Rabu, 03 Juli 2013

Hakikat dan Kedudukan Manusia di Dunia dalam Buku Filsafat Pendidikan Karangan Muhmidayeli

Toto Si Mandja - Hakikat dan Kedudukan Manusia di Dunia dalam Buku Filsafat Pendidikan Karangan Muhmidayeli

Membicarakan hakikat manusia dan kedudukannya berarti menempatkan manusia dan segala sesuatu yang berkenaan dengannya sebagai suatu masalah yang inheren. Persoalan manusia memang merupakan masalah yang selalu ada bagi setiap manusia yang sadar sepanjang sejarah kehidupannya, namun pemahaman yang sesungguhnya tidak akan ditemukan jika manusia itu tidak ditempatkan sebagai suatu realitas. Pertanyaan penting yang berkenaan dengan ini adalah apa hakikat manusia dan bagaimana kedudukannya dengan Penciptanya? Hal ini semakin penting dibicarakan mengingat tidak ada yang hidup dalam kehampaan realitas dan Tuhan sebagai pencipta. Atas dasar pemikiran ini, maka uraian akan diarahkan untuk membahas dua persoalan ini.

Hakikat Manusia

Untuk mencari hakikat manusia secara komprehensif adalah suatu yang sangat sulit. Hal ini tidak saja karena keunikan karakternya, tetapi juga karena sangat terbatasnya data dan kemampuan manusia untuk mengenal dirinya. Alexis Carrel seperti yang dikutip oleh Quraish Shihab menyebutkan bahwa sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian besar untuk mengetahui tentang dirinya, namun manusia itu hanya mampu mengetahui sekelumit saja dari dirinya. Kendatipun telah banyak temuan-temuan dan hasil penelitian dari para filusuf, ilmuwan, sastrawan, bahkan para ahli di bidang keruhanian sepanjang masa, namun mereka belum berhasil mengetahui manusia secara utuh, sehingga persoalan-persoalan yang mereka ajukan sampai saat ini punmasih tetap tanpa jawaban yang pasti.

Manusia secara sederhana dapat saja dikatakan sebagai makhluk Tuhan yang unik yang bermukim dibumi yang memiliki karakteristik tersendiri yang membedakan dirinya dari makhluk-makhluk lain yang berada di dunia. Pendefinisian seperti ini tentulah akan menggambarkan hakikat manusia itu secara keseluruhan, karena ada banyak varian yang bersemayam dalam sebutannya.

Para filusuf berbeda pandangan mengenai hakikat manusia, misalnya Plato, ia memandang manusia sebagai suatu pribadi yang tidak terbatas pada saat bersatunya jiwa dengan raga. Jiwa dan raga bukan diciptakan secara bersamaan. Jiwa telah ada jauh sebelum ia muncul ke dunia. Aristoteles dan para pengikutnya mengemukakan bahwa manusia adalah makhluk organis yang fungsionalisasinya tergantung pada jiwanya. Dengan menitikberatkan fungsi humanis itu pada jiwa, menjadikan pandangannya berhadapan dengan kesulitan-kesulitan ketika manusia memperlihatkan fungsi motoriknya, padahal unsur kreativitas manusia memiliki hubungan yang signifikan dengan daya motoriknya. 

Rene Descartes (1596-1650) seorangn tokoh rasionalisme, menjelaskan bahwa jiwa adalah terpadu, rasional dan konsisten yang dalam aktivitasnya selalu terjadi interaksi dengan tubuh. Interaksi jiwa dan tubuh ini dapat mengubah makna nafsu yang dimaknai dengan pengalaman-pengalaman sadar yang disertai dengan emosi jasmaniah. 

Sebagai makhluk yang mempunyai daya nalar, menjadikan manusia mampu melihat dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, apa-apa yang benar dan apa-apa yang salah dan dengannya dapat membuat keputusan-keputusan yang berharga untuk dirinya dalam rangka pengembangan kemanusiaannya. Karakteristik pokok manusia dalam hal ini tidak lain adalah kemampuannya dalam membaca, mendeskripsikan, mempelajari, memetakan, menelaah, memilah-milah, dan menganalisis berbagai realitas yang ada, sehingga ia pun dapat menemukan berbagai pengetahuan yang akan berguna bagi dirinya dalam menjalankan kehidupannya di dunia dan di akhirat.

Tidak ada komentar:
Write komentar