Senin, 10 Juni 2013

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Toto Si Mandja -  Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Definisi Kurikulum
Menurut Mr. Bill Hodgkinson (1991), the curriculum is a series of unit or subject to be mastered / to be cevered. Menurut R.C. Doll, the curriculum is all that happens in school to influence the development of student. John D. Mc. Neil membagi pengertian mem=njadi 5 kategori yakni:
1.      Kurikulum Ideal (Ideal Curriculum);
2.      Kurikulum Formal (Formal Curriculum);
3.      Kurikulum dalam persepsi (Perceived Curricuulum);
4.      Kurikulum Operasional (Operational Curriculum);
5.      Kurikulum yang dialami (Experiences Curriculum).
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional: Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pengajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman bagi guru dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tententu.

Model-model Kurikulum
1.      Kurikulum Subjek Akademis
Kurikulum ini bersumber dari kurikulum klasik. Kurikulum subjek akademis merupakan kurikulum yang mengutamakan isi yang berisikan kumpulan bahan ajar dan rencana pembelajaran.
2.      Kurikulum Humanistik
Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi yaitu John Dewey (Progresive Education) dan J.J. Rousseau (Romantic Education). Kurikulum humanistik merupakan kurikulum yang mengutamakan proses belajar mengajar.
3.      Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Kurikulum ini lebih memusatkan pada problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurilukum ini bersumber dari aliran pendidikan interaksional.
4.      Kurikulum Teknologis
Kurikulum ini merupakan kurikulum yang menggabungkan antara ilmu pengetahuan dengan teknologi.

Struktur Organisasi Kurikulum
Organisasi kurikulum merupakan suatu cara menyusun bahan-bahan atau pengalaman belajar yang ingin dicapai.
Ada 3 model desain kurikulum yaitu:
1.      Subject Centered Design
Suatu desain kurikulum yang berpusat pada bahan ajar.
2.      Lerner Centered Design
Suatu desain kurikulum yang mengutamakan peranan siswa.
3.      Problem Centered Design
Suatu desain kurikulum yang berpusat pada masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.
Faktor dalam organisasi kurikulum, yaitu:
1.      Rung lingkup (scope)
2.      Urutan (sequence)
3.      Kesinambungan (continuity)
4.      Terpadu (integrated)
5.      Keseimbangan (balance)
6.      Waktu (times)



Kurikulum Pendidikan Agama Islam
1.      Pengertian Kurikulum
Istilah kurikulum yang awalnya digunakan dalam duni aolahraga, berasal dari kata kurir (pelari) dan curere (tempat berpaku). Kurikulum memiliki peran yang sangat strategis dalam pencapaian tujuan pendidikan. Terdapat 3 peranan kurikulum yang dinilai sangat penting, yaitu peranan konservatif, peranan kritis atau evaluatif dan peranan kreatif.
2.      Kurikulum Pendidikan Islam Klasik
Munculnya pendidikan Islam bersamaan dengan lahirnya Islam itu sendiri. Pendidikan pada awalnya dilakukan dengan peralatan yang sederhana sekali. Pendidikan Islam dimasa klasik yag dilakukan nabi di Mekkah merupakan prototype yang bertujuan untuk membina pribadi muslim agar menjadi kader yang berjiwa kuat dan dipersiapkan menjadi masyarakat Islam, mubaligh dan pendidikan yang baik.
3.      Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Indonesia
Dalam realitas sejarahnya, pengembangan kurikulum PAI tersebut ternyata mengalami perubahan-perubahan paradigma, walaupun dalam beberapa hal tertentu paradigma sebelumnya masih tetap dipertahankan hingga sekarang. Pelaksanaan PAI di SMA yang belum terlaksana secara optimal. Dengan upaya serius untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan agama Islam secara bersamaan dengan sekolah.

Perkembangan Kurikulum di Indonesia
1.      Kurikulum Tahun 1947 (Leer Plan)
a.       Perubahan kurikulum lebih bersipat politis dari orientasi pendidikan Belanda pada kepentingan nasional;
b.      Dari pendidikan Intelektual ke pendidikan Watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat;
c.       Pembelajaran bersifat kontekstual dengan kehidupan sehari-hari;
d.      Leer plan mulai berlaku tahun 1950.
2.      Kurikulum Tahun 1952 (Kurikulum Terurai)
a.       Rencana pelajaran terurai;
b.      Silabus (GBPP) mata pelajaran sangat jelas;
c.       Setiap guru mengajar satu mata pelajaran;
d.      Guru sebagai user kurikulum.
3.      Kurikulum Tahun 1964 (Rencana Pendidikan)
a.       Kurikulum ini lahir di penghujung pemerintahan Presiden Soekarno;
b.      Terfokus pada pengembangan daya: cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana);
c.       Ada 5 kelompok Mata Pelajaran: Moral, Kecerdasan, Emosional/Artistik, Keprigelan, dan Jasmani.
4.      Kurikulum Tahun 1975 (PPSI / Berbasis pada Tujuan)
a.       Mementingkan pencapaian tujuan (MBO);
b.      Materi, tujuan dan metode pengajaran dibuat rinci dalam PPSI;
c.       Silabus pengajaran dikenal dengan satuan pelajaran;
d.      Guru disibukkan dengan persiapan mengajar.
5.      Kurikulum Tahun 1984 (Pendekatan Proses / CBSA)
a.       Semangatnya mengusung Process Skill Approach”;
b.      Tujuan tetap dipentingkan;
c.       Semangatnya penyempurnaan kurikulum 1975.
6.      Kurikulum Tahun 1994
a.       Memadukan kurikulum tahun 1975 dan 1984;
b.      Munculnya kurikulum suplemen 1999;
c.       Munculnya kurikulum muatan lokal;
d.      Beban belajar siswa dipandang terlalu padat dan berat;
e.       Lahirnya otonomi pendidikan tahun 1999.
7.      Kurikulum Tahun 2004 (KBK)
a.       Setiap Mata Pelajaran diurai berdasarkan kompetensi yang akan dicapai;
b.      Kompetensi mata pelajaran terkonsentrasi pada paduan antara pengetahuan, sikap &keterampilan;
c.       Sistem evaluasi yang dikembangkan relevan dengan pengembangan Kompetensi Mata Pelajaran.
8.      Kurikulum Tahun 2006 (KTSP)
a.       Penyempurnaan KBK;
b.      Disesuaikan dengan kebutuhan, ketersediaan masing-masing satuan pendidikan;
c.       Pengembangan Tujuan pada Silabus pembelajaran. dari pemerintah hanya sampai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar;
d.      Pengembangan bahan ajar diserahkan pada sekolah pada silabus hanya sampai Materi Pokok;
e.       Pengembangan strategi pembellajaran diserahkan pada guru.

Kurikulum dan Tujuan Pembelajaran
Tujuan mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam kurikulum, karena akan mengarahkan dan mempengaruhi komponen-komponen urikulum lainnya.
1.      Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan Pendidikan Nasional adalah tujuan-tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan sarana akhir yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan.
2.      Tujuan Institusional
Tujuan Institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan.
3.      Tujuan Kurikuler
Tujuan Kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran.
4.      Tujuan Pembelajaran (Instruksional)
Tujuan pembelajaran merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang tertentu pula.

Kurikulum dan Bahan Ajar
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
Jenis bahan ajar antara lain
1.      Bahan ajar pandang (visual);
2.      Bahan ajar dengar (audio);
3.      Bahan ajar pandang dengar (audiovisual);
4.      Bahan ajar multimedia interaktif.
Sumber bahan ajar merupakan tempat dimana bahan ajar diperoleh. Dalam mencari sumber bahan ajar, siswa dilibatkan mencarinya sesuai dengan prinsip oembelajaran siswa aktif (CBSA).
Sumber-sumber yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1.      Buku teks;
2.      Laporan hasil penelitian;
3.      Jurnal penerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmiah;
4.      Buku kurikulum;
5.      Internet;
6.      Berbagai jenis media audio visual;
7.      Lingkungan.

Kurikulum dan Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran ialah proses individu mengubah perilaku dalam upaya memenuhi kebutuhannya. Hal ini mengandung arti bahwa individu akan melakukan kegiatan belajar apabila ia menghadapi situasi kebutuhan. Proses pembelajaran akan terjadi apabila individu menghadapi situasi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi dengan insting atau kebiasaan. Adanya kebutuhan, akan mendorong individu untuk mengkaji perilaku yang ada dalam dirinya, apakah yang ada dapat memenuhi kebutuhan atau tidak. Apabila tidak, maka ia harus memperoleh perilaku yang baru dengan proses pembelajaran.
Rangkaian Aktivitas Proses Pembelajaran
1.      Adanya kebutuhan dan melihat tujuan yang ingin dicapai.
2.      Kesiapan individu untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan.
3.      Pemahaman Situasi.
4.      Menafsirkan Situasi.
5.      Tindak Balas (respon).
6.      Akibat (hasil) Pembelajaran.

Evaluasi Kurikulum
Peranan Evaluasi Kurikulum
1.      Kedudukan Evaluasi dalam kurikulum
a.       Kurikulum adalah suatu program
b.      Guru sebagai pengembang kurikulum perlu mengetahui keefektifan dan efisiensi sistem kurikulum
2.      Tujuan dan Fungsi Evaluasi Kurikulum
Tujuan evalusai kurikulum adalah untuk mengetahui keefektifan dan efisiensi sistem kurikulum, baik yang menyangkut tentang tujuan , isi/materi, strategi, media, sumber belajar, lingkungan maupun sistem penilaian itu sendiri.
Ujian sebagai Evaluasi Kurikulum
Sejak diperkenalkan sistem ujian tes untuk umum di Amerika Serikat dan negara-negara lain, pengukuran yang berbentuk umum (publik) tersebut merupakan salah satu model evaluasi dalam pendidikan. Menguji adalah mengevaluasi kemampuan individu. Dengan adanya ujian-ujian tersebut, maka janis-jenis kemampuan tertentu dipandang menunjukan status lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan lainnya.
Analisis Dokumen Tertulis Kurikulum (Pengembangan Silabus Berdasarkan KTSP)
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Landasan pengembangan silabus adalah Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 17 ayat (2) dan pasal 20 yang berbunyi sebagai berikut:
Pasal 17 (2) sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetemsi lulusan, dibawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab dibidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan dibidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK.
Pasal 20 Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar dan penilaian hasil belajar.
Beberapa prinsip yang mendasari pengembangan silabus antara lain:
1.      Ilmiah;
2.      Relevan;
3.      Sistematis;
4.      Konsisten;
5.      Memadai;
6.      Aktual dan Kontekstual
7.      Fleksibel;
8.      Menyeluruh.
Komponen-komponen silabus:
1.      Identitas silabus;
2.      Standar Kompetensi;
3.      Kompetensi Dasar;
4.      Materi pokok/pembelajaran;
5.      Kegiatan pembelajaran;
6.      Indikator;
7.      Penilaian;
8.      Alokasi waktu;
9.      Sumber belajar.

Karakteristik Kurikulum PAI
Ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Kurikulum 1964 (Rentjana Pendidikan 1964) Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Kurikulum 1964 (Rentjana Pendidikan 1964) Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratakan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984. Karena itulah pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 oleh kurikulum 1984. Kurikulum 1984 (Kurikulum CBSA).
Ciri-Ciri umum dari Kurikulum CBSA adalah: Berorientasi pada tujuan instruksional Pendekatan pembelajaran adalah berpusat pada anak didik; Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) Pelaksanaan. kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004 dan 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi dimasyarakat.
Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004 dan 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Kurikulum Tahun 1947 (Rentjana Pelajaran 1947), Awalnya pada tahun 1947, kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947. Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini.Kurikulum 1952 (Rentjana Pelajaran 1947)Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan.

Landasan dan Prinsip Pengembangan Kurikulum
Suatu bangunan kurikulum memiliki empat komponen yaitu komponen tujuan, isi/materi, proses pembelajaran, dan komponen evaluasi, maka agar setiap komponen bisa menjalankan fungsinya secara tepat dan bersinergi, maka perlu ditopang oleh sejumlah landasan yaitu landasan filosofis sebagai landasan utama, masyarakat dan kebudayaan, individu (peserta didik), dan teori-teori belajar (psikologis).
1.      Landasan Filosofis
Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum ialah pentingnya rumusan yang didapatkan dari hasil berpikir secara mendalam, analisis, logis, sistematis dalam merencanakan, melaksanakan, membina dan mengembangkan kurikulum baik dalam bentuk kurikulum sebagai rencana (tertulis), terlebih kurikulum dalam bentuk pelaksanaan di sekolah.
2.      Landasan Psikologis
Penerapan landasan psikologi dalam pengembangan kurikulum, tiada lain agar upaya pendidikan yang dilakukan dapat menyesuaikan dari segi materi atau bahan yang harus disampaikan, penyesuaian dari segi proses penyampaian atau pembelajarannya, dan penyesuaian dari unsur-unsur upaya pendidikan lainnya. Anak sejak dilahirkan sudah memperlihatkan keunikan-keunikan, seperti pernyataan dirinya dalam bentuk tangisan atau gerakan-gerakan tertentu. Hal ini memberikan gambaran bahwa sebenarnya sejak lahir anak telah memiliki potensi untuk berkembang. Bagi aliran yang sangat percaya dengan kondisi tersebut sering menganggap anak sebagai orang dewasa dalam bentuk kecil.
3.      Landasan Sosiologis
Landasan sosiologis menyangkut kekuatan-kekuatan sosial di masyarakat. Kekuatan-kekuatan itu berkembang dan selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman. Kekuatan itu dapat berupa kekuatan yang nyata maupun yang potensial, yang berpengaruh dalam perkembangan kebudayaan seirama dengan dinamika masyarakat.
Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum.

Model-model Kurikulum
Model  pengembangan  kurikulum  merupakan  suatu alternatif  prosedur  dalam rangka mendesain (designing),  menerapkan (implementation), dan mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus dapat  menggambarkan  suatu proses  sistem perencanaan  pembelajaran  yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan pendidikan.
Model Pengembangan Kurikulum
1.      The Administrative Model
Model pengembangan kurikulum yang paling awal dan sangat umum dikenal dengan model administrative karena model ini menggunakan prosedur “garis staff” atau garis komando “dari atas ke bawah” (top-down).
2.      The Grass Roots Model 
Model pengembanganini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Model pengembangan kurikulum yang pertama, digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots seorang guru, sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum.
3.      Beauchamp’s System Model
Model pengembangan kurikulum ini, dikembangkan oleh Beauchamp seorang ahli kurikulum.
4.      Model Demostrasi
Model  pengembangan kurikulum  idenya  datang dari  bawah        (grass  roots). Semula  merupakan  suatu upaya  inovasi kurikulum dalam  skala kecil  yang selanjutnya digunakan dalam  skala  yang  lebih luas,  tetapi  dalam  prosesnya  sering  mendapat tantangan atau ketidaksetujuan dari pihak-pihak tertentu.
5.      Model Taba (Inverted Model)
Model Taba merupakan modifikasi model tyler. Modifikasi tersebut penekanannya terutama pada pemusatan perhatian guru. Menurut Taba, guru harus penuh aktif dalam pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum yang dilakukan guru dan memposisikan guru sebagai inovator dalam pengembang kurikulum merupakan karakteristik dalam model pengembangan Taba. Dalam pengembangannya, model ini lebih bersifat induktif, berbeda dengan model tradisional yang deduktif.
6.      Model Pengembangan Kurikulum Rogers
Model pengembangan kurikulum rogers adalah kurikulum yang dikembangkan hendaknya dapat mengembangkan individu secara fleksibel terhadap perubahan-perubahan dengan cara melatih diri berkomunikasi secara interpersonal.
7.      The Systematic Action-Research Model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial. Hal itu mencakup suatu proses yang melibatkan kepribadian orang tua, siswa guru, sturktur sistem sekolah, pola hubungan pribadi dan kelompok dari sekolah dan masyarakat. Sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan pada tiga hal itu: hubungan insani, sekolah dan organisasi masyarakat, serta wibawa dari pengetahuan profesional.
8.      Emerging Technical Models
Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai efesiensi efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum. Tumbuh kecenderungan-kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu, di antaranya: 1) The Behavioral Analysis Model, 2) The System Analysis Model, 3) The Computer Based Model.

Tidak ada komentar:
Write komentar