Senin, 07 April 2014

Psikologi Kepribadian Tentang Teori Kepribadian Erik Erikson

Toto Si Mandja - Teori Kepribadian Erik Erikson

A.    Ego Kreatif
Erikson memandang ego sebagai kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri secara kreatif dan otonom. Ego mempunyai kreatifitas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tidak hanya ditentukan faktor internal (berasal dari dalam diri individu) tetapi juga ditentukan oleh faktor sosial dan budaya tempat individu itu berada.

Erikson menggambarkan adanya sejumlah kualitas yang dimiliki ego yang tidak ada pada psikoanalisis Freud, yakni kepercayaan dan penghargaan otonomi dan kemauan, kerajinan, dan kopetensi, identitas dan kesetiaan, keakraban dan kecintaan, generativitas dan pemeliharaan serta integritas. Ego semacam itu disebut Ego Kreatif, ego yang dapat menemukan pemecahan kreatif atas masalah pada setiap tahap kehidupan.

Ego bukan budak tetapi justru menjadi pengatur id, superego, dan dunia luar. Jadi, ego disamping hasil proses faktor-faktor genetik, fisiologik, dan anatomis, juga dibentuk oleh konteks kultural dan historis.



B.     Ego Otonomi Fungsional
Teori ego dari Erikson yang dapat dipandang sebagai pengembangan dan teori perkembangan seksual-infantil dari Freud mendapat pengakuan yang luas sebagai teori yang khas, berkat pandangannya bahwa perkembangan kepribadian mengikuti prinsip epigenetic. Bagi organism, untuk mencapai perkembangan penuh dengan dari struktur biologis potensialnya, lingkungan harus member simulasi yang khusus. Menurut Erikson, fungsi psikoseksual dari Freud yang bersifat biologis dan bersifat epigeneis, artinya psikoseksual untuk berkembang membutuhkan stimulasi khusus dari lingkungan, dalam hal ini yang tepenting adalah lingkungan sosial.

 Sama seperti Freud, Erikson menganggap hubungan ibu-anak menjadi bagian penting dari perkembangan kepribadian. Tetapi Erikson tidak membatasi teori hubungan id-ego dalam bentuk usaha memuaskan kebutuhan id oleh ego. Menurutnya situasi memberi makan merupakan model interaksi sosial antara bayi dan dunia luar.



C.    Teori Perkembangan Psikososial
Ø  Pada tahun pertama kehidupannya, bayi belajar untuk memercayai atau tidak memercayai dunia sekitarnya, melalui hubungan maternal dengan ibunya.
ØJika kepercayaan tidak terbentuk, ia akan mengalami kesulitan untuk bergerak menuju tahap kedua.

ü  

Pada tahap ini, anak mencoba untuk mengembangkan kemandirian, dengan latihan menentukan pilihan dan mempertahankan kontrol diri.

ü  Jika ia tidak dapat melewati tahap ini dengan baik, dapat terjadi keraguan tentang kemandirian dan keadilan.
            Otonomi bagi usia ini bukan berarti bahwa mereka dapat mengambil inisiatif sendiri dan mampu melakukan semuanya sendiri, namun lebih kepada kemampuan menunjukkan keinginannya sendiri, menolak sesuatu yang tidak dikehendaki, dan mencoba sesuatu yang diinginkan.



Ø Anak mulai berinisiatif untuk melakukan aktivitas, melakukan kontrol dan membuat sesuatu terjadi. Mereka mencoba untuk mengembangkan perilaku bertujuan.

Ø   Jika inisiatif tidak diperkenankan, anak akan merasa bersalah terhadap kemandiriannya dan mulai mengembangkan ketergantungan pada orang lain.

o   Selama tahap ini anak-anak yang berkembang secara sehat akan belajar :
·         Berimajinasi untuk memperluas keterampilannya termasuk dalam bermain
·         Bekerja sama dengan orang lain
·         Memimpin dan dipimpin
o   Anak-anak yang kurang dapat berkembang secara sehat akan mengalami :

·         Ketakutan
·         Kurang dapat bergabung dalam kelompok
·         Lebih tergantung pada orang dewasa

·         Terhambat perkembangan imajinasi dan perilaku bermainnya

Ø  Pada tahap ini anak terlihat produktif dan memiliki rasa ingin tahu tentang dunia sekitar mereka. Belajar dan sekolah merupakan faktor yang penting dalam meraih tujuan utamanya.

Ø  Jika tahap ini terputus, anak dapat merasa rendah diri dan ragu-ragu untuk menghadapi tugas di masa depan.


Ø Individu mulai memerhatikan penampilan mereka dan bagaimana orang lain melihat mereka. Ego merupakan hal penting pada periode ini.

Ø  Individu mencoba mencari identitas diri, merasakan keunikan masing-masing, dan mencari bayangan masa depannya.
Ø  Jika keinginan ini tercapai, remaja dapat mengalami kekacauan peran.


üTahap di mana seseorang mulai mengembangkan komitmen kepada orang lain. Ia menginginkan kepercayaan dan berbagi dalam suatu hubungan.

ü  Jika tahap ini tidak berkembang, ia dapat merasakan terisolasi dan sendirian di dunia ini.


ØPada tahap ini, individu ingin memangku tanggung jawab bagi keluarga dan pekerjaannya. Mereka mulai merasakan kemandirian dan dapat memenuhi kebutuhan dirinya, mulai memiliki arah kehidupan bagi generasi selanjutnya.

Ø  Jika tahap ini tidak terpenuhi, perasaan kekosongan muncul, individu mulai menjadi terpusat pada diri sendiri dan tidak aktif secara sosial.

ü  Individu mulai melakukan refleksi terhadap masa lalu, apa yang telah dicapai dan menemukan arti dari pencapaian tersebut.

ü  Mereka juga mulai mempersiapkan kematian yang terhormat dan penuh harga diri.
ü  Jika tahap ini berkembang positif, kematian akan dijemput dengan damai. Namun, jika tahap ini tidak berkembang, individu akan merasa kehidupan tidak berarti, tujuan tidak terpenuhi dan kematian adalah hal yang sangat menakutkan.






Tidak ada komentar:
Write komentar