan memaparkan mengenai aliran dalam kesehatan mental yaitu[11]:
1.      Aliran Psikoanalitik
Aliran ini mengatakan bahwa kesehatan mental itu akan diperoleh  apabila ego mencapai kemenangan dalam pertarungan yang terjadi antara id, ego dan super ego. Namun kesehatan mental yang diperoleh bukanlah hasil sebenarnya, melainkan hasil yang semu. Sebab dibalik keberhasilan itu ada pertarungan diantara ketiganya akan terus berlangsung. Ego akan selalu bersebrangan dengan id. Kemudian datang super ego yang mencoba melerai keduanya, yang pada dasarnya semakin memperluas arena pertarunganya.
2.      Aliran Behavioristik
Aliran ini menekankan pada kebiasaan tingkah laku. Tingkah laku itu didapatkan karena kebiasaan-kebiasaan yang dipelajarinya. Aliran ini sangan mementingkan lingkungan, tingkah laku manusia sebagai manifestasi kejiwaan merupakan respon dari stimulus yang diterimanya dari lingkungan. Kesehatan mental adalah kesanggupan manusia untuk memperoleh kebiasaan yang sesuai dan dinamika yang dapat menolongnya dalam berintegrasi dengan lingkungan dan menghadapi suasana-suasana yang memerlukan pengambilan keputusan.
3.      Aliran Humanistik
Aliran ini berpendapat bahwa pengkajian terhadap manusia harus di dekati dari sudut kemanusiaanya. Manusia dilengkapi dengan berbagai potensi yang bebas dipergunakan menurut kemauanya. Oleh karena itu kesehatan mental  menurut aliran ini adalah kesadaranya untuk mencapai apa yang ia kehendaki dengah cara yang dipilihnya. Dengan kata lain, bahwa orang yang sehat mentalnya menurut aliran ini adalah orang sadar potensi yang dimilikinya, kemudian secara bebas ia dapat mengembangkan sesuai dengan kehendaknya.
4.      Pandangan Islam
Manusia dalam pandangan Islam diciptakan oleh Allah dengan tujuan-tujuan tertentu:
a.       Menjadi hamba Allah yang tugasnya mengambdi kepada Allah SWT
b.      Menjadi khalifah di bumi yang tugasnya mengelola alam dan memanfaatkanya untuk kepentingan makhluk dalam rangka ubudiyah kepada-Nya.
Dengan dilengkapi berbagai potensi yang harus dikembangkan dan dimanfaatkan sesuai dengan aturan Allah. Oleh karena itu kesehatan mental dalam pandangan Islam adalah pengembangan dan pemanfaatan potensi-potensi tersebut semakismal mungkin dengan niat ikhlas beribadah hanya kepada Allah.
Dengan melihat kesehatan mental menurut pandangan Islam maka padasarnya agama dan kesehatan mental memiliki keterkaitan. Hal ini dikaji oleh Muhammad Mahmud al-Qadir. Beliau berendapat mengenai  Hubungan Agama dan Kesehatan Mental beliau berkata bahwa segala bentuk gejala emosi seperti bahagia, rasa dendam, rasa marah, takut, berani, pengecut yang ada dalam diri manusia adalah akibat dari pengaruh pernsenyawaan-persenyamaan kimia hormone, disamping persenyawaan lainya. Tetapi dalam kenyataanya kehidupan akal dan emosi manusia senantiasa berubah dari waktu ke waktu, karena itu sering terjadi perubahan-perubahan kecil produksi hormon-hormon yang merupakan unsure dasar dari keharmonisan kesadaran dan rasa hati manusia, tepatnya perasaanya.
Jika terjadi perubahan yang terlampau lama maka akan timbul perubahan kimia lain yang akan mengakibatkan penyakit syaraf yang bersifat kejiwaan sehingga timbul kegoncangan dan hilangnya keseimbangan kimia tubuh seseorang. Hal ini akan membawanya jauh dari kenyataan hidup normal.
Sedangkan jika seseorang berada dalam keadaan normal, maka ia akan berada dalam keadaan aman. Pergeseran arah ke kiri atau ke kanan akan menimbulkan bahaya, besar kecilnya perubahan itu tergantung dari kemampuan manusia untuk menanggapi pengaruh itu. Keseimbangan ini bergantung dari derajat keimanan yang tersimpan di dalam diri manusia, disamping factor susunan tubuh serta dalam atau dangkalnya rasa dan kesadaran manusia itu.
Dengan demikian hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitanya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa terletak pada sikap penyerahan dari seseorang terhadap kepada suatu kekuasaan yang Maha Tinggi. Sikap pasrah yang serupa yang serupa itu di duga akan memberikan sikap optimis pada diri seseorang sehingga muncul perasaan positif dengan kata lain kondisi yang demikian menjadi manusia pada kondisi kodratinya, sesuai dengan fitrah kejadianya, sehat jasmani dan rohani.[12]
C.    Kesehatan Mental dalam Pandangan Al-Qur’an
Al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam dan sebagai kitab suci yang berisi petunjuk (hudan) dan penjelas, bagi petunjuk itu sendiri didalamnya banyak terdapat ayat-ayat yang berkaitan dengan kesehatan mental dengan berbagai istilah yang digunakannya sebagai sesuatu yang hendak dicapai oleh setiap manusia. Menurut Langgulung, istila-istilah tersebut adalah kebahagiaan (sa’adal) keselamatan (hajat)kejayaan fawz), kemakmuran (falah) dan kesempurnaan (al-Kamal). Disamping itu di Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang berkaitan dengan uraian definisi kesehatan mental yang dimana ditujukan untuk mendapatkan hidup bermakna dan bahagia dunia dan akhirat.
Lebih lanjut lagi Al-Qur’an telah menjelaskan sikap manusia dalam usahanya mengembangkan dan memanfaatkan potensinya tersebut, diantaranya yaitu[13]:
1.      Hubungan manusia dengan dirinya sendiri, yaitu manusia mengembangkan dan memanfaatkan potensinya dalam bentuk amr ma’ruf wa nahi munkar.
Firman Allah SWT:
Artinya:Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali-Imran: 110)
2.      Hubungan manusia dengan sesama manusia, yaitu manusia mengembangkan dan memanfaatkan potensinya dalam bentuk menjalin persaudaraan.
Firman Allah SWT:
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”( QS. Al-Fath: 29)
3.      Hubungan manusia dengan alam, yaitu manusia mempunyai kecenderungan untuk mengembangkan dan menafaatkan potesinya dalam bentuk kelestarian dan memanfaatkan ala seisinya atau sebaliknya.
Firman Allah SWT:
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS. Al-Jumu’ah: 10)
4.      Hubungan manusia dengan Allah, yaitu manusia mempunyai kecenderungan untuk mengembangkan dan memanfaatkan dalam bentuk beribadah kepada Allah.
Firman Allah SWT:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)


[1]Ramayulis, Psikologi Agama (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 125-126.
[2]Ibid. 126
[3]Kamus Besar Bahasa Indonesia, Neurosis penyakit saraf yg berhubungan dengan fungsinya tanpa ada kerusakan organik pada bagian susunan saraf (seperti histeri, depresi, fobi)
[4]Kamus Besar Bahasa Indonesia, Psikosis ialah kelainan jiwa yg disertai dng disintegrasi kepribadian dan gangguan kontak dng kenyataan
[5]Mujib, Abdul dan Yusuf Mudzakir. 2001. “Nuansa-Nuansa Psikologi Islam”. Jakarta : PT. Raja Grafindo. hlm. 133
[6]Op.cit. Ramayulis. 126-127
[7]Op.cit. ramayulis h. 127
[8]Sururin, Ilmu Jiwa Agama,(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), hh. 144-145
[9]Op.cit. Ramayulis. H.128
[10]Ibid. Ramayulis. h.130-131
[11]Ibid. Ramayulis. h. 141-146
[12]Ibid. Ramayulis. h. 132-134
[13]Ibid. Ramayulis. h. 136-139

Tidak ada komentar:
Write komentar