Minggu, 15 Desember 2013

Makalah Filsafat Umum Tentang Fenomenologi

Toto Si Mandja - Makalah Filsafat Umum Tentang Fenomenologi

BAB II
PEMBAHASAN
     A.    Asal-usul Fenomenologi
Dalam abad 20 muncul banyak aliran filsafat dan banyak merupakan penerus filsafat-filsafat abad modern seperti neo-tomisme, neo-hegelianisme, neo-marxisme, neo-positivisme, dan lain-lain. Ada yang baru dengan corak yang amat berbeda seperti, Fenomenologi, Eksistensialisme, Pragmatisme, Strukturalisme dan Postmodernisme. Tokoh utama dan pendiri Fenomenologi adalah Edmund Husserl (1895-1938). Ini adalah ilmu tentang apa yang tampak atau menampakkan diri kepada kesadaran manusia. Sebelum itu (sejak Descartes) kesadaran selalu tertutup. Orang mengenal diri dan dengan itu mengenal realitas. Padahal menurut Husserl kesadaran selalu intensional yang berarti selalu terarah kepada realitas.

Eksistensialisme dan fenomenologi merupakan dua gerakan yang berhubungan sangat erat yang menentang metode dan pandangan-pandangan filsafat Barat. Istilah eksistensialisme tidak menunjuk suatu sistem filsafat secara khusus. Ada perbedaan-perbedaan besar antara para pengikut aliran ini, tetapi terdapat tema-tema yang sama pada para penganutnya sebagai ciri khas filsafat ini, antara lain:
1.      Protes terhadap rasionalisme dan idealisme Hegel (masyarakat modern)
2.      Protes terhadap konsep-konsep filsafat akademis yang jauh dari konkret (atas nama individualisme)
3.      Protes terhadap alam yang impersonal dari zaman industri modern dan teknologi dan gerakan masa.
4.      Menekankan situasi manusia dan harapan manusia di dunia.
5.      Keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung.[1]
Fenomenologi terutama penting sebagai metode baru dalam filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan. “Phaenomenon” berarti apa yang memperlihatkan diri dalam kesadaran”. – Bolsano, Franz Brentato, Alex Meinong. Edmund Husserl dan Max Scheler (1817-1928) yang terkenal karena teroti nilai-nilai. Metode ini sangat luas dipergunakan.[2]
B.     Terminologi Fenomenologi
Kata “Fenomenologi” berasal dari kata Yunani “fenomenon”, yaitu sesuatu yang tampak, yang terlihat karena berkecukupan. Dalam bahasa Indonesia biasa dipakai istilah gejala. Jadi, fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomenon atau segala sesuatu yang menampakkan diri.
Tokoh fenomenologi adalah Edmund Husserl (1859-1938). Ia adalah pendiri fenomenologi yang berpendapat bahwa ada kebenaran untuk semua orang dan manusia dapat mencapainya. Adapun inti pemikiran fenomenologi menurut Husserl adalah bahwa untuk menemukan pemikiran yang benar, seseorang harus kembali pada “benda-benda” sendiri. Dalam bentuk selogan, pendirian ini mengungkapkan dengan kalimat Zu den Sactien (to the things). Kembali pada benda-benda, yaitu bahwa “benda-benda” diberi kesempatan untuk berbicara tentang hakikat dirinya. Pertanyaan tentang hakikat “benda-benda” tidak lagi bergantung kepada orang yang membuat pertanyaan, melainkan ditentukan oleh “benda-benda” itu sendiri.
Akan tetapi, “benda-benda” tidaklah secara langsung memperlihatkan hakikat dirinya. Apa yang kita temui pada “benda-benda” itu dalam pemikiran biasa bukanlah hakikat. Hakikat benda itu ada dibalik yang kelihatan itu. Karena pemikiran pertama (first look) tidak membuka tabir yang menutupi hakikat, diperlukan pemikiran kedua (second look). Alat yang digunakan untuk menemukan hakikat pada pemikiran kedua ini adalah intuisi. Istilah yang digunakan Husserl menunjukkan penggunaan intuisi dalam menemukan hakikat adalah Wesenschau: melihat (secara intuitif) hakikat gejala-gejala.[3]
Dalam usaha melihat hakikat dengan intuisi, Husserl memperkenalkan pendekatan reduksi. Reduksi yang dimaksud adalah penandaan segala pengetahuan yang ada tentang objek sebelum dilakukan pengamatan intuitif. Reduksi juga dapat diartikan penyaringan atau pengecilan. Istilah lain yang digunakan Husserl adalah epocheyang artinya sebagai penempatan sesuatu diantara dua kurung. Namun, yang dimaksud ialah “melupakan pengertian-pengertian tentang objek untuk sementara dan berusaha melihat objek secara langsung dengan intuisi tanpa bantuan pengertian-pengertian yang ada sebelumnya. Reduksi ini adalah salah satu prinsip yang mendasari sikap fenomenologis. Untuk mengetahui sesuatu, seorang fenomenologis bersikap netral; tidak menggunakan teori-teori atau pengertian-pengertian yang telah ada dalam hal ini diberi kesempatan “berbicara tentang dirinya sendiri”.
Ada tiga reduksi yang ditempuh untuk mencapai realitas fenomen dalam pendekatan fenomenologi, yaitu:
1.      Reduksi fenomenologis;
2.      Reduksi eidetis; dan
3.      Reduksi fenemenologi-transendental.[4]
C.    Kembali Kepada Realitasnya Sendiri
Perjuangan Husserl untuk membangun ilmu rigorous membawanya pada radikalisme filsafati, yakni perjuangan untuk kembali kepada sumber; kepada landasan awal, kepada akar, atau kepada permulaan dari semua jenis dan bentuk pengetahuan atau teori, yang selama ini telah kita ketahui dan dianggap sebagai pengetahuan atau teori yang “benar”. Ajakan ini sudah sangat terkenal dalam dunia filsafat. Husserl mengekspresikan ajakan ini melalui seruan “kembali pada benda atau realitasnya sendiri” (Zu den sachen selbst). Artinya, kembali kepada gejala pertama dan asli, sebagaimana yang ditunjuk oleh semua pengetahuan, konsep, proposisi, dan teori atau hukum yang terdapat dalam semua filsafat dan ilmu.
Pada mulanya, apa yang disebut dengan “realitasnya sendiri” tidak lain adalah realitas dalam arti yang “sebenarnya”, yakni realitas yang bersifat objektif (objek). Ia menyebutnya ‘Wende zum Gegenstand’ (“kembali kepada objek”). Namun, dalam proses menggali sumber pada objek itu, ia menyadari akan dominasi subjek dalam memberi bentuk dan nilai pada objek. Ia menemukan fakta bahwa sumber yang asli (“realitasnya sendiri”) bukan terdapat pada objek, melainkan pada subjek, yang oleh Husserl disebut “subjek transendental”. Oleh sebab itu “kembali pada objek” pada akhirnya menjadi “kembali pada subjek”. Konsekuensinya adalah bahwa Husserl, di kemudian hari, harus rela ditinggalkan para pengikutnya, oleh para murid dan sejumlah sahabatnya. Mereka lebih tertarik untuk mengungkap “objek” dan pertalian antara “objek dan subjek” ketimbang bergelut dengan “subjek”.[5]
Radikalisme filsafati untuk “kembali kepada sumber” atau “kembali kepada realitasnya sendiri”, pada dasarnya merupakan usaha yang tidak ringan. Kembali kepada sumber menuntut pengarahan langsung diri kita pada bendanya sendiri, tanpa perantara apapun dan bahkan harus “bebas dari segala macam prasangka”. Untuk itu, kita perlu menjalankan langkah-langkah metodis, yang oleh Husserl disebut “reduksi”. Melalui reduksi, kita “menunda” atau menyimpan dalam tanda kurung (Einklamerung) setiap prasangka kita pada realitas. Kesadaran kita, dengan demikian, langsung diarahkan pada esensi dari realitasnya tersebut. Langkah-langkah metodis yang dimaksud adalah reduksi eidetis, reduksi fenomenologis dan reduksi transendental.
D.    Reduksi Fenomenologis
Fenomen seperti disebut diatas adalah segala sesuatu yang menampakkan diri. Dalam praktik hidup sehari-hari, kita tidak memerhatikan penampakan itu. Apa yang kita lihat sescara spontan sudah cukup meyakinkan kita bahwa objek yang kita lihat itu adalah real atau nyata. Kita telah meyakininya sebagai realitas diluar kita. Akan tetapi, karena yang dituju oleh fenomenologi adalah realitas dalam arti yang ada diluar dirinya, dan ini hanya dapat dicapai dengan “mengalami” secara intuitif, apa yang kita anggap sebagai realitas dalam pandangan biasa itu, untuk sementara harus ditinggalkan atau dibuat dalam kurung. Segala subjektivitas disingkirkan. Termasuk didalam hal ini teori, kebiasaan, dan pandangan yang telah membentuk pikiran kita memandang sesuatu (fenomena), sehingga yang timbul didalam kesadaran adalah fenomena itu sendiri. Oleh karena itu, reduksi ini disebut reduksi fenomenologis. Reduksi pertama ini merupakan “pembersihan diri” dari segala subjektivitas yang dapat mengganggu perjalanan mencapai realitas.[6]
E.     Reduksi Eidetis dan Fenomenologi Transendental
Eidetis berasal dari kata “eidos” yaitu intisari. Reduksi eidetis ialah penyaringan atau penempatan didalam kurung segala hal yang bukan eidos, intisari atau realitas fenomen. Hasil reduksi kedua ini adalah penilikan realitas. Dengan reduksi eidetis, semua segi, aspek, dan profil dalam fenomena yang hanya kebetulan dikesampingkan. Karena, aspek dan profil tidak pernah menggambarkan objek secara utuh. Setiap objek adalah kompleks, mengandung aspek dan profil yang tiada terhingga.
Hakikat (realitas) yang dicari dalam hal ini adalah struktur dasar yang meliputi isi fundamental dan semua sifat hakiki. Untuk menentukan apakah sifat-sifat tertentu adalah hakikat atau bukan, Husserl memakai prosedur mengubah contoh-contoh. Ia menggambarkan contoh-contoh tertentu yang refresentatif melukiskan fenomen. Kemudian, dikurangi atau ditambah salah satu sifat. Pengurangan atau penambahan yang tidak mengurangi atau menambah makna fenomena dianggap sebagai sifat-sifat yang hakiki.
Reduksi eidetis ini menunjukkan bahwa dalam fenomenologi, kriteria koheresi berlaku. Artinya, pengamatan-pengamatan yang beruntun terhadap objek harus dapat disatukan. Pada umumnya, pengikut-pengikutnya yang menyetujui idealisme Husserl, hanya sepaham dengan Husserl pada tahap awal diambil oleh pengikut-pengikutnya tidak termasuk reduksi terakhir yang menimbulkan idealisme transendental.[7]
Proses reduksi itu apabila disederhanakan dapat disebut sebagai memandang sesuatu secara menyeluruh dari berbagai seginya. Artinya, kita tidak dengan mudah menerima pengertian dan rumusan seperti itu, atau pemahaman kita yang spontan terhadap sesuatu belum tentu menyentuh hakikat dari apa yang kita tuju.hal ini hanyalah pandangan pertama. Kita harus melakukan pandangan kedua. Meninggalkan segala tabir yang menghalangi kita menemukan hakikat objek. Kita kembali kepada objek secara langsung.
Pendekatan fenomenologi ini sangat besar pengaruhnya didalam dilsafat belakangan ini. Bahkan, pendekatan ini digunakan dalam ilmu pengetahuan, seperti ilmu-ilmu sosial dan matematika. J.F. Donceel F.J. misalnya telah menggunakan pendekatan fenomenologi dalam memahami manusia didalam nukunya Philosophical Antropology. Roger Garaudy juga menggunakan metode fenomenologi dalam usahanya memahami filsafat, sejarah politik, kebudayaan-kebudayaan dan agama.[8]
F.     Tokoh Fenomenologi
1.      Edmund Husserl (1859-1938)
Edmund Husserl adalah pelopor filsafat fenomenologi. Ia lahir di Prosswitz (Moravia) pada tahun 1859. Semula ia belajar ilmu pasti di Wina, tetapi kemudian ia berpindah studi ke filsafat. Berturut-turut ia menjabar guru besar di Universitas Halle, Gotingen dan Freiburg. Banyak sekali buah karyanya, akan tetapi belum semuanya diterbitkan. Diantara yang telah diterbitkan ialah: Logische Untersuchungen, atau “Penyelidikan-penyelidikan yang logis” (1900-1901), Ideen zu einer reinen Phanamenologie atau “Idea-idea bagi suatu fenomenologi yang murni” (1913), Formale und transdentale Logik atau “Logika yang formal dan transdental” (1929) dan Erfahrung und Urteil atau “pengalaman dan Pertimbangan” (1930).
Menurut Husserl hukum-hukum logika yang memberi kepastian, yang berlaku, tidak mungkin bersifat a posteriori, sebagai hasil pengalaman, tapi bersifat a priori. Umpamanya asas pemikiran yang berbunyi: A tak mungkin sekaligus A dan bukan A, artinya, tidak mungkin bahwa jikalau A adalah A, maka A sekaligus juga bukan A. Asas pemikiran ini tetap berlaku, juga seandainya tiada seorangpun yang memikirkannya. Hal ini sama dengan kenyataan, bahwa 2 x 2 = 4. Juga seandainya tiada seorang pun yang menghitungnya, patokan itu tetap berlaku, pasti. Oleh karena itu logika sejenis dengan ilmu pasti, karena cara hukum-hukumnya berlaku adalah sama.[9]
2.      Max Scheler (1874-1928)
Max Scheler adalah seorang penganut filsafat fenomenologi yang menyebarluaskan gagasan Husserl. Ia telah meninggalkan kesan yang mendalam sekali karena ia mempunyai cara yang asli untuk menerapkan dan mengelompokkan gagasan-gagasan Husserl, serta mempunyai cara menguraikan yang dijiwai oleh seluruh pribadinya.
Pada tahun 1874 ia dilahirkan di Munshen. Setelah belajar di Munchen, Berlin. Pada tahun 1919 ia menjabat guru besar di Koln dan meninggal dunia di Frankfurt pada tahun 1928. Banyak buku yang ditulis, sekalipun banyak sekali metode cara pemikiran fenomenologis yang terdapat di dalam karya-karyanya, namun, tekanannya berbeda dengan Husserl. Scheler jelas adalah seorang realis, yang memusatkan perhatiannya kepada kenyataan dan hidup yang konkrit.
Seperti halnya dengan Husserl, filsafat Scheler juga mengalami perkembangan. Disini hanya sebagian saja yang akan dibicarakan, yaitu bagian filsafatnya yang menampakkan kelanjutan pemikiran Husserl. Metode fenomenologis tentang “penilaian hakikat” oleh Scheler diterapkan di bidang teori pengenalan, etika, filsafat kebudayaan dan keagamaan, serta bidang nilai. Jasanya besar sekali dalam pemikiran tentang nilai ini.[10]
3.      Martin Heidegger (1889-1976)
Martin Heidegger lahir di Mebkirch, Jerman pada tanggal 26 Desember 1889 dan meninggal pada tanggal 26 Mei 1976 pada umur 86 tahun. Ia adalah seorang filusuf asal Jerman. Ia belajar di universitas Freiburg di bawah Edmund Husserl, penggagas Fenomenologi, kemudian menjadi profesor disana pada 1928. Ia mempengaruhi banyak filusuf lainnya, dan murid-muridnya termasuk Hans-Georg Gadamer, Hans Jonas, Emmanuel Levinas, Hannah Arendt, Leo Strauss, Jacques Derrida, Michel Foucault, Jean-luc nancy, dan Philippe Lacoue-Labarthe juga mempelajari tulisan-tulisannya secara mendalam. Selain hubungannya dengan fenomenologi, Heidegger dianggap mempunyai pengaruh yang besar atau tidak dapat diabaikan terhadap eksistensialisme, dekonstruksi, hermeneutika (muncul sebagai sebuah gerakan dominan dalam teologi Protestan Eropa, yang menyatakan bahwa hermeneutika merupakan “titik fokus” dari isu-isu teologis sekarang[11])  dan pascamodernisme. Ia berusaha mengalihkan filsafat Barat dari pertanyaan-pertanyaan ontologis. Artinya, pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut makna keberadaan, atau apa arti bagi manusia untuk berada. Heidegger juga merupakan anggota akademik yang penting dari Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei.[12]
Selain tokoh fenomenologi, Martin Heidegger juga adalah tokoh eksistensialisme, ia mengemukakan bahwa keberadaan hanya akan dapat dijawab melalui jalan Antologi, artinya jika persoalan ini dihubungakan dengan manusia dan dicari artinya dalam hubungan itu. Metoda untuk ini adalah fenomenologis. Jadi yang penting adalah menemukan arti keberadaan itu. Satu-satunya yang berada dalam arti yang sesungguhnya adalah beradanya manusia. Keberadaan benda-benda terpisah dengan yang lain, sedang beradanya manusia, mengambil tepat di tengah-tengah dunia sekitar. Keberadaan manusia disebut Desein. Berada artinya menempati atau mengambil tempat.[13]
G.    Pengaruh Husserl pada Martin Heidegger dan Jean Paul Sartre
Pengaruh Husserl pada Heidegger dan Sartre, tampaknya bukan hanya pada penggunaan metodenya, tetapi juga pada konsepsinya tentang struktur kesadaran (intensionalitas) dan Lebenswelt. Baik Heidegger maupun Sartre, secara terbuka mengakui pengaruh yang sangat kuat dari fenomenologi Husserl pada metode dan filsafat mereka. Namun demikian, kedua filusuf ini tidak menerima secara mentah gagasan Husserl tentang fenomenologi, karena mereka pun dengan gemilang memodifikasinya berdasarkan pada pemikiran teoretis dan kebutuhan praktis mereka. Mereka berdua mengeritik “idealisme” yang melekat pada fenomenologi Husserl dan mengembalikannya ke tujuan Husserl yang semula, yakni “kembali kepada realitas sendiri”, yang terdapat pada “objek”, bukan pada “subjek”. Dengan perkataan lain, oleh Heidegger fenomenologi dibuat “realistik” dan diarahkan bukan untuk meneliti struktur kesadaran transendental, melainkan untuk meneliti “makna Ada” melalui “adanya manusia” (Dasein). Ia menyebut fenomenologinya sebagai fenomenologi hermeneutik dan sering juga menyebutkan Analisa Eksistensial, sedangkan objek pengamatannya adalah manusia yang hidup dalam dunianya (in-der-welt-Sein). Sartre, mengikuti Heidegger, membuat fenomenologi husserl menjadi “realistik” juga, dan fenomenologinya digunakan untuk menelaah struktur kesadaran manusia dalam kaitannya dengan Ada dan dunianya. Ia menamakan fenomenologinya Analisa Eksistensial atau psikoanalisis eksistensial.[14]
Pengaruh konsepsi Husserl tentang intensionalitas kesadaran pada Heidegger dan Sartre, tampak dari pemahaman mereka mengenai aktivitas-aktivitas atau “karakter-karakter” manusia dalam hubungannya dengan realitas dan dunianya. Meskipun Heidegger tidak secara eksplisit menjelaskan kesadaran manusia, tetapi ia mengandaikan begitu saja karakter kesadaran manusia dan aktivitas-aktivitasnya, sebagaimana yang telah dideskripsikan oleh Husserl. Konsepsinya tentang “milik sendiri”, kecemasan, ketiadaan, dan Ada dalam dunia misalnya, mengandaikan adanya aktivitas kesadaran manusia dalam mengonstitusikan dunianya, yakni aktivitas kesadaran yang telah dibicarakan oleh Husserl. Akan tetapi, pada Sartre kesadaran itu dieksplisitkan. Ia, seperti yang dilakukan oleh Husserl, menelaah struktur kesadaran dan menemukan fakta baru bahwa kesadaran pun harus dibedakan antara kesadaran reflektif dan nonreflektif. Kemudian, konsepsi-konsepsi Sartrean, seperti konflik, melafide, kecemasan, dan rasa muak, mengandaikan adanya aktivitas kesadaran seperti konstitusi.
Konsepsi Husserl tentang Lebenswelt, yang menempati kedudukan sentral dalam pemikiran filsafatnya pada periode-periode akhir hidupnya, mempunyai pengaruh yang sangat besar dan menarik pada pemikiran Heidegger dan Sartre pada khususnya, dan pada para eksistensialis pada umumnya. Dengan berangkat dari dunia yang dihayati (Lebenswelt), seperti yang dianjurkan oleh Husserl, maka Heidegger dan Sartre berhasil menguak tabir kehidupan manusia, yang selama ini terkubur dalam-dalam di bawah permukaan teori-teori “ilmiah” tentang manusia.[15]



[1]Konrad Kebung, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2011) h. 131-132.
[2]Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat (Jakarta: Bumi Aksara, 2009) h. 204.
[3]Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teofilosofi (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 403.
[4]Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Ibid, h. 404.
[5]Zainal Abidin, Filsafat Manusia(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 144.
[6]Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Op. Cit.
[7]Ibid, h. 405.
[8]Ibid.
[9]Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Kanisius, 1980), h. 141.
[10]Ibid, h. 145.
[11]Richard E. Palmer, Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interprestasi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005, Penj. Musnur Hery dan Damanhuri), h. 3.
[12]Ayi Sofyan, Kapita Selekta Filsafat (Bandung: Pustaka Setia, 2010), h. 140.
[13]Ahmad Syadali dan Mudzakir, Filsafat Umum (Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 128.
[14]Zainal Abidin, Op. Cit. h. 149-150.
[15]Ibid.

Tidak ada komentar:
Write komentar