Rabu, 07 Mei 2014

Makalah Analisis Pengembangan Kurikulum PAI SMA Tentang Penerapan Model Beauchamp dalam Pengembangan Kurikulum PAI

Toto Si Mandja - Makalah Analisis Pengembangan Kurikulum PAI SMA Tentang Penerapan Model Beauchamp dalam Pengembangan Kurikulum PAI


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Model Perkembangan Kurikulum
Model  pengembangan  kurikulum  merupakan  suatu alternatif  prosedur  dalam rangka  mendesain    (designing),  menerapkan     (implementation),  dan  mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus dapat  menggambarkan  suatu proses  sistem  perencanaan  pembelajaran  yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan pendidikan (Ruhimat, T. dkk, 2009: 74).
Pengembangan kurikulum perlu dilakukan dengan berlandaskan pada teori yang tepat agar kurikulum yang berhasil  bisa  efektif. Banyak model pengembangan  kurikulum yang telah ada dan masing-masing dari model pengembangan kurikulum memiliki karakteristik yang sama,  yang mengacu berbasis pada tujuan  yang akan dicapai dalam kurikulum tersebut. Agar dapat mengembangkan kurikulum yang  baik, sebaiknya para ahli kurikulum memahami dengan terperinci berbagai model pengembang kurikulum. Yang dimaksud dengan model pengembang kurikulum adalah langkah  atau prosedur  yang sistematis dalam penyusunan kurikulum. Sehingga terjadi keseimbangan  antara teori dan praktik mengenai kurikulum.

B.     Model PengembanganKurikulum Beauchamp
Model  ini  dikembangakan  oleh  George  A.  Beuchamp,  seorang ahli  kurikulum. Dalam bukunya “Curriculum Theory” beliau mengemukakan adanya lima langkah kritis dalam pengambilan keputusan pengembangan kurikulum, diantaranya yaitu:
1.      Adanya arena untuk rekayasa kurikulum, yakni ruang lingkup pengembanganya.(Mulyasa, 2006: 102) Arena itu bisa berupa kelas, sekolah, system persekolahan regional atau system pendidikan nasional. (Zaenal Arifin, 2012 ) pendapat lain mengatakan arena ini bisa saja mencakup satu kecamatan, kabupaten/ kota, atau mungkin tingkat provinsi sampai tingkat nasional. Penetapan arena ini ditentukan oleh wewenang yang dimiliki oleh pengambilan kebijaksanaan dalam pengembangan kurikulum. (Sholeh Hidayat, 2013: ) Dengan demikian apabila ingin mengembangkan kurikulum perlua adanya arena (wilayah) yang akan melakukan perubahan suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam perlu adanya penetapan wilayah yang akan mengadakan perkembangan kurikulum dengan dilandasi oleh wewenang dan tujuan pengembangan kurikulum itu sendiri.
2.      Menetapkan personalia, yaitu siapa-siapa yang turut serta terlibat dalam pengembangan kurikulum. Ada empat kategori orang yang turut berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Seperti para ahli/ spesialis kurikulum, para ahli pendidikan termasuk di dalamnya para guru, para professional dan tenaga lain dalam bidang pendidikan (Sholeh Hidayat, 2013: ) ditambahkan dalam pendapat lain yaitu mengikutsertakan masyarakat yang representative. Penentuan orang-orang yang terlibat disesuaikan dengan arena pengembangan kurikulum. (Zainal Arifin, 2012: ). Dengan demikian bahwa apabila ingin mengembangkan kurikulum Pendidikan Agama Islam perlu adanya keterlibatan dan pemilihan personalia demi tercapainya kurikulum yang sesuai dengan apa yang diinginkan.
3.      Menetapkan organisasi dan prosedur yang akan ditempuh yaitu dalam merumuskan tujuan umum (SK) dan tujuan khusus (KD), memilih isi dan pengalaman belajar serta menentukan evaluasi.(sholeh) Adapun pendapat lain bahwa perlu adanya pemilihan materi dan penetapan kegitan belajar. (Mulyasa, 2006: 102) Bisa digambarkan sistematis prosedur pelaksanaanya yaitu (Sholeh Hidayat, 2013):
a.       Membentuk tim pengembangan kurikulum
b.      Melakukan penilaian terhadap kurikulum yang sedang berjalan.
c.       Melakukakan studi tentang penentuan kurikulum baru.
d.      Merumuskan criteria dan alternative pengembangan kurikulum
e.       Menyusun dan menulis kurikulum yang dikehendaki.
4.      Implementasi kurikulum, pada tahap ini perlu dipersiapkan secara matang berbagai hal yang dapat berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap efektivitas penggunaan kurikulum seperti pemahaman guru tentang kurikulum, sarana/fasilitas yang tersedia dan manajemen sekolah. (Sholeh Hidayat, 2013)
5.      Melaksanakan evaluasi kurikulum yang menyangkut: (Sholeh Hidayat, 2013)
a.       Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di sekolah.
b.      Evaluasi terhadap desain kurikulum
c.       Evaluasi keberhasilan belajar siswa
d.      Evaluasi dari keseluruhan system kurikulum

Secara umum, model ini sudah dianggap lengkap, namun masih terdapat berbagai pertanyaan yang tidak terjawab dalam proses rekayasa kurikulum. Dalam beberapa hal, model ini hamper sama dengan model administrative, terutama dalam orientasinya dari atas ke bawah.

Tidak ada komentar:
Write komentar