Sabtu, 17 Mei 2014

Hubungan Tasawuf dengan Akhlak

Toto Si Mandja - Hubungan Tasawuf dengan Akhlak

Tasawuf adalah ilmu yang dengannya dapat diketahui kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari sifat-sifat yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, atau ilmu untuk memperbaiki hati sehingga tasawuf dapat diartikan bersihnya hati dan tertujunya hati hanya kepada Allah.

Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Basyar bin Harist, "Seorang sufi adalah orang yang dapat menyucikan hatinya untuk Allah SWT". Sedangkan Akhlak adalah kebiasaan dari Perilaku manusia yang berjalan sehari-hari atau sebagaimana disampaikan Al-Ghazali, "Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang menjadi pendorong timbulnya perbuatan seara mudah dengan tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu."

KH. Kholil mengutip pendapat Athailah Askandariyah yang mengatakan bahwa "akhlak adalah sesuatu yang tersimpan di dalam rahasia hati yang tersembunyi, lahir dan nyata pada perilaku-perilaku yang dapat dilihat dengan mata telanjang". Rasulullah bersabda, "Jika hati ini khusyuk (semata-mata niat ikhlas karena Allah) akan khusyuk pula segala anggota badan lahiriyahnya."

Jika akhlak seseorang baik, akan senantiasa baik pula hatinya. Tidak mungkin seorang penjahat, penjudi atau kriminalis, hatinya mulia, atau sebaliknya orang yang menjaga dirinya dari kemaksiatan dan rendah hati lalu hatinya busuk. Bagaimanapun suasana batin akan memengaruhi suasana lahir, karena kedua hal itu tidak dapat dipisahkan.

Jika dilihat dari definisi diatas, maka dapat dipahami bahwa terbentuknya akhlak pada diri manusia sangat memengaruhi oleh aspek internal atau kejiwaan manusia itu sendiri. Akan tetapi, perlu diakui bahwa jiwa manusia tidak selamanya berada dalam kondisi yang stabil, tapi justru seringkali mengalami kondisi yang goncang, yang mudah mengarahkan pemiliknya pada perilaku menyimpang. Oleh karena itu, untuk sampai pada kesempurnaan, jiwa manusia membutuhkan latihan-latihan spiritual melalui perjalanan menuju Allah secara benar dan sempurna, membutuhkan norma dan nilai yang secara murni dapat membentuk moralitas yang luhur, yang dengannya manusia mencapai kebahagiaan sejati.

Uraian diatas memberikan gambaran bahwa ada hubungan kuasalitas yang erat antara akhlak dan tasaawuf seperti hubungan ibu dengan anak, dimana masing-masing memberikan peran yang sangat vital terhadap yang lain. Tasawuf memberikan nilai dasar terhadap akhlak dan akhlak mewarnai pembentukan nilai-nilai sufistik manusia.

Tidak ada komentar:
Write komentar