Rabu, 03 Juli 2013

Eksistensi Pendidikan dalam Pengembangan Fitrah Manusia dalam Buku Filsafat Pendidikan Karangan Muhmidayeli

Toto Si Mandja - Eksistensi Pendidikan dalam Pengembangan Fitrah Manusia dalam Buku Filsafat Pendidikan Karangan Muhmidayeli
 
Hakikat Manusia

Dalam konteks pemikiran pendidikan Islam, ada beberapa istilah yang digunakan untuk makna pendidikan, yaitu tarbiyah yang akar katanya rabba, ta’dibyang akar katanya addaba, dan ta’lim yang akar katanya ‘allama. Kendatipun ketiga istilah ini menunjuk pada orientasi dan pendekatan yang berbeda-beda, namun ungkapannya sering ditemukan dikalangan pemukir muslim. Kata tarbiyah seperti diungkapkan oleh Raghib Al-Isfahani dalam kitab Mu’jam Mufradaat Al-Faazh Al-Qur'an, menyebutkan bahwa istilah ini berkonotasi pada aktivitas manusia mengembangkan dan atau menumbuhkan sesuatu secara berangsur-angsur setahap demi setahap sampai pada terminal yang sempurna. Istilah ta’dib lebih berkonotasi pada proses pembinaan sikap mental manusia yang erat kaitannya dengan masalah moral dan lebih berorientasi pada pengembangan dan peningkatan martabat manusia. Sedangkan ta’limdiarahkan pada proses pemberian berbagai ilmu pengetahuan, dari tidak dan tahu belum mengetahui sesuatu, maka dengan aktivitas ta’lim menjadikan ia pun mengetahuinya.

Ketiga istilah diatas sebenarnya bukanlah tanpa hubungan, terutama mengingat aksentuasi aktivitasnya yang memang terkait satu dengan yang lainnya. Jika istilah ta’dib dapat digunakan untuk menunjuk sebutan pendidikan secara umum, dan istilah ta’limuntuk memberikan sebutan pada proses interaksinya, maka istilah tarbiyahlebih pada sebutan pendidikan dalam maknanya yang formal.

Secara definitif, Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaebani menyebutkan bahwa pendidikan adala usaha mengeubah tingkah laku individu dalam kehidupan peribadinya atau kehidupan masyarakatnya dan kehidupan dalam alam sekitarnya. Muhammad Fadhil Al-Jamaly dalam hal ini mengungkapkan bahwa pendidikan mesti selalu berkaitan dengan masalah keberagamaan yang dilandasi pada iman yang dalam, karena iman lah yang dapat mengarahkan manusia pada akhlak yang mulia yang ditandai denganperilaku-perilaku yang shalih. Oleh karena itu, menurutnya upaya pendidikan mesti telah dilakukan sejak subjek didalam kandingan sampai akhir hayatnya. Ali Khalil Abu ‘Ainain mengungkapkan, bahwa pendidikan mestilah meliputi segala aspek yang dibutuhkan manusia dalam rangka peraihan keseimbangan kehidupan di dunia dan di akhirat. 

Menjadikan manusia sebagai dirinya erat kaitannya dengan menyadarkan manusia itu akan dirinya yang memang terlahir untuk moral. Oleh karena itu aksentuasi pendidikan semestinya pula ditujukan pada upaya menumbuhkembangkan kesadaran moral dalam diri manusia sehingga benar-benar aktual dalam kehidupannya. Upaya penyadaran erat kaitannya dengan fungsionalisasi rasionalitas manusia yang menjadi pertanda bagi dirinya, terarah sedemikian rupa sehingga benar-benar dapat mencegah berbagai problem kemanusiaan itu sendiri. Kematangan berpikir selalu ditandai dengan kearifan seseorang didalam memandang berbagai realitas yang ada, sehingga keputusan-keputusan yang dibuatnya selalu dibangun atas dasar pertimbangan-pertimbangan yang kukuh yang pada akhirnya akan melahiran suatu keteguhan hati dan keyakinan yang mendalam atas suatu tindakan.


Urgensi Pendidikan Berdimensi Moral bagi Manusia
 
Manusia adalah hamba Allah SWT  yang dianugerahkan kelengkapan potensi psikis berupa akal, kemauan dan perasaan agar ia mampu beraktivitas dan berimajinasi dalam kehidupannya dengan berlandaskan pada iman dan moralitas yang tinggi sangat berguna bagi kemanusiaan manusia. Kondisi fitrah manusia sedemikian tidak dapat hidup subur dan terarah dengan baik jika tidak dipelihara dan dikembangkan oleh manusia itu sendiri melalui penyiapan berbagai perangkat pendukung lahirnya perilaku moral potensial itu menjadi moral potensial aktual. 
Pendidikan dalam hal ini dapat dilihat sebagai pengupayaan manusia sejatinya, disengaja, terarah, dan tertata sedemikian rupa menuju pembentukan manusia-manusia yang ideal bagi kehidupannya, atau dengan kata lain, pendidikan tidak lain adalah segala pengupayaan yang dilakukan secara sadar dan terarah untuk menjadikan manusia sebagai yang baik dan ideal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan penyediaan kondisi yang baik untuk menjadikan perilaku-perilaku potensial yang dianugerahkan kepada manusia tidak lagi sebatas kecenderungan manusiawi an sich, tetapi benar-benar aktual dan realita kehidupannya. Jika demikian, pendidikan adalah suatu kemestian bagi pemanusiaan manusia. 

Robert L. Ebel mengungkapkan bahwa beberapa penyebab terpinggirkannya perhatian pendidikan sekolah terhadap penumbuhkembangan perilaku moral subjek didiknya, diantaranya:
a.       Bahwa dalam masyarakat telah terjadi penekanan yang amat terhadap kebebasan individu dari pada tanggungjawab personal.
b.      Lebih mementingkan hak-hak sipil dari pada kewajiban sipil.
c.       Adanya semacam kecenderungan dalam masyarakat yang melihat perubahan dan inovasi sebagai sesuatu yang lebih baik dari tradisi dan stabilitas didalam kehidupannya.
 

Tidak ada komentar:
Write komentar