Rabu, 07 Mei 2014

Makalah Analisis Pengembangan Kurikulum PAI SMA Tentang Pengembangan Bahan Ajar PAI

Toto Si Mandja - Makalah Analisis Pengembangan Kurikulum PAI SMA Tentang Pengembangan Bahan Ajar PAI


BAB II
PEMBAHASAN
   A.    Pengertian, Landasan dan Prinsip Bahan Ajar PAI
1.      Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan.Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai.
Bahan ajar atau isi kurikulum adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada siswa sebagai pemelajar dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi mata-mata pelajaran yang harus dipelajari siswa dan isi program masing-masing mata pelajaran tersebut. Jenis-jenis mata pelajaran ditentukan atas dasar tujuan institusional atau tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan (sekolah/madrasah/pondok pesantren dan lembaga pendidikan lain yang bersangkutan).[1]

2.      Landasan Bahan Ajar
Tiga landasan pengembangan kurikulum, yakni landasan filosofil, psikologis, dan landasan sosiologis-teknologis. Ketiga landasan tersebut diuraikan di bawah ini.
       a.       Landasan Filosofi dalam Pengembangan Kurikulum
Filsafat berasal dari kata Yunani kuno, yaitu dari kata “philos” dan “Sophia”.Philos, artinya cinta yang mendalam¸dan Sophia adalah kearifan atau kebijaksanaan.Tujuan pendidikan harus mengandung ketiga hal berikut:
Autonomy: artinya memberik kesadaran, pengetahuan dan kemampuan yang prima kepada setiap individu dan kelompok untuk dapat mandiri dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik.
Equity: artinya pendidikan harus memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kebudayaan dan  ekonomi.
Survival: artinya pendidikan bukan saja harus dapat menjamin terjadinya pewarisan dan memperkaya kebudayaan dari generasi ke generasi akan tetapi juga harus memberikan pemahaman akan saling ketergantungan antara manusia
     b.      Landasan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum
Secara psokologis, anak didik memiliki keunikan dan perbedaan-perbedaan baik perbedaan minat, bakat, maupun potensi yang dimilikinya sesuai dengan tahapan perkembangannya.Dengan alasan itulah, kurikulum harus memperhatikan kondisi psikologis perkembangan dan belajar anak.
1)      Psikologi Anak
Salah satu hal yang perlu diketahui tentang anak, adalah masa-masa perkembangan mereka. Menurut Piaget, perkembangan intelektual setiap individu berlangsung dalam tahapan-tahapan tertentu. Yaitu 4 fase sebagai berikut:
a)      Sensorimotor, baru lahir-2 tahun
b)      Praoperasional, 2-7 tahun
c)       Operasional konkret, 7-11 tahun, dan
d)      Operasional formal, 11- 14 tahun ke atas.
2)      Psikologi Belajar
Perkembangan kurikulum tidak akan terlepas dari teori belajar. Sebaba, pada dasarnya kurikulum disusun untuk membelajarkan siswa. Banyak teori yang membahas tentang belajar sebagai proses perubahan perilaku. Namun, demikian, setiap teori itu berpangkal dari pandangan tentang hakikat manusia.
        c.       Landasan Sosiologis–Teknologis dalam Pengembangan Kurikulum
Sekolah berfungsi untuk mempersiapkan anak didik agar mereka dapat berperan aktif di masyarakat. Oleh karena itu, kurikulum sebagai alat dan pedoman dalam proses pendidikan di sekolah harus relevan dengan tuntuan masyarakat. Dengan demikian dalam konteks ini, sekolah bukan hanya berfungsi untuk mewariskan kebudayaan dan nilai-nilai suatu masyarakat, akan tetapi juga sekolah berfumngsi untuk mempersiapkan anak didik dalam kehidupan masyarakat. Oleh Karena itu, kurikulum bukan hanya berisi berbagai nilai suatu masyarakat akan tetapi bermuatan segala sesuatu yang dibutuhkan masyarakat.
3.      Prinsip Bahan Ajar
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan.
      1.      Prinsip relevansi
Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar.Sebagai misal, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau ghbahan hafalan.
      2.      Prinsip konsistensi
Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam.Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah pengoperasian bilangan yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
      3.      Prinsip kecukupan
Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.
Materi ajar pada hakekatnya adalah isi kurikulum yang dikembangkan dan disusun dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
     1.      Materi kurikulum berupa bahan pelajaran yang terdiri dari bahan kajian atau topik-topik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses pembelajaran.
      2.      Mengacu pada pencapaian tujuan setiap satuan pelajaran.
      3.      Diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.[2]
Disamping prinsip-prinsip tersebut, pengembang kurikulum hendaknya juga memperhatikan aspek-aspek yang ada dalam isi kurikulum, yaitu:
      1.      Teori, yaitu seperangkat konstruk atau konsep, definisi atau preposisi yang saling berhubungan.
      2.      Konsep, yaitu suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhusus-khususan.
      3.      Generalisasi, yaitu kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.
    4.      Prinsip, yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep.
     5.      Prosedur, yaitu serangkaian langkah-langkah yang berurutan yang ada dalam materi pelajaran dan harus dilakukan oleh siswa. 
     6.      Fakta, yaitu sejumlah informasi khusus dalam materi yang dipandang mempunyai kedudukan penting.  
     7.      Istilah, yaitu kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus, yang diperkenalkan dalam materi.
    8.      Contoh atau ilustrasi, yaitu sesuatu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas, sehingga suatu uraian/pendapat menjadi lebih jelas dan mudah dimengerti oleh pihak lain.
    9.      Definisi, yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal, suatu kata dalam garis besarnya.
     10.  Preposisi, yaitu suatu pernyataan atau pendapat yang tak perlu diberi argumentasi.[3]
   B.     Karakteristik Bahan Ajar
Hilda Taba (1962) mengemukakan karakteristik untuk memilih isi materi kurikulum, yaitu:
1.      Materi harus sahih dan signifikan, artinya menggambarkan pengetahuan mutakhir.
2.      Relevan dengan kenyataan sosial dan kultur agar anak lebih memahaminya.
3.      Materi harus seimbang antara keluasan dan kedalaman.
4.      Materi harus mencakup berbagai ragam tujuan.
5.      Sesuai dengan kemampuan dan pengalaman peserta didik.
6.      Materi harus sesuai kebutuhan dan minat peserta didik.
Pengembangan materi kurikulum PAI  ada beberapa hal yang harus di perhatikan, di antaranya sebagai berikut:
1.        Sumber-sumber materi kurikulum
Isi atau materi kurikulum harus bersumber pada 3 hal sebagai berikut:
a.       Masyarakat beserta budayanya
b.      Siswa
c.       Ilmu pengetahuan
Dalam menentukan isi kurikulum ketiga sumber tadi harus digunakan secara seimbang.Isi kurikulum yang terlalu menonjolkan salah satu aspek dapat mempengaruhi keseimbangan makna pendidikan.
2.        Tahap penyeleksian materi  kurikulum
Tahap penyeleksian materi kurikulum merupakan langkah-langkah yang harus dilaksanakan  oleh pengembang materi kurikulum dalam menentukan isi atau muatan kurikulum. Ada beberapa tahap dalam menyeleksi bahan kurikulum yakni:
a.       Identifikasi kebutuhan (need assesment)
b.      Mendapatkan bahan kurikulum(assess the curriculum materials )
c.        Analisis bahan(analyze the materials)
d.      Menilai bahan kurikulum(appraisal of curriculum materials)
e.       Membuat keputusan mengadopsi bahan(make an adoption decision)
3.        Kriteria penetapan materi kurikulum
Secara umum ada beberapa pertimbangan dalam menetapkan materi kurikulum baik khususnya ditinjau dari sudut siswa, yakni:
a.       Tingkat kematangan siswa
b.      Tingkat pengalaman anak
c.       Tarap kesulitan materi
   C.    Langkah-langkah Pengembangan Bahan Ajar
Sebelum melaksanakan pemilihan bahan ajar, terlebih dahulu perlu diketahui kriteria pemilihan bahan ajar.Kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Setelah diketahui kriteria pemilihan bahan ajar, sampailah kita pada langkah-langkah pemilihan bahan ajar, yaitu:
1.      Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar.
2.      Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaran.
3.      Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
4.      Memilih sumber bahan ajar.



[1]Sholeh Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 62
[2]Ibid, hlm. 62
[3]Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 89

Tidak ada komentar:
Write komentar