Senin, 20 Mei 2013

Makalah Model-model Pembelajaran Tentang Active Learning

Toto Si Mandja - Makalah Model-model Pembelajaran Tentang Active Learning

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Landasan teori
Pakar teknologi pendidikan, Gagne, Briggs dan Wager (1993, hal. 3-11) menyatakan bahwa proses belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor internal peserta didik itu sendiri dan faktor eksternal, yaitu pengaturan kondisi belajar. Proses belajar sinergi memori jangka pendek dan jangka panjang diaktifkan melalui penciptaan faktor eksternal, yaitu pembelajaran atau lingkungan belajar. Melalui inderanya, peserta didik dapat menyerap materi secara berbeda. Pengajar mengarahkan agar pemrosesan informasi untuk memori jangka panjang dapat berlangsung lancar.

Menurut Magnesen (Dryden dan Vos, 1999) belajar terjadi dengan:
1.    Membaca sebanyak 10%
2.    Mendengar 20%
3.    Melihat 30%
4.    Melihat dan mendengar sebanyak 50%
5.    Mengatakan 70%
6.    Mengatakan sambil mengerjakan sebanyak 90%

Sejak dulu Burner percaya bahwa penyajian materi bisa dimulai dari yang termudah secara bertahap kearah materi yang lebih sukar. Dengan kata lain, materi yang bersifat sederhana sebaiknya dijelaskan lebih dulu, sehingga jika diberikan materi yang lebih rumit peserta didik tidak terlalu kaget. Atau dengan bahasa lain, materi konkret, nyata diberikan terlebih dahulu karena mudah kemudian disusul dengan materi abstrak secara bertahap.

John Dewey (1956-1952) dalam teori konstruktivisme, belajar harus bersifat aktif, langsung terlibat, berpusat pada siswa (SLC = Student Centred Learning) dalam konteks pengelaman sosial. Kesadaran sosial menjadi tujuan dari semua pendidikan, dan guru bertindak sebagai fasilitator. Konstruktivisme adalah suatu pendapat yang menyatakan bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu proses dimana anak secara aktif membangun sistem arti dan pemahaman terhadap realita melalui pengalaman dan interaksi mereka. Konstruktivisme adalah teori perkembangan kognitif yang menekankan peran aktif siswa dalam membangun pemahaman mereka tentang realita.

B.    Pengertian
Model Active Learning adalah proses kegiatan belajar mengajar yang subjek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional sehingga ia betul-betul berperan dan berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar.  Salah satu cara agar peserta didik aktif adalah dengan membuat kelompok, dengan begitu peserta didik akan terpancing untuk turut serta dalam segi kognitif, afektif maupun psikomotorik. Menurut Mel Silberman dalam bukunya Active Learning, belajar aktif merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi-strategi pembelajaran yang konfrehensif.

Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik aktif sejak awal melalui aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran. Sebagai contoh Debat Silang, Debat Silang adalah pembahasan suatu masalah, topik, ataupun isu, oleh kedua belah pihak yang berlainan pendapat, bahkan bertentangan. Akhir perdebatan adalah berupa rumusan pendapat. Selanjutnya apakah hadirin akan diberi kesempatan untuk bertanya atau mengemukakan pendapat atau tidak, terserah kepada pimpinan debat itu. 

Belajar aktif berlaku bagi siapa saja, baik yang berpengalaman atau pemula, yang mengajarkan informasi konsep-konsep, dan keterampilan-keterampilan teknis dan nonteknis.  Siswa harus banyak berperan dalam mengembangkan cara-cara belajar mandiri, ia tidak hanya sebagai siswa pasif akan tetapi sebagai siswa yang juga berperan membuat perencanaan, pelaksanaan, dan tercapainya suatu hasil (output) yang bertitik tolak pada kreativitas dan partisipasinya dalam kegiatan pembelajaran , seperti gambar dibawah ini:

C.    Langkah-langkah
Sebuah debat bisa menjadi metoda berharga untuk meningkatkan pemikiran dan perenungan, terutama jika siswa diharapkan mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan diri mereka sendiri. Ini merupakan strategi debat secara aktif melibatkan tiap siswa didalam kelas, tidak hanya mereka yang berdebat. Langkah-langkahnya meliputi:
1.    Susunlah sebuah pernyataan yang berisi pendapat tentang isu kontroversial yang terkait dengan mata pelajaran , misalkan (“Pelajaran PAI yang tidak dijadikan Ujian Sekolah/Nasional”).
2.    Bagilah siswa menjadi dua tim debat. Berikan (secara acak) posisi “pro” kepada satu kelompok dan posisi “kontra” kepada kelompok yang lain.
3.    Selanjutnya, buatlah dua hingga empat sub kelompok dalam masing-masing tim debat. Misalnya, misalnya dalam sebuah kelas yang berisi 24 siswa, Anda dapat membuat tiga sub kelompok pro dan tiga kelompok kontra, yang masing-masing terdiri dari empat anggota. Perintahkan tiap sub kelompok untuk menyusun argumen bagi pendapat yang dipegangnya, atau menyediakan daftar panjang argumen yang memungkin akan mereka diskusikan dan pilih. Pada akhir dari diskusi mereka, perintahkan sub kelompok untuk memilih juru bicara.
4.    Mulailah ‘debat” dengan meminta para juru bicara mengemukakan pendapat mereka. Sebutlah proses ini sebagai “argumen pembuka”.
5.    Setelah semua siswa  mendengarkan argumen pembuka, hentikan debat dan suruh mereka kembali ke sub kelompok awal mereka.
6.    Bila debat dirasa cukup, akhirilah debat. Tanpa menyebut pemenangnya.
Belajar dengan pendekatan SAVI:
a.    Somatis    : Belajar dengan bergerak dan berbuat
b.    Auditori    : Belajar dengan berbicara dan mendengar
c.    Visual    : Belajar dengan mengamati dan menggambarkan
d.    Intelektual: Belajar dengan memecahkan masalah dan merenung

Berikut ini adalah beberapa tata letak untuk menyusun kelas agar merangsang pendekatan tersebut.
Lingkungan fisik dalam kelas dapat mendukung atau menghambat kegiatan belajar aktif. Tidak ada satu susunan yang mutlak ideal, namun ada banyak pilihan yang tersedia. “Pendekorasian interior” kegiatan belajar aktif merupakan hal yang menyenangkan dan menantang (khususnya bila perabotannya kurang ideal). Beberapa kasus, perabotan kelas bisa disusun ulang untuk menciptakan formasi yang berbeda. Bahkan meja tradisional bisa disatukan agar membentuk satu meja besar dan juga membentuk formasi yang berbeda. Jika anda memilih melakukannya, mintalah siswa untuk membantu memindahkannya, hal itu juga membuat mereka “aktif”. 
a.    Bentuk U, ini merupakan formasi yang serbaguna. Siswa bisa menggunakan permukaan meja untuk membaca dan menulis, dan bisa melihat media visual dengan mudah.
b.    Gaya tim, mengelompokkan meja secara melingkar didalam ruang kelas untuk meningkatkan interaksi tim.
c.    Meja konfrensi, formasi ini sangat baik bila mejanya relatif bundar atau persegi. Formasi ini meminimalkan dominasi guru dan memaksimalkan peran siswa.
d.    Lingkaran, interaksi tatap muka akan lebih baik dengan hanya menempatkan siswa dalam formasi lingkaran tanpa meja.
e.    Kelompok pada kelompok, formasi ini kemungkinan Anda untuk melakukan diskusi terbuka atau debat.

D.    Implementasi berupa simulasi
Simulasi telah diterapkan dalam pendidikan lebih dari tiga puluh tahun. Pelopornya antara lain Sarene Boocock dan Harold Guetzkow.  Seperti yang telah dijelaskan diatas, implementasinya siswa harus membentuk kelompok debat agar mereka terpancing responnya. Langkah-langkahnya seperti yang sudah dipaparkan diatas. Sebagai contoh kami menggunakan gaya tim, yaitu mengelompokkan meja seperti lingkaran atau setengah lingkaran didalam kelas untuk meningkatkan interaksi tim, seperti gambar dibawah ini:

Tidak ada komentar:
Write komentar