Senin, 07 April 2014

Makalah Psikologi Agama Tentang Perkembangan Agama pada Masa Dewasa dan Usia Lanjut

Toto Si Mandja - Makalah Psikologi Agama Tentang Perkembangan Agama pada Masa Dewasa dan Usia Lanjut


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Periode Perkembangan
Para ahli psikologi perkembangan membagi perkembangan manusia berdasarkan usia menjadi beberapa tahapan atau periode perkembangan. Secara garis besarnya periode perkembangan itu terbagi menjadi:
1.      Masa prenatal;
2.      Masa bayi;
3.      Masa kanak-kanak;
4.      Masa prapubertas;
5.      Masa pubertas (remaja);
6.      Masa dewasa;
7.      Masa usia lanjut.

Setiap masa perkembangan memiliki ciri-ciri tersendiri, termasuk jiwa keagamaan. Sehubungan dengan kebutuhan manusia dan periode perkembangan tersebut, maka dalam kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan akan dilihat bagaimana pengaruh timbal balik antara keduanya. Dengan demikian, perkembangan jiwa keagamaan juga akan dilihat dari tingkat usia dewasa dan usia lanjut.[1]
B.     Sikap Keberagamaan pada Orang Dewasa
Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian:
a.       Masa Dewasa Awal (Masa Dewasa Dini/Young Adult)
b.      Masa Dewasa Madya (Midle Adulthood)
c.       Masa Dewasa Lanjut (masa tua/older adult)[2]
Pembagian senada juga diungkap oleh beberapa ahli psikologi. Lewis Sherril, misalnya, membagi masa dewasa sebagai berikut:
a.       Masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambil dengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.
b.      Masa dewasa tengah, sudah mulai menghadapi tantangan hidup, sambil memantapkan tempat dan mengembangkan filsaafat untuk mengolah kenyataan yang tidak disangka-sangka. Jadi masalah sentral pada masa ini adalah mencapai pandangan hidup yang matang dan utuh yang dapat menjadi dasar dalam membuat keputusan secara konsisten.
c.       Masa dewasa akhir, ciri utamanya adalah ‘pasrah’. Pada masa ini, minat dan kegiatan kurang beragama. Hidup menjadi kurang rumit dan  lebih berpusat pada hal-hal yang sungguh-sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua.[3]
Charlotte Buchler melukiskan tiga masa perkembangan pada periode prapubertas, periode pubertas dan periode adolesen dengan semboyan yang merupakan  ungkapan batin mereka. Di periode prapubertas oleh Charlotte dengan kata-kata: “Perasaan saya tidak enak, tetapi tidak tahu apa sebabnya.” Untuk periode pubertas ia melukiskan sebagai berikut: “Saya ingin sesuatu, tetapi saya tidak tahu ingin akan apa.” Adapun dalam periode adolesen, ia mengemukakan dengan kata-kata: “Saya hidup dan saya tahu untuk apa.”
Kata-kata yang digunakan Charlotte tersebut mengungkapkan betapa masih labilnya kehidupan jiwa anak-anak ketika menginjak usia menjelang remaja dan di usia remaja mereka. Sebaliknya, saat telah menginjak usia dewasa terlihat adanya kemantapan jiwa mereka: “Saya hidup dan saya tahu untuk apa.” menggambarkan bahwa di usia dewasa orang sudah memiliki tanggung jawab serta sudah menyadari makna hidup. Dengan kata lain, orang dewasa sudah memahami  nilai-nilai yang dipilihnya dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipilihnya. Orang dewasa sudah memiliki identitas yang jelas dan kepribadian yang mantap.[4]
Kemantapan jiwa orang dewasa ini setidaknya memberikan gambaran tentang bagaimana sikap keberagamaan pada orang dewasa. Mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap system nilai yang dipilihnya, baik system nilai yang bersumber dari ajaran agama maupun yang bersumber dari norma-norma lain dalam kehidupan. Pokoknya, pemilihan nilai-nilai tersebut telah didasarkan atas pertimbangan pemikiran yang matang. Berdasarkan hal ini, maka sikap keberagamaan seseorang di usia dewasa sulit untuk diubah. Jika pun terjadi perubahan mungkin proses itu terjadi setelah didasarkan atas pertimbangan yang matang.
Sebaliknya, jika seorang dewasa memilih nilai yang bersumber dari nilai-nilai nonagama, itu pun akan dipertahankannya sebagai pandangan hidupnya. Kemungkinan ini member peluang bagi munculnya kecenderungan sikap yang anti agama, bila menurut pertimbangan akal sehat, terdapat kelemahan-kelemahan tertentu dalam ajaran agama yang dipahaminya. Bahkan tak jarang sikap antiagama seperti itu diperlihatkannya dalam bentuk sikap menolak hingga ke tindakan memusuhi agama yang dinilainya mengikat dan bersifat dogmatis.[5]
Sikap keberagamaan orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Selain itu, sikap keberagamaan ini umumnya juga dilandasi oleh pendalaman pengertian dan perluasan pemahaman tentang ajaran agama yang dianutnya. Beragama, bagi orang dewasa sudah merupakan sikap hidup dan bukan sekedar ikut-ikutan.[6]
Sementara menurut Ericson, masa dewasa muda merupakan pengalaman menggali keintiman (intimacy), kemampuan untuk membaurkan identitas anda dengan identitas orang lain tanpa takut bahwa anda akan kehilangan suatu dari diri anda.
Masa dewasa tengah merupakan masa produktivitas maksimum. Pada masa ini kekuatan watak yang muncul, perhatian (care) rasa prihatin dan tanggung jawab yang menghargai siapa yang membutuhkan perlindungan dan perhatian.
Sementara itu, masa dewasa akhir merupakan  masa kematangan. Masalah sentral dalam masa ini adalah menemukan kepuasan bahwa  hidup yang dijalaninya merupakan penemuan dan penyelesaian pada masa tua, terjadi integrasi emosional, sehingga oleh Ericson disebut sebagai pencapaian kebijaksanaan (widsom). Masa dewasa akhir disebut juga dengan masa usia lanjut.
Ciri-ciri sikap keberagamaan pada masa dewasa:
1.      Menerima keberadaan agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan;
2.      Cenderung bersifat realis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku;
3.      Bersifat positif terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan;
4.      Tingkat ketaatan keagamaan didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri  hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup;
5.      Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas;
6.      Bersikap lebih kritis  terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani;
7.      Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga perhatian terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan ajaran agama.
Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.[7]
C.    Manusia Usia Lanjut dan Agama
Perkembangan manusia dapat digambarkan dalam bentuk garis sisi sebuah trapezium. Sejak usia bayi hingga mencapai kedewasaan jasmani digambarkan dengan garis miring menanjak. Garis itu menggambarkan bahwa selama periode tersebut terjadi proses perkembangan yang progresif. Pertumbuhan fisik berjalan secara cepat hingga mencapai titik puncak perkembangannya, yaitu usia dewasa (22-24 tahun).
Perkembangan selanjutnya digambarkan oleh garis lurus sebagai gambaran terhadap kemantapan fisik yang sudah dicapai. Sejak mencapai usia kedewasaan hingga ke usia sekitar 50 tahun, perkembangan fisik manusia boleh dikatakan tidak mengalami perubahan yang banyak. Usia 50 tahun mulai terjadi penurunan perkembangan yang drastis hingga mencapai usia lanjut. Oleh karena itu, umumnya garis perkembangan pada periode ini disebut sebagai periode regresi (penurunan).[8]
Sejalan dengan penurunan tersebut, maka secara psikis terjadi berbagai perubahan pula. Perubahan-perubahan gejala psikis ini ikut mempengaruhi berbagai aspek kejiwaan yang terlihat dari pola tingkah laku yang diperlihatkan. Rita Atkinson membagi tingkat perkembangan menjadi delapan tahap, yaitu:
1.      Tahun-tahun pertama;
2.      Tahun kedua;
3.      Tahun ketiga hingga tahun keempat;
4.      Tahun keenam hingga pubertas;
5.      Adolesen;
6.      Kedewasaan awal;
7.      Kedewasaan menengah;
8.      Tahun-tahun akhir (usia lanjut).[9]
Pada tahap kedewasan awal (25-40 tahun) mereka memiliki kecenderungan besar untuk hidup berumah tangga, kehidupan sosial yang lebih luas serta memikirkan masalah-masalah agama yang sejalan dengan latar belakang kehidupannya. Pada tahap kedewasaan menengah (40-65 tahun) manusia mencapai puncak periode usia yang paling produktif. Tetapii dalam hubungan dengan kejiwaan, pada usia ini terjadi krisis akibat pertentangan batin antara keinginan untuk bangkit dengan kemunduran diri. Karena itu, umumnya  pemikiran mereka tertuju  pada upaya untuk kepentingan keluarga, masyarakat, dan generasi mendatang. Kecenderungan ini menyebabkan orang yang berada pada usia ini memiliki perhatian bersar terhadap masalah-masalah kemasyarakatan yang bermanfaat. Adapun usia lanjut (diatas 65 tahun) manusia akan menghadapi sejumlah masalah. Permasalahan pertama adalah penurunan kemampuan fisik hingga kekuatan fisik berkurang, aktivitas menurun, sering mengalami gangguan kesehatan dan menyebabkan mereka kehilangan semangat. Pengaruh dari kondisi penurunan kemampuan fisik ini menyebabkan mereka yang berada pada usia lanjut merasa dirinya sudah tidak dihargai atau kurang dihargai.[10]
Mengenai kehidupan keagamaan pada usia lanjut, William James menyatakan, bahwa umur keagamaan yang sangat luar biasa tampaknya justru terdapat pada usia tua, ketika gejolak kehidupan seksual sudah berakhir. Pendapat William James ini masih banyak dijadikan rujukan dalam melihat korelasi antara hidupan keagamaan dan kehidupan sosial. Jika dihubungakn dengan kehidupan esoteric para tokoh-tokoh agamawan seperti biarawan dan biarawati atau pun bara biksu, agaknya korelasi tersebut menampakkan hubungan yang positif.[11]
Ciri-ciri keagamaan pada usia lanjut:
1.      Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan.
2.      Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.
3.      Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh.
4.      Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antarsesama manusia, serta sifat-sifat luhur.
5.      Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjutnya.
6.      Perasaan takut kepada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi (akhirat).[12]
D.    Perlakuan Islam Terhadap Orang Usia Lanjut
Manusia usia lanjut dalam penilaian banyak orang adalah manusia yang sudah tidak produktif lagi. Kondisi fisik rata-rata sudah menurun, sehingga dalam kondisi yang sudah uzur ini berbagai penyakit siap untuk menggrogoti mereka. Dengan demikian, di usia lanjut ini terkadang muncul semacam pemikiran bahwa mereka berada pada sisa-sisa umur menunggu datangnya kematian.[13]
 Menurut Rita Atkinson, sebagian besar orang-orang yang berusia lanjut (70-79 tahun) menyatakan tidak merasa dalam keterasingan dan masih menunjukkan aktivitas yang positif. Tetapi, perasaan itu muncul setelah mereka memperoleh bimbingan semacam terapi psikologis.
Kajian psikologis berhasil mengungkapkan bahwa di usia melewati setengah baya, arah perhatian mengalami perubahan yang mendasar. Bila sebelumnya perhatian diarahkan pada kenikmatan materi dan duniawi, maka pada peralihan ke usia tua ini, perhatian lebih tertuju pada upaya menemukan ketenangan batin. Sejalan dengan perubahan itu, maka masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan akhirat mulai menarik perhatian mereka.[14]
Pada usia senja ini, lazimnya manusia masih ingin memperoleh pengakuan kejayaan dan prestasi masa lalu yang pernah dicapainya. Tetapi setelah kejayaan itu lepas, baik karena pension ataupun tidak aktif lagi dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan. Bila selama karir kepegawaiannya ia pernah menjadi pejabat, maka setelah pension ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan lagi. Perintah dan acungan telunjuknya sudah hambar, karena sudah kehilangan anak buah dan bawahan. Demikian pula bias kasus seperti ini terjadi pada tokoh masyarakat yang pernah dielu-elukan. Setelah mencapai usia senja, akan timbul perasaan diasingkan.[15]
Lain halnya dengan konsep yang dianjurkan oleh Islam. Perlakuan terhadap manusia usia lanjut dianjurkan seteliti dan setelaten mungkin. Perlakuan terhadap orang tua yang berusia lanjut dibebankan kepada anak-anak mereka, bukan kepada badan atau panti asuhan, termasuk panti jompo. Perlakuan terhadap orang tua menurut tuntunan Islam berawal dari rumah tangga. Allah menyebutkan pemeliharaan secara khusus orang tua yang sudah berusia lanjut dengan memerintahkan kepada anak-anak mereka untuk memperlakukan kedua orang tuanya dengan kasih saying.
Sebagai pedoman dalam member perlakuan yang baik kepada kedua orang tua, Allah menyatakan:
* 4Ó|Ós%ur y7/u žwr& (#ÿrßç7÷ès? HwÎ) çn$­ƒÎ) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4$¨BÎ) £`tóè=ö7tƒ x8yYÏã uŽy9Å6ø9$# !$yJèdßtnr& ÷rr& $yJèdŸxÏ. Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& Ÿwur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJƒÌŸ2 ÇËÌÈ
Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan jangan kamu membentak mereka dan ucapkan kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23).[16]
Kemudian, Al-Qur’an melukiskan perlakuan terhadap kedua orang tua:
ôÙÏÿ÷z$#ur $yJßgs9 yy$uZy_ ÉeA%!$# z`ÏB ÏpyJôm§9$# @è%ur Éb>§ $yJßg÷Hxqö$# $yJx. ÎT$u­/u #ZŽÉó|¹ ÇËÍÈ
 Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua mengasihi dan mendidikku waktu kecil.” (QS. Al-Isra: 24).[17]



[1]Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012), h. 86.
[2]Elizabeth, B., Hurlock, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Erlangga, 1990), hlm. 13.
[3]Crapps Roberth W., Perkembangan Kepribadian dan Keagamaan, (Yogyakarta: Kanisius, 1994), hlm. 31.
[4]Jalaluddin, Op. Cit., h. 106.
[5]Ibid., h. 107.
[6]Ibid., h. 108.
[7]Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996), hlm. 95
[8]Jalaluddin, Op. Cit. h. 109.
[9]Ibid.
[10]Ibid., h. 110.
[11]Ibid., h. 112.
[12]Ibid., h. 113.
[13]Ibid., h. 114.
[14]Ibid., h. 115.
[15]Ibid., h. 117.
[16]Ibid., h. 118.
[17]Ibid., h. 119.

Tidak ada komentar:
Write komentar