Senin, 07 April 2014

Makalah Filsafat Pendidikan Islam Tentang Pengertian Filsafat Pendidikan Islam

Toto Si Mandja - Makalah Filsafat Pendidikan Islam Tentang Pengertian Filsafat Pendidikan Islam


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Filsafat
Filsafat menurut asal katanya adalah “cinta akan kebenaran”, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu philos(cinta) dan sophia (kebenaran). Maksud dari “kebenaran” adalah kebenaran yang didasarkan atas penilaian menurut nalar manusia. Karena itu “kebenaran” menurut Plato dan Aristoteles adalah apabila “pernyataan yang dianggap benar itu bersifat koheren (sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir/logis) atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya”. Socrates (470-399 SM) mengatakan berfalsafah merupakan cara berpikir yang radikal, menyeluruh dan mendasar.[1]
Ada dua arti secara epistimologik dari istilah filsafat yang sedikit berbeda. Pertama, apabila istilah filsafat mengacu pada asal kata philien dan sophos, artinya mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (bijaksana dimaksudkan sebagai kata sifat). Kedua, apabila filsafat mengacu pada asal kata philos dan Sophia, artinya adalah teman kebijaksanaan (kebijaksanaan dimaksudkan sebagai kata benda).[2]

B.     Pengertian Filsafat Pendidikan
Berikut ini dikemukakan pengertian filsafat dalam kaitannya dengan pendidikan ada umumnya dari beberapa ahli pikir:
1.      John Dewey memandang pendiikan sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional), menuju kearah tabiat manusia dan manusia biasa. Dari itu maka filsafat pendidikan dapat juga diartikan sebagai teori umum pendidikan.
John Dewey memandang bahwa ada hubungan yang erat antara filsafat dengan pendidikan. Oleh karena itu, tugas filsafat dan pendidikan seiring, yaitu sama-sama memajukan hidup manusia. Ahli filsafat lebih memerhatikan tugas yang berkaitan dengan strategi pembentukan manusia, sedangkan ahli pendidikan bertugas untuk memerhatikan taktik (cara) agar strategi itu menjadi terwujud untuk dalam kehidupan sehari-hari melalui proses kependidikan.[3]
2.      Van Cleve Morris menyatakan, “Secara ringkas kita mengatakan bahwa pendidikan adalah studi filosofis, karena ia pada dasarnya bukan alat sosial semata untuk mengalihkan cara hidup secara menyeluruh kepada setiap generasi, tetapi ia juga menjadi agen (lembaga) yang melayani hati nurani masyarakat dalam perjuangan mencapai hari depan lebih baik.”
Jadi, dilihat dari tugas dan fungsinya, pendidikan harus dapat menyerap, mengolah dan menganalisa serta menjabarkan aspirasi dan idealitas masyarakat. Pendidikan harus mampu mengalihkan dan menanamkan aspirasi dan idealitas masyarakat itu ke dalam jiwa generasi penerusnya. Untuk itu pendidikan harus menggali dan memahaminya melalui pemikiran filosofis secara menyeluruh, terutama tentang problemanya.[4]
3.      Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Touny Al-Syaebani menyebutkan bahwa filsafat pendidikan adalah pelaksanaan pandangan filsafat dan kaidah-kaidah filsafat dalam bidang pengalaman kemanusiaan yang disebut dengan pendidikan.
4.      M. Arifin M.Ed. mengemukakan bahwa filsafat pendidikan adalah upaya memikirkan permasalahan pendidikan.
5.      Ali Khalil Abu Al-Ainain mengemukakan bahwa filsafat pendidikan adalah upaya  berpikir filosofis tentang realitas kependidikan dalam segala lini, sehingga melahirkan teori-teori pendidikan yang berguna bagi kemajuan aktivitas pendidikan itu sendiri.[5]
Maka dengan demikian, filsafat pendidikan adalah filsafat yang memikirkan tentang masalah kependidikan yang akhirnya melahirkan pemikiran tentang pendidikan. Oleh karena ada kaitan dengan pendidikan, filsafat diartikan sebagai teori pendidikan.
Sebenarnya, masalah ada atu tidaknya filsafat pendidikan tidak perlu dipersoalkan lagi, karena masa sekarang ia telah berkembang menjadi suatu disiplin keilmuan yang ada di dalam kubu ilmu pendidikan. Bahkan, ilmu-ilmu pengetahuan selain pendidikan pun hampir semuanya memiliki filsafatnya sendiri. Karena dengan memahami filsafatnya, orang akan dapat mengembangkan secara konsisten ilmu-ilmu pengetahuan yang dipelajari.[6]
C.    Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan Islam lebih menekankan pada keseimbangan dan keserasian perkembangan hidup manusia sebagai berikut:
1.      Menurut Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Touny Al-Syaebani, Pendidikan Islam diartikan sebagai “usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan…” perubahan itu dilandasi dengan nilai-nilai Islam.
Jelas bahwa proses kependidikan merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan di dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual dan social serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana ia hidup. Proses tersebut senantiasa berada dalam nilai-nilai islami, yaitu nilai-nilai yang melahirkan norma-norma syariah dan akhlak karimah.[7]
2.      Menurut Dr. Muhammad Fadil Al-Djamaly, Pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar).[8]
3.      Hasil rumusan Seminar Pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960, memberikan pengertian Pendidikan Islam “Sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.”
Istilah membimbing, mengarahkan, mengasuh, mengajar dan melatih mengandung pengertian usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui proses setingkat demi setingkat menuju tujuan yang ditetapkan, yaitu “menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran sehingga terbentuklah manusia yang berpribadi dan berbudi luhur sesuai ajaran Islam”.[9]
4.      Hasil rumusan Kongres Pendidikan Islam se-Dunia II, melalui seminar tentang Konsepsi dan Kurikulum Pendidikan Islam, tahun 1980, dinyatakan bahwa: Pendidikan Islam ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan pribadi menusia secara menyeluruh melalui latihan-latihan kejiwaan, akal pikiran, kecerdasan, perasaan dan pancaindra. Oleh karena itu, Pendidikan Islam harus mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik spiritual, intelektual, imajinasi (fantasi), jasmaniah, keilmiahannya, bahasanya, baik secara individual meupun kelompok, serta dorongan aspek-aspek itu kea rah kebaikan dan ke arah pencapaian kesempurnaan hidup…”[10]
5.      Penggunaan istilah Al-Tarbiyah berasal dari kata rabb. Walaupun kata ini memiliki banyak arti, akan tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestarian eksistensinya.[11]Istilah Al-Ta’lim telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam. Rasyid Rida mengartikan Al-Ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.[12]Istilah Al-Ta’dib adalah istilah yang paling tepat untuk menunjukkan pendidikan Islam. Konsep ini berdasarkan hadits Nabi: “Tuhan telah mendidikku, maka Ia sempurnakan pendidikanku” (HR. Al-‘Askary dari ‘Ali ra.).[13]
Kaitannya dengan esensi Pendidikan Islam yang dilandasi oleh filsafat pendidikan yang benar dan yang mengarahkan proses kependidikan Islam, Dr. Muhammad Fadil Al-Djamaly, Guru Besar Pendidikan di Universitas Tunisia, mengungkapkan cita-citanya bahwa pendidikan yang harus dilaksanakan oleh umat Islam adalah pendidikan keberagamaan yang berlandaskan keimanan yang berdiri di atas filsafat pendidikan yang bersifat menyeluruh berlandaskan iman pula.
Menurutnya, iman yang benar menjadi dasar dari setiap pendidikan yang benar, karena iman yang benar memimpin manusia kea rah akhklak mulia. Akhlak mulia memimpin manusia ke arah usaha mendalami hakikat dan menuntut ilmu yang benar, sedang ilmu yang benar memimpin manusia kea rah amal saleh.[14]
Dari berbagai pendapat para ahli diatas maka disimpulkan Pendidikan Islam adalah “usaha mengubah tingkah laku individu dengan proses bimbingan terhadap rohani dan jasmani dalam kehidupan pribadi atau masyarakat dan alam sekitarnya melalui proses pendidikan dengan dilandasi nilai-nilai Islam”.
D.    Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat Pendidikan Islam adalah pengetahuan yang membahas segala persoalan yang menyangkut kependidikan yang bersumber pada ajaran Islam, dengan maksud memperoleh jawaban, dan selanjutnya dipergunakan sebagai arah pelaksanaan dan pengembangan pendidikan Islam agar berdampak positif bagi kehidupan umat Islam.[15]
Filsafat Pendidikan Islam secara struktural merupakan bagian dari filsafat Islam dan secara fungsional tidak terlepas dari pendidikan Islam, mempunyai peran dan tujuan tertentu yang terkait dengan Islam sebagai system agama yang universal. Tujuan dan peranan filsafat pendidikan Islam, setidaknya diarahkan pada dua sisi. Pertama, pengembangan konsep-konsep filosofis tentang pendidikan Islam yang implikasinya menghasilkan teori-teori baru yang akan dikembangkan ilmu pendidikan Islam. Kedua, yaitu perbaikan dan pembaruan serta pengembangan pelaksanaan pendidikan Islam.[16]
Secara keseluruhan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Filsafat Pendidikan Islam adalah upaya berpikir filosofis dalam mengubah tingkah laku individu dengan proses bimbingan terhadap rohani dan jasmani dalam kehidupan pribadi atau masyarakat dan alam sekitarnya melalui proses pendidikan dengan dilandasi nilai-nilai Islam yang bersumber pada ajaran Islam.
Sederhananya Filsafat Pendidikan Islam adalah upaya berfikir filosofis tentang realitas kependidikan yang bersumber pada ajaran Islam.



[1]Jalaluddin dan Usman said, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Rajagrafindo Persada), h. 7-8.
[2]Ahmad Tafsir, Pemikiran Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2011), h. 30.
[3]Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 3-4.
[4]Ibid., h. 4-5.
[5]Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan (Bandung: Refika Aditama, 2011), h. 35.
[6]Muzayyin Arifin, Op. Cit. h. 5
[7]Ibid. h. 15.
[8]Ibid. h. 18.
[9]Ibid. h. 15.
[10]Ibid. h. 16.
[11]Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 26.
[12]Ibid. h. 27
[13]Ibid. h. 30.
[14]Muzayyin Arifin, Op. Cit. h. 17.
[15]Ahmad Tafsir, Op. Cit. h. 36.
[16]Ibid. h. 41.

1 komentar:
Write komentar