Rabu, 03 Juli 2013

Tugas dan Fungsi Manusia dalam Buku Filsafat Pendidikan Karangan Muhmidayeli

Toto Si Mandja - Tugas dan Fungsi Manusia dalam Buku Filsafat Pendidikan Karangan Muhmidayeli

Dalam surat At-Tiin ayat 4 disebutkan, bahwa manusia diciptakan Tuhan sebaik-baiknya bentuk. Sebagai makhluk yang termulia, manusia diberi potensi untuk mengembangkan diri dan kemanusiaannya. Potensi-potensi tersebut merupakan modal dasar bagi manusia dalam menjalankan berbagai fungsi dan tanggungjawab kemanusiaannya. Oleh karena itu, agar potensi-potensi ini menjadi aktual dalam kehidupan perlu dikembangkan dan digiring pada penyempurnaan-penyempurnaan melalui upaya pendidikan. Dalam konteks ini, diperlukan penciptaan arah bangun pendidikan yang baik pulalah, menjadikan manusia layak untuk mengemban misi Ilahi, baik sebagai mu’abbid, khalifah fi al-ardh, dan immarah fi al-ardh yang semuanya berdimensi moral.

Sebagai mu’abbid, manusia dituntut tidak hanya semata-mata dalam konteks ibadah wajib seperti shalat, puasa, zakat, dan lain sebagainya, tetapi juga bahwa segala sesuatu aktivitas yang bernilai baik dalam kehidupan manusia yang dilakukan dengan tujuan pendekatan dari pada Penciptanya, Tuhan. Hasan Langgulung dalam hal ini menyebutkan bahwa manusia sebagai mu’abbid mesti mengembangkan sifat Tuhan yang diberikannya kepada manusia berupa potensi-potensi yang bersumber dari Tuhan. Ibadah dalam konteks ini bukan dalam maknanya yang sempit, karena setiap adanya upaya mengembangkan dan mendalami sifat-sifat Tuhan seperti berkehendak, ilmu, kaya, kuat, mulia, pengasih, penyayang adalah ibadah.

Sebagai khalifah fi al-ardh, manusia bertugas untuk menata dunia sedemikian rupa sehingga menjadikan menusia hidup sejahtera, damai, sentosa dan bahagia. Fungsi khalifah in tidak akan dapat berjalan dengan baik jikaa manusia belum menjalankan fungsi pertamanya sebagai  mu’abbid. Sebagai khalifah Allah SWT di uka bumi, tentulah berarti manusia memegang tugas menjalankan misi Tuhannya di muka bumi.

Manurut Raghib Al-Isfahani, tugas dan fungsi manusia bukan hanya sebatas untuk mendapatkan predikat khalifat Allah SWT, atau ibadah dan immarah al-ardh, akan tetapi memiliki jangkauan yang lebih luas, yaitu menyangkut akhlak yang terpuji dan menghindari diri dari perbuatan yang tercela. Hal ini dapat diamati dari perolehan daya-daya jiwa manusia, seperti daya mufakkira, dapat memampukan manusia untuk membedakan yang haq dari yang bathil dalam masalah aqidah dan antara yang benar dan yang bohong dalam ucapan serta yang elok dari yang jelek dalam tindakan. Demikian pula dengan membaikkan daya shahwiyadengan ‘iffa (sederhana), maka akan melahirkan sifat juud (murah hati) dan kedermawanan. Begitu pula dengan membaikkan daya hamiyya dapat menghasilkan hilm (santun) yang pada gilirannya dapat pula menghasilkan syajaa’a(berani). Sedemikian rupa sebagai pemuncak dari ini semua, jiwa akan menghasilkan ‘adala (adil) dan ihsaan (baik budi).

Tidak ada komentar:
Write komentar