Selasa, 02 Juli 2013

Ruang Lingkup Filsafat Menurut Buku Fisafat Pendidikan Karangan Muhmidayeli

Toto Si Mandja - Ruang Lingkup Filsafat Menurut Buku Fisafat Pendidikan Karangan Muhmidayeli      

Berdasarkan objek kajiannya, kajian filsafat biasanya dibagi ke dalam tiga bidang permasalahan: metafisika, epistemologi, dan aksiologi; sehingga setiap masalah filsafat selalu masuk ke dalam salah satu bidang kajian ini.
            a.       Metafisika
Istilah metafisika sering digunakan dalam bahasa filsafat. Bahkan seolah-olah istilah filsafat itu diidentikkan dengan metafisika. Sebenarnya metafisika bukanlah disiplin filsafat secara utuh, tetapi lebih untuk menamai suatu bagian kegiatan filsafat dari keseluruhan bagian-bagian disiplinnya. Metafisika merupakan cabang kajian filsafat yang mengkaji persoalan berkenaan dengan hakikat realitas. Konsenterasi filsafat disini lebih diarahkan  untuk menelaah atau mengkaji secara mendalam dan menyeluruh tentang hakikat yang ada dan dianggap ada. Jika fisika membicarakan segala sesuatu yang dapat disentuh oleh pancaindera yang kebenarannya ditentukan oleh untuk pengamatan dimana pengukuran dan pengujiannya secara empiris, maka metafisika membincangkan sesuatu yang tidak terjangkau olehnya. Metafisika terfokus telaahannya pada bidang esensi sesuatu; apakah sesuatu benar-benar ada? Dan apa hakikat sesuatu itu?
b.      Epistimologi
Dalam bidang epistimologi, konsenterasi filsafat tertuju pada pembicaraan masalah pengetahuan, apa pengetahuan itu? Apa sumber dan bagaimana prosedur memperolehnya? Apa gunanya? Bagaimana nilainya? Bagaimana bentuk pengetahuan yang valid? Apa kebenaran itu? Mungkinkah manusia meraih pengetahuan yang benar? Apa yang dapat diketahui manusia dan bagaimana batasan-batasan pengetahuan manusia? Bagaimana membangun hubungan interdependensi kebenaran-kebenaran? Epistimologi terkonsenterasi untuk membicarakan persoalan yang berkenaan dengan hakikat dan struktur pengetahuan.
Secara akademis, epistimologi merupakan kajian yang berkaitan tentang persoalan dasar ilmu pengetahuan yang meliputi: (1) hakikat ilmu; (2) jenis ilmu pengetahuan yang mungkin dapat diraih manusia; (3) sumber ilmu pengetahuan itu; dan (4) batas-batas ilmu pengetahuan manusia. Kajian epistimologi  diperlukan terutama untuk membuat jaminan-jaminan suatu keputusan itu dapat dikatakan benar. Kebenaran yang diambil atas dasar common sense tau mungkin atas dasar pandangan atau pendapat ahli saja tidak dapat menjamin seseorang untuk merasa puas akan temuannya. Kondisi ini meniscayakan seseorang ingin melanjutkannya dengan mencari sesuatu yang tidak menjadikannya ragu dan bimbang atas apa yang diketahuinya.
c.       Aksiologi
Dalam bidang aksiologi, pemikiran filsafat diarahkan pada persoalan nilai, baik dalam konteks estetika, moral maupun agama. Hal yang menjadi pertanyaan dalam wilayah ini terkait pada suatu hakikat nilai, apakah ia absolut atau relatif, bagaimana manentukan nilai, apakah sumber nilai itu dan lain sebagainya. Peersoalan nilai ini sesungguhnya adalah muara bagi keseluruhan aktivitas berpikir filsafat itu sendiri. Pendeknya, ujung dari keseluruhan aktivitas filsafat dalam bidang metafisika maupun epistimologi ialah terwujudnya tingkah laku dan perbuatan-perbuatan manusia yang mengandung nilai. Kearifan sebagai lambang orientasi kegiatan filsafat tidak akan terwujud jika aktivitas filsafat hanya bergerak dalam dua bidang kajiannya saja dan menegaskan wilayah aksiologi.

Tidak ada komentar:
Write komentar