Minggu, 15 Desember 2013

Makalah Fiqh Sosial Tentang Makanan dan Penyembelihan

Toto Si Mandja - Makalah Fiqh Sosial Tentang Makanan dan Penyembelihan



BAB I
PENDAHULUAN
      A.    Latar Belakang
Setiap benda di permukaan bumi ini menurut hukum aslinya adalah halal, kecuali jika ada larangan dari syara’ atau karena mudarat. Banyak sekali perbedaan mengenai perihal ini. Persoalan ini banyak diteui di tengah masyarakat luas, ada yang memahami dan ada yang kurang memahami. Sebagaimana kita ketahui bahwa memakan makanan yang haram tidak diperbolehkan dalam syariat Islam. Begitu pula dengan cara penyembelihan binatang secara syariat, mempunyai rukun dan ketentuan tersendiri. Hal ini mendorong agaar masyarakat bisa memahami berbagai hukum dan segala hal yang disyariatkan oleh agama.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana macam-macam binatang yang dihalalkan?
2.      Bagaimana cara penyembelihan menurut syariat Islam?
3.      Apakah yang dimaksud berburu dan apa saja binatang yang boleh untuk berburu?
4.      Bagaimana hukum kurban?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui macam-macam binatang yang dihalalkan.
2.      Mengetahui cara penyembelihan menurut syariat Islam.
3.      Mengeahui yang dimaksud berburu dan apa saja binatang yang boleh untuk berburu.
4.      Mengetahui hukum kurban.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Binatang Menurut Tempatnya
Berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah SAW. telah ditanya oleh orang tentang hukum minyak sapi (samin), keju, dan farwah (kulit) binatang beserta bulunya yang dipakai untuk perhiasan atau tempat duduk. Jawab beliau, ”Barang yang dihalalkan oleh Allah dalam kitab-Nya adalah halal; dan barang yang diharamkan oleh Allah dalam kitab-Nya adalah haram; dan sesuatuu yang dimaafkan-Nya, sebagai kemudahan bagi kamu.” (Riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi).[1]
1.      Binatang Air
Binatang yang hidupnya didalam air semuanya halal, baik yang berupa ikan maupun bukan, mati karena adanya penyebab ataupun mati sendiri.
Firman Allah:
اُحِلُّ لَكُمْ صَيْدُ اْبَحْرِ وَطَعَا مُهُ مَتَاعًالَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ. (المائدة: ٩٦)
 Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bgaimu dan bagi orang yang dalam perjalanan.” (Al-Maidah: 96).
Sabda Rasulullah SAW:
Laut itu suci airnya, halal bangkaiya.” (Riwayat Malik dan lainnya).[2]
Hadits tentang mengharamkan membunuh kodok.
Dari Abdurrahman bin Utsman bahwa seorang tabib menerangkan hal kodok (dicampur) dalam obat di sisi Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah melarang membunuhnya.”[3]


2.      Binatang darat
Binatang yang hidup di darat ada yang halal dan ada yang tidak halal. Binatang yang halal diantaranya adalah unta, sapi, kerbau, kambing dan kuda begitu juga dengan binatang ternak yang baik.
Firmah Allah SWT.
اُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيْمَةُ اْلاَنْعَامِ. (المائدة: ۱)
 Dihalalkan bagimu binatang ternak.” (Al-Maidah: 1)
Binatang yang haram dengan nas yaitu:
a)      Himar jinak;
b)      Keledai;
c)      Setiap binatang yang mempunyai taring (binatang buas);
d)     Setiap burung yang mempunyai kuku tajam.
Sabda Rasulullah SAW:
جَابِرٍ نَهَى النَّبِيُ صَلَّ اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَيْبَرَ عَنْ لُحُوْمِ الْحُمُرِ الاَهْلِيَّةِز رواهالبخارى ومسلمعَنْ
Dari Jabir, “Nabi SAW. Pada perang Khaibar telah melarang memakan daging himar jinak.”(Riwayat Bukhari Muslim)
Haram karena kita disuruh membunuhnya, yaitu: ular, gagak, tikus, anjing galak dan burung elang.[4]
Sabda Raslullah SAW:
عَنْ عَائِسَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسٌ فَوَاسِقَ يُقْتَلْنَ فِى الْحِلِّ وَالْحَرَم: اَلْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ اْلاَبْقَعُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ اْلعَقُوْرُ وَالْحِدَأَةُ. رواه مسلم
Dari Aisyah, “Rasulullah SAW telah bersabda, ‘lima macam binatang yang jahat hendaklah dibunuh, baik di Tanah Halal ataupun di Tanah Haram, yaitu ular, burung gagak, tikus, anjing galak dan burung elang.”(Riwayat Muslim)
Haram karena kita dilarang membunuhnya, yaitu: semut, lebah, burung Hud-hud dan burung Suradi.
عَنْ ابْنِ عَبَّسٍ نَهَى النَّبِيُّ صَلّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ عَنْ قَتْلِ اَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِ النَّمْلَةِ ، وَالنَّحْلَةِ ، وَالْهُدْهُدِ ، وَالصُّرَدِ. رواه أحمد و غيره
Dari Ibnu Abbas, “Nabi SAW telah melarang membunuh empat macam binatang, yaitu: semut, burung hud-hud, burung Suradi.”(Riwayat Ahmad dan Lainnya)
Haram karena kotor (keji), termasuk kutu, ulat, kepinding, kutu anjing dan sebagainya.
Firman Allah SWT:
وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَئِثَ. الاعراف :
“Dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (Al-Araf: 157).[5]
Imam Malik membolehkan hal berikut.
 “Tokek (dlab) dan jarbu, keduaya boleh dimakan”.
Sedangkan kata Abu Hanifah Makruh dan Hambali membolehkan.[6]
1)      Sesuatu yang Bukan Binatang
Diharamkan memakan sesuatu yang bukan binatang apabila memberi mudarat pada badan atau akal, seperti racun, candu (opium), arak, batu, kaca dan lain-lainnya.
2)      Hal yang Menjadi Pokok Haramnya Makanan
Sebagaimana telah diterangkan di atas, yang menjadi pokok haramnya makanan ada lima:
a)      Nas dari Al-Qur’an dan Hadits.
b)      Karena disuruh membunuhnya.
c)      Karena dilarang membunuhnya.
d)     Karena keji (kotor).
e)      Karena memberi mudarat.
Nas dari Al-Qur’an seperti firman Allah SWT:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَا اُهِلَّ لِغَيْرِاللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَااَكَلَ السَّبُعُ اِلاَّ مَاذَكَّيْتُمْ وَمَاذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ. المائدة :
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selalin Allah, yang tercekik, terpukul, jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecualu yang sempat kamu menyembelihnya dan (diharamkan bagi kamu) yang disembelih untuk berhala.” (Al-Maidah: 3).[7]
B.     Menyembelih
Dari ayat di atas jelaslah bahwa binatang yang halal, tidak halal dimakan kecuali apabila disembelih menurut aturan yang telah disyariatkan oleh agama. Selain itu, ikan dan belalang halal dimakan walaupun tidak disembelih.
Sabda Rasulullah SAW:
اُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ السَّمَكُ وَالْجَرَادِ. رواه ابن ماجه
“Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai, (yaitu) ikan dan belalang.”(Riwayat Ibnu Majah).
وَعَنْ اِبْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ: ( غَزَوْنَا مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَبْعَ غَزَوَاتٍ, نَأْكُلُ اَلْجَرَادَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Ibnu Abu Aufa Radliyallaahu 'anhu berkata: Kami berperang bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sebanyak tujuh kali, kami selalu makan belalang.” Muttafaq Alaihi.[8]
Menyembelihialah melenyapkan roh binatang untuk dimakan, dilakukan dengan sesuatu yang tajam selain dari tulang dan kuku.
1.      Rukun Menyembelih
a.       Penyembelih hendaklah orang Islam atau ahli Kitab (yang berpegang dengan Kitab Allah selain dari Al-Qur’an) dan melakukannya dengan sengaja.
Firman Allah SWT:
اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ
“dihalalkan bagimu yang baik-baik”[9]
وَطَعَامُ الَّذِيْنَ اُوْتُوااْلكِتَبَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلُّ لَهُمْ. المائدة : ۵
“makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka.”(Al-Maidah: 5)
b.      Binatang yang disembelih adalah binatang yang halal. Cara menyembelih:
1)      Binatang yang dapat disembelih dilehernya hendaklah di sembelih di lehernya, dipotong urat tempat lewatnya makanan dan urat tempat keluar napasnya, kedua urat itu wajib putus.
2)      Binatang yang tidak dapat disembelih dilehernya karena liar atau jatuh ke dalam lubang sehingga tidak dapat disembelih dilehernya. Menyembelihnya dapat dilakukan dimana saja dari badannya, asal dia bisa mati karena luka itu.
Sabda Rasulullah SAW:
عَنْ اَبِيْ الْعُشَرَاءِ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللَّهِ اَمَا تَكُوْنُ الذَّكَامُّ اِلاَّفِى الْحَلْقِ وَالَّبَّةِ ؟ قَالَ لَوطَعَنْتَ فِى فَخْذِ هَالَاَجْزَأَكَ. رواه الجماعة
Dari Abu Usyara, “Saya telah bertanya kepada Rasulullah, adakah tidak sah menyembelih kecuali di kerongkongan dan di pangkal leher?” beliau menjawab, “kalau engkau bacok di pahanya, sesungguhnya cukuplah (memadailah) bagimu.” (Riwayat lima orang ahli hadits)
3)      Alat (perkakas) menyembelih, yaitu semua barang tajam, melukakan, besi, bambu atau lain-lainnya kecuali gigi dan kuku, begitu juga segala macam tulang.[10]
Sabda Rasulullah SAW:
عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِجٍ مَااَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَاسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلُوْامَا لَمْ يَكُنْ سِنًّااَوْظُفْرًا . رواه البخارى ومسلم
“Dari Rafa’i bin Khadij, ‘alat apapun yang dapat mengalirkan darah dan yang disembelih dengan menyebut nama Allah, makanlah olehmu, kecuali karena gigi dan kuku.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Menurut sebagian ulama, dilarangnya menyembelih dengan gigi dan kuku karena keduanya bukan barang yang tajam, berarti keduanya tidak dapat ditajamkan. Jadi, binatang yang disembelih dengan keduanya berarti sama dengan binatang yang mati tercekik, yang dilarang dalam ayat di atas.
c.       Sunat Menyembelih
1)      Memotong dua urat yang ada di kanan kiri leher agar lekas matinya.
2)      Binatang yang panjang lehernya, sunat disembelih di pangkal lehernya, maksudnya supaya lekas matinya.
3)      Binatang yang disembelih itu hendaklah digulingkan ke sebelah rusuknya yang kiri, supaya mudah bagi orang yang menyembelihnya.
4)      Dihadapkan ke kiblat (ka’bah).
5)      Membaca bismillah dan shalawat atas Nabi SAW.
Sebagian ulama berpendapat bahwa membaca bismillah itu wajib dengan alasan firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 3 yang telah diyraikan sebelumnya, yang menngatakan bahwa diantara yang haram ialah binatang yang disembelih dengan nama selai Allah. Bagi pendapat pertama (yang menyatakan membaca Basmallah itu sunat) ayat itu tidak menunjukkan wajibnya membaca bismillah, tetapi ayat itu hanya mengharamkan menyembelih dengan nama lain selai dari nama Allah. Berarti dengan diam tidak menyebut nama sesuatupun tidak ada halangan.[11]
d.      Menyembelih anak Binatang yang Masih Berada dalam Perut Induknya
Anak binatang yang masih berada dalam kandungan induknya cukup (halal) dengan menyembelih induknya. Berarti kalau induknya disembelih dan anaknya juga mati karena induknya disembelih, maka anaknya itu halal dimakan.
Sabda Rasulullah SAW:
عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الْجَنِيْنِ ذَكَاتُهُ ذَكَاةُ اُمِّهِ . رواه احمد والترمذى
Dari Abu Sa’id. Nabi SAW. Telah bersabda tentang urusan penyembelihan anak  “Mennyembelihnya cukuplah dengan menyembelih induknya.” (Riwayat Ahmad dan Tirmizi).[12]
C.    Berburu
Sabda Nabi SAW.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنِ اتَّخَذَ كَلْباً, إِلَّا كَلْبَ مَاشِيَةٍ, أَوْ صَيْدٍ, أَوْ زَرْعٍ, اِنْتَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa memelihara anjing -kecuali anjing penjaga ternak, anjing pemburu, atau anjing penjaga tanaman- pahalanya akan dikurangi satu qirath setiap hari." Muttafaq Alaihi.[13]
Berburu dengan binatang yang mempunyai taring atau burung yang mempuyai kuku tajam seperti anjing atau burung elang boleh (tidak ada halangan), dan binatang yang ditangkapnya halal dimakan dengan syarat:
1.      Binatang pemburu sudah pandai (terlatih). Tandanya sudah terlatih ialah kalau disuruh menurut, kalau dilarang berhenti.
2.      Kalau dia dapat menangkap binatang, tidak dimakannya, hendaklah dibaca bismilla sewaktu melepaskannya. Kalau binatang yang ditangkapnya itu kita dapati sudah mati, binatang itu halal dimakan.
Firman Allah SWT :
اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبتُ وَمَاعَلَّمْتُمْ مِّنَالْجَوارِحِ مُكَلِّبِيْنَ تُعَلِّمُوْنَهُنَّ مِمّاَ عَلَّمَكُمُ اللّهُ فَكُلُوْا مِمّاَ اَمسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللّهِ عَلَيْهِ
Apakah yang dihahalkan bagi mereka?” Katakanlah, “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap)oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarkan menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu.” (Al-Maidah: 4)
Sabda Rasulullah Saw:
عَنْ عَدِىِّ بْنِ حَاتِمٍ قَال النَّبِىُّ صَلَّ اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا اَرْسَلْتَ كَلْبَكَ الْمُعَلِّمَ وَسَمَّيْتَ فَاَمْسَكَ وَقَتَلَ فَكَلْ وَاِنْ اَكَلَ فَلاَ تَأْ كُلْ فَاِنِّىْ اَخَافُ اَنْيَكُوْنَ اَمْسَكَ عَلَى نَفْسِهِ
Dari Adi bin Hatim, “Rasulullah Saw. Telah bersabda, ‘Apabila engaku lepaskan anjingmu yang terlatih dan engkau sebut nama Allah ketika melepaskannya, kemudian binatang itu ditangkap dan dibunuhnya, maka makanlah binatang itu. Kalau dimakannya binatang yang ditangkapnya itu, maka janganlah engkau makan, saya takut barang kali ditangkapnya untuk dia sendiri.”(Riwayat Bukhari dan Muslim).
a.       Binatang yang dilempar dengan bunduk (anak panah yang terbuat dari tanah yang keras, seperti tembikar) tidak halal, hukumnya sama dengan dipukul, yang jelas telah dilarang oleh Al-Qur’an. Adapun yang ditembak dengan peluru yang terbuat dari besi, timah, dan lain-lainnya, sebagaimana yang biasa dipakai sekarang , sebagian ulama berpedapat bahwa menembak dengan peluru tersebut diperbolehkan, dan binatang tersebut halal dimakan.
b.      Al-Qur’an telah mengharamkan memakan bangkai, darah, daging babi, dan yang disembelih bukan dengan nama Allah dan sebagainya. Hukum itu tetap berlaku selama keadaan masih dalam kelapangan. Tetapi bagi orang yang terpaksa, karena tidak ada makanan yang lain, sedangkan dia takut akan binasa, misalnya mati kelaparan, dia boleh (halal) memakan barang yang terlarang tadi sekadar untuk menghilangkan lapar atau menghindarkan diri dari kebinasaan.
Firman Allah SWT.
فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلاَعَادٍ فَلاَ اِثْمَ عَلَيْهِ
tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakan bangkai, darang, daging babi, dan yang disembelih bukan dengan nama Allah), sedangkan dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) mealampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.” (Al-Baqarah: 173).[14]


D.    Kurban
Kurban adalah binatang yang disembelih dengan tujuan ibadah kepada Allah pada Hari Raya Idul Adha dan tiga hari kemudian (tanggal 11 sampai 13).
1.      Hukum Kurban
Sebagian ulama berpendapat bahwa kuraban itu wajib, sedangkan sebagian lain berpendapat sunat.
Alasan yang berpendapat wajib, yaitu firman Allah Swt.
اِنَّا اَعْطَيْنَكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّلِ رَبَّكَ وَانْحَرْ
Sesungguhnya kami telah memberi kepadanya nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.” (Al-Kautsar: 1-2)
Dari Abu Hurairah, “Rasulullah SAW. telah bersabda, ‘Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah mendekati (menghampiri) tempat salat kami,” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah).
Alasan yang berpendapat sunat adalah sabda Rasulullah Saw:
اُمِرْتُ بِالنَّحْرِ وَهُوَ سُنَّةُ لَكُمْ
“Saya disuruh menyembelih kurban dank urban itu sunat bagi kamu.” (Riwayat Tirmizi)
كُتِبَ عَلَىَّ النَّحْرُ وَلَيْسَ بِواَ جِبٍ عَلَيْكُمْ
Diwajibkan kepadaku berkurban, dan tidak wajib atas kamu.” (Riwayat Daruqutni).[15]
Binatang yang sah untuk kurban ialah yang tidak bercacat, misalnya pincang, sangat kurus, sakit, putus telinga, putus ekornya, dan telah berumur sebagai berikut:
a.       Domba (da’ni) yang telah berumur satu tahun lebih atau sudah berganti giginya.
b.      Kambing yang telah berumur dua tahun lebih.
c.       Unta yang telah berumur lima tahun lebih.
d.      Sapi dan kerbau yang telah berumur dua tahun lebih.
Sabda Rasulullah SAW.
Dari Barra’ bin Azib, Rasulullah Saw.telah bersabda, ‘Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan kurban: (1) rusak matanya, (2) sakit, (3) pincang, (4) kurus yang tidak berlemak lagi.” (Riwayat Ahmad, dan dinilai sahih oleh Tirmizi)
Dari Jabir, “Rasulullah Saw.bersabda, ‘Janganlah kamu menyembelih untuk kurban kecuali yang musinnah (telah berganti gigi). Jika sukar didapati, maka boleh Jaz’ah (yang baru berumur 1 tahun lebih) dari biri-biri.” (Riwayat Muslim)
Seekor kambing hanya untuk kurban satu orang, diqiyaskan dengan denda meninggalkan wajib haji. Tetapi seekor unta, kerbau, dan sapi boleh buat kurban tujuh orang.
Dari Jabir, “Kami telah menyembelih kurban bersama-sama Rasulullah Saw.oada tahun Hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang.” (Riwayat Muslim)
Dari Ibnu Abbas, “Pernah kami bersam-sama Rasulullah Saw.dalam suatu perjalanan, ketiak itu datang Hari Kurban, maka kami bersama-sama menyembelih seekor sapi untuk tujuh orang dan seekor unta untuk sepuluh orang.” (Riwayat Tirmizi dan Nasai).[16]
2.      Waktu menyembelih kurban
Waktu menyembelih kurban mulai dari matahari setinggi tombak pada Hari Raya Idul Adha sampai terbenam matahari tanggal 13 bulan Dzulhijah.
Sabda Rasulullah SAW.:
“Barang siapa menyembelih kurban sebelum salat Hari Raya Idul Adha, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa menyembelih kurban sesudah salat Hari Raya dan dua khutbahnya, sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya, dan ia telah menjalani aturan Islam.” (Riwayat Bukhari)
Yang dimaksud dengan salat Hari Raya dalam hadis tersebut ialah waktunya, bukan salatnya, karena mengerjakan salat tidak menjadi syarat menyembelih kurban.
Sabda Rasulullah SAW.:
كُلُّ اَيّاَمِ التَّشْرِيْقِ ذَبْحٌ
semua hari Tasyriq (tanggal 11-13 Haji) adalah waktu menyembelih kurban.” (Riwayat Ahmad)
3.      Sunat tatkala menyembelih
Sewaktu menyembelih kurban disunatkan beberapa perkara di bawah ini:
a.       Membaca bismillah.
b.      Membaca salawat atas Nabi Saw.
c.       Takbir (membaca Allahu Akbar)
d.      Berdoa supaya kurban diteroma Allla, seperti: (Ya Allah, ini perbuatan dari perintah-Mu, saya kerjakan karena-Mu, terimalah oleh-Mu amalku ini)
e.       Binatang yang disembelih itu hendaklah dihadapkan ke kiblat.
Dikabarkan oleh Anas bahwa Rasulullah SAW. telah berkuraban dengan dua ekor kambing ynag baik-baik, bliau sembelih sendiri , beliau baca bismillah, dan beliau baca takbir. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Rasulullah SAW. tatkala berkurban telah mengucapkan, “Ya Allah, terimalah kurban Muhammad, keluarga, dan umatnya,” (Riwayat Ahmad dan Muslim).[17]
4.      Nazar kurban
Apabila seseorang bernazar akan menyembelih kurban, maka hal itu menjadi wajib kepadanya sebagaimana nazar-nazar yang lain, dan dia wajib menyedekahkan semuanya, tak boleh dimakannay, dan tak boleh dijualnya, sekalipun kulitnya.
5.      Kurban sunat
Tujuan yang dimaksud dengan berkurban ialah untuk menggembirakan fakir miskin di Hari Raya Haji, sebagaimana di Hari Raya Fitri mereka digembirakan dengan zakat fitrah. Oleh karena itu, daging kurban yang sunat hendaklah disedekahkan; kecuali sedikit, sunat dimakan oleh yang berkurban. Kurban tidak boleh dijual, sekalipun hanya kulitnya.
Firman Allah SWT.:
فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَا ءِسِ الْفَقِيْرَ
“Maka makanlah sebagian darinya, dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (Al-Hajj: 28)
Sabda Rasulullah Saw.:
Dari Sa’id, “Rasulullah Saw.telah bersabda, ‘Janganlah kamu jual daging denda haji dan daging kurban, tetapi makan dan sedekahkan dagingnya itu serta ambillah manfaat kulitnya dan jangan dijual.” (Riwayat Ahmad).[18]




[1]Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011), h. 466.
[2]Sulaiman Rasjid, Ibid.
[3]A. Qadir Hasan, Kata Berjawab Solusi untuk berbagai Permasalahan Syariah (Surabaya: Pustaka Prograssif, 2004), h. 497.
[4]Sulaiman Rasjid, Op. Cit. h. 468.
[5]Sulaiman Rasjid, Ibid. h. 469.
[6]Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqie, Hukum-hukum Fiqh Islam (Semarang, Pustaka Rizki Putra, 1997), h. 207.
[7]Sulaiman Rasjid, Ibid.
[8]Ibnu Hajar Al-Asqalany, Bulughul Maram (Pustaka Hidayah, 2008).
[9]Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad, Kifayatul Akhyar (Basyair), h. 612.
[10]Sulaiman Rasjid, Op. Cit. h. 471.
[11]Sulaiman Rasjid, Ibid. h. 472.
[12]Sulaiman Rasjid, Ibid. h. 473.
[13]Ibnu Hajar Al-Asqalany, Op. Cit.
[14]Sulaiman Rasjid, Ibid. h. 475.
[15]Sulaiman Rasjid, Ibid. h. 476.
[16]Sulaiman Rasjid, Ibid. h. 477.
[17]Sulaiman Rasjid, Ibid. h. 478.
[18]Sulaiman Rasjid, Ibid. h. 479.

Tidak ada komentar:
Write komentar