Rabu, 07 Mei 2014

Makalah Filsafat Pendidikan Islam Tentang Konsep Kurikulum dalam Pendidikan Islam

Toto Si Mandja - Makalah Filsafat Pendidikan Islam Tentang Konsep Kurikulum dalam Pendidikan Islam


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kurikulum Pendidikan Islam
Secara etimologi kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu Curiryang artinya pelari dan Curere yang berarti jarak yang harus ditempuh oleh pelari.
Adapun tentang pengertian kurikulum dalam pendidikan islam, jika kita kembali kepada kamus-kamus bahasa arab, maka kita dapati kata-kata “Manhaj” (kurikulum) bermakna jalan yang terang, atau jalan terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya.[1]
Dalam bidang pendidikan sendiri, yang ingin kita bicarakan dalam bab ini, “Kurikulum (Manhaj) dimaksudkan sebagai jalan terang yang dilalui oleh pendidik atau guru latih dengan orang-orang yang dididik atau dilatihnya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka.[2]
Pendidikan islam secara fungsional adalah upaya manusia muslim merekayasa penbentukan al-insan al-kamil melalui penciptaan situasi interaksi edukatif dan kondusif. Dalam posisinya yang demikian, pendidikan islam adalah model rekayasa individual dan sosial yang paling efektif untuk menyiapkan dan menciptakan bentuk masyarakat ideal ke masa depan. Sejalan dengan konsep perekayasaan masa depan umat, maka pendidikan islam harus dimiliki seperangkat isi atau bahan yang akan ditranspormasikan kepada peserta didik agar menjadi  milik dan kepribadiannya sesuai dengan idealitas islam. Untuk itu, perlu dirancang suatu bentuk kurikulum pendidikan islam yang sepenuhnya mengacu kepada nilai-nilai asasi ajaran islam. Dalam kaitan inilah diharapkan filsafat pendidikan islam mampu memberikan kompas atau arah terhadap pembentukan kurikulum pendidikan islam yang islami.[3]  
  
Adapun yang menjadi inti dari kurikulum pendidikan islam itu sendiri adalah bahan-bahan, aktivitas dan pengalaman yang mengandung unsur ketauhidan. Sejak bayi dilahirkan diperdengarkan ketelinganya kalimat tauhid melalui suara yang diazankan. Materi dalam muatan azan adalah materi kurikulum pendidikan islam. Azan yang berintikan ketauhidan itu menurut pendidikan islam dinilai penting untuk ditanamkan kedalam diri anak sedini mungkin, agar mereka senantiasa terbimbing kesuasana dan kondisi yang sejalan dengan hakikat penciptaannya, sebagai pengabdi Allah.
Sejak lama pendidikan islam sudah menyadari bahwa indera pendengar sebagai indera manusia yang paling awal dapat difungsikan secara efektif dalam pendidikan.  Jauh sebelum indera lainnya dapat difungsikan untuk menangkap kesan dari luar.[4]
Salah satu tugas pokok dari filsafat pendidikan Islam adalah memberikan kompas atau arah dari tujuan pendidikan Islam. Suatu tujuan kependidikan yang hendak dicapai harus direncanakan (diprogramkan) dalam apa yang disebut “kurikulum”.   
Antara tujuan dan program harus ada kesesuaian atau kesinambungan. Tujuan yang hendak dicapai harus bergambar didalam program yang tertuang didalam kurikulum, bahkan program itulah yang mencarminkan arah dan tujuan yang diinginkan dalam proses kependidikan.
Oleh karena itu kurikulum adalah merupakan faktor yang yangat penting dalam proses kependidikan dalam suatu lembaga kependidikan Islam. Segala hal yang harus diketahui atau diresapi serta dihayati oleh anak didik harus ditetappkan dalam kurikulum itu. Juga segala hal yang harus diajarkan oleh pendidik kepada anak didiknya, harus dijabarkan dalam kurikulum.
Dengan demikian , dalam kurikulum tergambar jelas secara berencana bagaimana dan apa saja yan harus terjadi dalam proses belajar mengajar yang dilakukan oleh pendidik dan anak didik. Jadi kurikulum menggambarkan kegiatan belajar mengajar dalam suatu lembaga kependidikan.
Didalam kurikulum tidak hanya dijabarkan serangkaian ilmu pengetahuan yang harus diajarkan oleh pendidik (guru) kepada anak didik, dan anak didik mempelajarinya, akan tetapi juga segala kegiatan yang bersifat kependidikan yang dipandang perlu, karna mempunyai pengeruh terhadap anak didik, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam, misalnya olahraga, kepramukaan, widya wisata, seni budaya; mempunyai pengaruh cukup besar dalam proses mendidik anak didik, sehingga perlu di integrasikan kedalam kurikulum itu.[5]
                                                                                                                 
B.     PrinsipKurikulum
Salah satu komponen pendidikan sebagai system adalah materi. Materi pendidikan ialah semua bahan pelajaran yang disampaikan pada peserta didik dalam suatu sistem institusional pendidikan. Materi pendidikan ini lebih dikenal dengan istilah kurikulum. Sedangkan kurikulum merujuk pada materi yang sebelumnya telah disusun secara sistematis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Prinsip-prinsip kurikulum sebagai berikut:
1.      Prinsip pertama
Prinsip pertama adalah pertautan yang sempurna dengan agama, termasuk ajaran dan nilainya. Maka setiap yang berkaitan dengan kurikulum, termasuk falsafah, tujuan, kandungan, metode mengajar, cara-cara perlakuan, dan hubungan yang berlaku dalam lembaga pendidikan harus berdasarkan agama Islam, keutamaan, cita-citanya, yang tinggi, dan bertujuan untuk membina pribadi yang mungin kemauan yang baik, dan hati murni yang selalu waspada.
2.      Prinsip kedua
Prinsip kedua adalah prinsip menyeluruh (universal) pada tujuan dan kandungan kurikulum. Kalau tujuannya harus meliputi semua yang berguna untuk membina pribadi pelajar yang berpadu dan membina aqidah, akal dan jasmaniah. Begitu juga yang bermanfaat bagi masyarakat dan perkembangan spiritual, kebudayaan, social, ekonomi dan politik, termasuk ilmu agama, bahasa, kemanusiaan, fisik, professional, seni rupa dan lain-lain.
3.      Prinsip ketiga
Prinsip yang ketiga adalah keseimbangan yang relative antara ujuan dan kandungan kurikulum. Kalau perhatian pada aspek spiritual dan ilmu syariat yang lebih besar, maka aspek spiritual tidak boleh melampaui aspek penting yang lain dalam kehidupan, juga tidak boleh melampaui ilmu, seni dan kegiatan yang harus diadakan untuk individu dan masyarakat. Ini karena agama Islam yang menjadi sumber ilham kurikulum dalam menciptakan falsafah dan tujuannya, menekankan kepentingan dunia dan akhirat, serta mengikuti kepentingan jasmani akal dan jiwa dan kebutuhan tiap segi ini. Oleh sebab itu, kaum muslimin harus memilih jalan tengah, keseimbangan dan keseerhanaan dalam segala sesuatu.
4.      Prinsip keempat
Prinsi keempat berkaitan dengan bakat, minat kemampuan, dan kebutuhan pelajar, begitu juga dengan alam sekitar fisik dan social tempat pelajar itu hidup dan berinteraksi untuk memperoleh pengetahuan, kemahiran pengalaman dan sikapnya. Dengan memelihara prinsip ini, kurikulum akan lebih sesuai dengan sifat semula jadi pelajar, lebih memenuhi kebuthannya dan lebih sejalan dengan suasana alam sekitar dan kebutuhan masyarakat.
5.      Prinsip kelima
Prinsip kelima adalah pemeliharaan perbedaan individual antara pelajar dan bakat, minat, kemampuan, kebutuhan dan masalahnya, dan juga pemeliharaan perbedaan dan kelainan di antara alam sekitar dan amasyarakat. Pemeliharaan ini dapat menambah kesesuaian kurikulum dangan kebutuhan pelajar dan masyarakat serta menambahkan fungsi dan gunanya sebagaimana dalam menambahkan keluwesannya.
6.      Prinsip keenam
Prinsi keenam adalah prinsip perkembangan dan perubahan Islam yang menjadi sumber pengambilan falsafah, prinsip, dasar kurikulum. Metode mengajar pendidikan Islam mencela sifat meniru (taklid) secara membabi buta adapun bertahan pada suatu yang kuno yang diwarisi dan mengikutinya tanpa selidik. Islam mengalahkan perkembangan dan perubahan yang berlaku dalam kehidupan.
7.      Prinsip ketujuh
Prinsip ketujuh adalah prinsip pertautan antara mata pelajaran, pengalaman dan aktiva yang terkandung dalam kurikulum. Begitu juga pertautan antara kandungan kurikulum dan kebutuhan murid, kebutuhan masyarakat, tuntunan zaman tempat pelajar berada. Begitu juga dengan perkembangan yang logis yang tidak melupakan kebutuhan, bakat, dan minat murid.[6]

C.    Karakteristik Kurikulum Pendidikan Islam
Secara umum karakteristik kurikulum pendidikan Islam adalah pencerminan nilai-nilai islami yang dihasilkan dari pemikiran kefilsafatan dan manifestasi dalam seluruh aktivitas dan kegiatan pendidikan dalam prakteknya. Dalam konteks ini harus di fahami bahwa karakteristik kurikulum pendidikan islam senantiasa memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan dengan primsip-prinsip yang telah diletakkan Allah Swt dan Rasul-nya, Muhammad Saw. Konsep inilah yang membedakan kurikulum pendidikan islam dengan kurikulum pendidikan pada umumnya.
Menurut Omar Muhammad at-Toumy Al-Syaibany, diantara ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam adalah[7]:
1.      Mementingkan tujuan agama dan akhlak dalam berbagai hal seperti tujuan dan kandungan, kaedah, alat dan tekniknya.
2.      Meluaskan perhatian dan kandungan hingga mencakup perhatian, pengembangan serta bimbingan terhadap segala aspek pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologi, sosial, dan spiritual. Begitu juga cakupan kandungannya termasuk bidang ilmu, tugas dan kegiatan yang bermacam-macam.
3.      Adanya prinsip keseimbangan antara kandungan kurikulum tentang ilmu dan seni, pengalaman dan kegiatan dan kegiatan pengajaran yang bermacam-macam.
4.      Menekankan konsep yang menyeluruh dan keseimbangan pada kandungannya yang tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu teoritis, baik yang bersifat aqli maupaun naqli, tetapi juga meliputi seni halus, aktivitas pendidikan jasmani, latihan militer, teknik, pertukangan, bahasa asing dan lain-lain.
5.      Keterkaitan antara kurikulum pendidikan islam dengan minat, kemampuan, keperluan, dan perbedaan individu antara siswa. Disamping itu juga keterkaiatannya dengan alam sekitar budaya dan sosial dimana kurikulum dilaksanakan.

Karakteristik kurikulum sebagai program pendidikan islam sebagaimana dikemukakan diatas selanjutnya tidak hanya menempatkan anak didik sebagai objek didik yang sedang mengembangkan diri menuju kedewasaan menuju konsepsi islam. Karenanya kurikulum tersebut tidak akan bermakna apapun apabila tidak dilaksanakan dalam suatu situasi dan kondisi dimana tercipta interaksi edukatif yang yang timbal balik antara pendidik disatu sisi dengan peserta didik disisi lain. Disini terlihat ciri khas kurikulum pendidikan islam yang memandang peserta didik sebagai makhluk potensial untuk mengembangakan dirinya sendiri melalui berbagai aktivitas pendidikan. Pendidik dan seluruh komponen pendidikan lainnya, termasuk kurikulum, hanya merupakan media atau sarana yang harus menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan bagi proses pengembangan totalitas potensi yang dimilki peserta didik itu menuju kesempurnaan secara optimal.[8]




D.    Tujuan Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan islam bertujuan memberi sumbangan untuk mencapai perkembangan menyeluruh dan berpadu bagi pribadi pelajar, membuka tabir tentang bakat-bakat dan kesediaannya dan mengembangkannya mengembangkan minat, kecakapan, pengetahuan, kemahiran dan sikap yang diingini. Menanamkan padanya kebiasaan, akhlak dan sikap yang penting bagi kejayaannya dalam hidup dan kemahiran asas untuk memperoleh pengetahuan. Menyiapkannya untuk memikul tanggungjawab dan peranan-peranan yang diharapkan daripadanya dalam masyarakatnya. Dan mengembangkan kesadaran agama, budaya, pemikiran, sosial dan politik pada dirinya.
Disamping itu dia juga bertujuan untuk memberi sumbangan dalam perkembangan yang menyeluruh dan terpadu bagi masyarakat islam, memperkuat pribadi islam yang berdiri sendiri, memelihara kebudayaan dan peninggalannya dan mengembangkan serta membaharuinya terus menerus, mencapai kemajuan, perubahan yang diinginkan, kesatuan, kekuatan, keteguhan, kemuliaan, kebebasan dan kebebasan anggota-anggotanya dan memenuhi kebutuhannya kepada tenaga-tenaga ilmiah, teknis dan tenaga kerja terampil.
Disamping tujuan-tujuan umum bagi kurikulum dalam pendidikan islam, ada lagi tujuan-tujuan umum dan tujuan pokok bagi  tiap tahap diantara tahap-tahap pendidikan dan bagi tiap macam pendidikan, bahkan bagi tiap ilmu dan mata pelajaran atau kursus atau aktivitas yang terkandung  dalam kurikulum. Tetapi tidaklah menjadi tujuan kita dalam kajian filsafat ini untuk berbicara tentang tujuan-tujuan ini.[9]


[1] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Jakarta Pers, 2002).h. 55-56
[2] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1979), h.478
[3] Samsul Nizar, Op.,Cit.h. 55
[4]Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam,(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994)h.45
[5]H.M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994). Hh..84-85
[6]Hamdani Ihsan, dkk. Filsafat Pendidikan Islam. (Bandung:Pustaka Setia, 2007) hh.133-135.
[7]  Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama:2005)h:179                  
[8]  Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam(Jakarta,Ciputat Pers:2002)h:62
[9]Omar Mohammad, Op.cit. hh. 533-534

Tidak ada komentar:
Write komentar