Senin, 20 Mei 2013

Makalah Fiqih Sosial Tentang Shalat Menurut Imam Empat Madzhab

Toto Si Mandja - Makalah Fiqih Sosial Tentang Shalat Menurut Imam Empat Madzhab

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Mazhab

Secara bahasa, dalam kamus Al-Munjid fi Al-Lughah wa al-Alam, di jelaskan bahwa makna “mazhab” memiliki dua pengertian : pertama telah berjalan, telah berlalu, telah mati. Kedua sesuatu yang di ikuti dalam berbagai masalah di sebabkan adanya pemikiran. Secara bahasa mazhab di artikan sebgai pendapat , kepercayaan, ideologi, doktrin, ajaran, paham, aliran-aliran dalam hukum.  Menurut pendapat lain mengatakan bahwa mazhab berasal dari “zhahaba” yang berarti pergi, bias juga berarti “al-ra’yu” yang artinya pendapat.

Sedangkan  pengertian mazhab menurut istilah adalah aliran pemikiran atau perspektif dibidang fiqih yang dalam proses perjalanannya menjadi sebuah komunitas dalam masyarakat islam di berbagai aspek agama.  Mazhab adalah jalan pemikiran atau metode yang ditempuh oleh seorang imam Mujtahid dalam menetapkan hukum suatu peristiwa berdasarkan kepada al-qur’an dan hadis. Jadi mazhab adalah pokok pikiran atau dasar yang digunakan oleh imam Mujtahid untuk memecahkan masalah atau menisbatkan hukum islam. Selanjutnya Imam mazhab dan mazhab itu berkembang pengertiannya menjadi kelompok umat islam yang mengikuti istinbath Imam mujtahid tertentu atau mengikuti pendapat imam mujtahid tentang masalah hukum islam.

B.    Biografi Imam Empat Mazhab
1.    Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah adalah pendiri mazhab Hanafi, nama aslinya Abu Hanifah An-Nukman bin Tsabit bin Zufi At-Tamimi. Beliau masih memunyai pertalian hubungan kekeluargaan dengan Imam Ali bin Abi Thalib ra. Imam Ali bahkan pernah berdoa bagi Tsabit, yakni agar Allah memberkahi keturunannya. Tak heran, jika kemudian dari keturunannya lahir seorang ulama besar seperti Abu Hanifah.

    Beliau dilahirkan di Kufah pada tahun 80 H/658 M., pada masa pemerintahan Al-Qalid bin Abdul Malik, selanjutnya ia menghabiskan masa kecil dan dewasa disana. Sejak masih kanak-kanak beliau sudah mengaji dan menghafalkan Al-Qur’an serta memperdalam pengetahuannya pada Imam Asin, seorang ulama terkenal pada masa itu. Beliau aktif mempelajari ilmu fiqih dan hadits pada Anas bin Malik, Abdullah bin Aufa dan Abu Tufail Amir.

    Imam Abu Hanifah wafat pada 150 H/728 M., pada usia kurang lebih 70 tahun. Sepeninggal beliau, ajaran dan ilmunya tetap tersebar melalui murid-muridnya yang cukup banyak. Diantaranya yang terkenal adalah Abu Yusuf, Abdulah bin Mubarak, Waki’ bin Jarah Ibn Hasan Al-Syaibani, dan lain-lain. Sedangkan diantara kitab ciptaannya adalah Al-Musuan, Al-Makharij, dan Fiqh Akbar.

2.    Imam Malik bin Anas
Imam Malik bin Anas lahir di Madinah, pada tahun 93 H. beliau berasal dari Kabilah Yamaniah pendiri mazhab Maliki. Ia memperdalam hadits pada Ibn Syihab dan mempelajari fiqih pada para sahabat. Karena ketekunan dan kecerdasannya, Imam Maliki tumbuh sebagai seorang ulama yang terkemuka, terutama pada bidang ilmu hadits dan fiqih. Bukti atas hal itu adalah ucapan Al-Dahlani ketika dia berkata “Malik adalah orang yang paling ahlindalam bidang hadits di Madinah, yang paling mengetahui tentang keputusan-keputusan Umar, yang paling mengerti tentang pendapat-pendapat Abdullah bin Umar, Aisyah ra., atas dasar itu jika ada permasalahan ia memberikan fatwa.
Imam Malik telah menulis kitab Al-Muwaththa’, yang merupakan kitab hadits dan fiqih. Beliau meninggal dunia pada usia 86 tahun, namun demikian, mazhab Maliki tersebar luas dan dianut dibanyak bagian dipenjuru dunia.

3.    Imam Syafi’i
Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i Al-Quraisyi lahir di Gazzah, pada tahun 150 H, bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah. Beliau giat mempelajari hadits dari ulama-ulama hadits yang banyak terdapat di Makkah. Pada usianya yang masih kecil, beliau sudah hafal Al-Qur’an. Pada usianya yang ke-20, beliau meninggalkan Makkah mempelajari ilmu fiqih dari Imam Malik. Merasa masih harus memperdalam pengetahuannya, beliau kemudian pergi ke Iraq, untuk mempelajari fiqih, dari murid Abu Hanifah yang masih ada.

Setelah wafat Imam Malik, beliau kemudian pergi ke Yaman, menetap dan mengajarkan ilmu disana, bersama Harun Al-Rasyid, yang telah mendengar tentang kehebatan beliau. Kemudian meminta beliau untuk dating ke Baghdad. Imam Syafi’i memenuhi undangan tersebut, sejak itu beliau dikenal secara lebih luas, dan banyak orang belajar kepadanya. Pada waktu itulah mazhabnya mulai dikenal.

Tak lama setelah itu, Imam Syafi’i kembali ke Makkah dan mengajar rombongan jamaah haji yang dating dari berbagai penjuru. Melalui mereka inilah, mazhab Syafi’i menjadi tersebar luar ke penjuru dunia.pada tahun 198 H, beliau pergi ke negeri Mesir. Beliau mengajar di mesjid Amru bin As. Beliau juga menulis kitab Al-Um, Amali Kubra, kitab Risalah, Ushul Al-Fiqh, dan memperkenalkan Waul Jadid sebagai mazhab baru.
Imam Syafi’i wafat di Mesir, setelah menyebarkan ilmu dan manfaat kepada banyak orang. Murid-murid beliau yang terkenal antara lain adalah Muhammad bin Abdullah bin Al-Hakam, Abu Ibrahim bin Ismail bin Yahya Al-Muzani, Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya Al-Buwaiti.

4.    Imam Ahmad Hambali
Imam Ahmad Hambali adalah Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal Al-Syaibani, mendapat gelar Al-Mururi kemudian Al-Baghdadi.  Beliau dilahirkan di Baghdad pada bulan Rabiul Awal tahun 164 H. Ahmad bin Hambal dibesarkan dalam keadaan yatim oleh ibunya, karena ayahnya meninggal ketika beliau masih bayi. Sejak kecil beliau telah menunjukkan sifat dan pribadi yang mulia, sehingga menarik simpati banyak orang. Baghdad merupakan pusat ilmu pengetahuan. Beliau memulai dengan belajar mengahafal Al-Qur’an kemudian belajar bahasa Arab, hadits, sejarah Nabi dan sejarah sahabat serta para tabi’in.

Untuk memperdalam ilmu, beliau pergi ke Bashar untuk menjumpai Imam Syafi’i, beliau juga menutut ilmu ke Yaman dan ke Mesir. Diantara guru beliau antara lain Yusuf Al-Hasan bin Ziad, Husyaim, Umair, Ibn Humam dan Ibn Abbas. Imam Ahmad bin Hambal banyak mempelajari dan meriwayatkan hadits, dan beliau tidak mengambil hadits, kecuali hadits yang sudah jelas shahihnya. Kitab yang terkenal karyanya adalah Musnad Ahmad Hambal. Imam Ahmad Hambal wafat di Baghdad pada usia 77 tahun, atau tepatnya pada tahun 241 H pada masa pemerintahan Khalifah Al-Wathiq. Sepeninggal beliau, mazhab Hambali berkembang luas dan menjadi salah satu mazhab yang memiliki bayak penganut.

C.    Sejarah Lahirnya Mazhab
Secara umum, proses lahirnya mazhab yang paling utama adalah faktor usaha para murid Imam mazhab yang menyebarkan dan menanamkan pendapat para Imam kepada masyarakat dan juga disebabkan adanya pembukuan pendapat para imam mazhab sehingga memudahkan tersebarnya pendapat terssebut dikalangan masyarakat. Karena pada dasarnya, para Imam mazhab tidak mengakui atau mengklaim sebagai “mazhab”. Secara umum mazhab berkaitan dengan “nama imam” atau “tempat”. Sejak masa sahabat telah banyak sarajana yang bermunculan seperti di Madinah, di Mekah, Basrah, Syam (Syiria).

Tokoh-tokoh ahli hukum tersebut, berikut kegiatan ilmiah serta pengajarannya telah mendorong tumbuhnya banyak spesialis hukum angkatan berikutnnya, seperti Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Laits Ibd sa’ad, dan lainnya. Mereka ini, pada gilirannya, telah melapangkan jalan bagi tampilannyapara imam mazhab yang sampai saat ini pengaruhnya masih amat kokoh seperti Ibnu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, dan Ahmad Ibn Hambal.

Mazhab-mazhab tersebut berkembang sesuai dengan domisili tokoh dan murid yang menyebarkannya yang kemudian dikenal dengan para imam mazhab. Mazhab-mazhab fiqih dikenal dikalangan Sunni, ada pula di kelompok Syi’ah, seperti mazhab Zaidiyah, mazhab Imamiyah, mazhab Isma’iliyah, dan mazhab Ibadiyah.

D.    Perbedaan Para Imam Mazhab dalam Masalah Shalat
Shalat itu dibagi pada yang wajib dan yang sunnah. Shalat yang paling penting adalah shalat lima waktu yang wajib dilakukan setiap hari. Semua orang Islam sepakat bahwa orang yang menentang kewajiban ini atau meragukannya, ia bukan termasuk orang Islam, sekalipun ia mengucapkan Syahadat, karena shalat termasuk salah satu rukun Islam. Kewajiban menegakkan shalat berdasarkan ketetapan agama, dan tidak mempunyai tempat untuk dianalisa serta ijtihad dalam masalah ini, dan tidak pula taqlid.

Para ulama mazhab berbeda pendapat tentang hukum orang yang meninggalkan shalat karena malas dan meremehkan, dan ia meyakini bahwa shalat itu wajib. Syafi’i, Maliki dan Hambali: Harus dibunuh.  Hanafi: la harus ditahan selama-lamanya, atau sampai ia shalat.Imamiyah: Setiap orang yang meninggalkan yang wajib, seperti shalat, zakat, membayar khumus, haji, dan puasa, maka bagi hakim (pemerintah) yang melihatnya harus mendidiknya kalau ia patuh (mau mengikutinya). Bila tidak, harus mendidiknya lagi. Bila tidak lagi, sang hakim (pemerintah) harus mendidiknya lagi, dan bila pada keempat kalinya tetap tidak mau mengikuti, maka ia harus dibunuh. (Kasyful Ghita’, Karya Al-Syekh Al-Kabir, halaman 79, cetakan tahun 1317 H).

Shalat-shalat Sunnah Rawatib Shalat yang disunnahkan banyak macamnya di antaranya adalah shalat-shalat rawatib sehari-hari. Ulama mazhab, berbeda pendapat tentang jumlah banyak rakaatnya Syafi’i: Sebelas rakaat, yaitu dua rakaat sebelum Shubuh, dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya. Dua rakaat setelah Maghrib dan dua rakaat setelah shalat Isya’ serta satu rakaat shalat witir. Hambali: Sepuluh rakaat, yaitu: Dua rakaat sebelum dan sesudah Dzuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya’ dan dua rakaat sebelum shalat Shubuh. Maliki: Untuk shalat-shalat sunnah rawatib tidak ada batas tertentu dan tidak ada pula jumlah khusus, hanya yang paling utama adalah: Empat rakaat sebelum Dzuhur dan enam rakaat setelah Maghrib. Hanafi: Shalat rawatib itu dibagi kepada sunnah masnunah (disunnahkan) dan mandubah (disunnahkan).

Hanafi mempunyai istilah-istilah tentang apa yang wajib dikerjakannya dan yang tidak boleh ditinggalkannya, yang mana dibagi dua, yaitu: Fardhu apabila perbuatan itu ditetapkan berdasarkan dalil qath’i (pasti), seperti Al-Qur’an, hadis yang mutawatir, dan ijma’. Kedua, wajib apabila ditetapkan berdasarkan dalil dzanni (perkiraan), seperti qiyas dan hadis yang diriwayatkan oleh satu orang. Sedangkan perbuatan yang lebih baik (kuat) untuk dikerjakannya dari pada ditinggalkan di bagi ke dalam dua bagian juga, yaitu nasnun: Perbuatan yang biasa dilakukan Nabi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam, khulafaur Rasyidun. yang kedua mandub, yaitu perbuatan yang diperintahkan oleh Nabi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam tetapi tidak biasa dilakukan oleh beliau sendiri.

Juga perbuatan yang wajib ditinggalkannya dan tidak boleh dilakukannya, kalau ia ditetapkan berdasarkan dalil qath’i (pasti), maka perbuatan yang dilarang itu adalah haram. Bila perbuatan ditetapkan berdasarkan dalil dzanni (perkiraan), maka larangan tersebut adalah makruh yang mendekati haram. Shalat masnunah ada lima shalat, yaitu: Dua rakaat sebelum Subuh, empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat setelahnya selain hari jum’at, dua rakaat setelah Maghrib dan empat rakaat setelan Isya’. Sedangkan shalat-shalat yang mandubah ada empat shalat, yaitu: Empat rakaat sebelum Ashar, dan kalau mau dua rakaat saja, enam rakaat setelah Maghrib, empat rakaat sebelum Isya’ dan empat ra¬kaat setelah Isya’. Sedangkan shalat-shalat yang mandubah ada empat shalat, yaitu: Empat rakaat sebelum Ashar, dan kalau mau dua rakaat saja, enam rakaat setelah Magrib, empat rakaat sebelum Isya’ dan empat rakaat setelahnya.

Imamiyah: Shalat rawatib itu setiap hari ada tiga puluh empat rakaat, yaitu: Delapan rakaat sebelum Dzuhur, delapan rakaat se¬belum Ashar, empat rakaat sesudah Magrib dan dua rakaat sesudah Isya’, tetapi dua rakaat yang terakhir ini (dua rakaat sesudah Isya’) dilakukan sambil duduk, dan ia dihitung satu rakaat serta dinamakan shalat witir, dan delapan rakaat shalat malam, dua rakaat untuk me-minta syafa’at, satu rakaat untuk witir,13 dan dua rakaat untuk shalat Shubuh, yang dinamakan shalat fajar. 13 Shalat witir menurut Hanafi ada tiga rakaat dengan satu salam. Waktunya berlaku mulai tengelamnya syafaq ahmar (awan merah) sampai terbitnya fajar. Hambali dan Syafi’i berkata bahwa paling sedikitnya shalat witir adalah satu raka’at dan paling banyak sebelas rakaat, serta waktunya sesudah shalat Isya’. Hambali: Shalat witir itu yang berlaku (yang banyak dilakukan para sahabat) adalah satu rakaat saja.

Waktu Dua Dzuhur (Dzuhur dan Ashar) Para ahli fiqih memulai dengan shalat Dzuhur, karena ia merupakan shalat pertama yang diperintahkan (difardhukan) kemudian setelah itu difardhukan shalat Ashar, kemudian Maghrib, lalu Isya’, kemudian shalat Shubuh secara tertib. Kelima shalat tersebut diwajibkannya di Mekkah pada malam Isra’ setelah sembilan tahun dari diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam, berdasarkan firman Allah: “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap ma¬lam, dan Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh disaksikan (oleh malaikat).” (Q.S. Al-Isra’ 78). 

Para ulama mazhab sepakat bahwa shalat itu tidak boleh didirikan sebelum masuk waktunya, dan juga sepakat bahwa apabila matahari telah tergelincir berarti waktu Dzuhur telah masuk, hanya mereka berbeda pendapat tentang batas ketentuan waktu ini dan. sampai kapan waktu shalat itu berakhir. Imamiyah: Waktu Dzuhur itu hanya khusus dari setelah tergelincirnya matahari sampai diperkirakan dapat melaksanakannya, dan waktu Ashar juga khusus dari akhir waktu siang sampai diperkirakan dapat melaksanakannya. Dan antara yang pertama dan yang terakhir itu ada waktu musytarak (menghubungkan) antara dua shalat (Dzu¬hur dan Ashar). Dengan dasar inilah Imamiyah membolehkan mela-kukan jama’ (mengumpulkan) antara Dzuhur dan Ashar, yaitu pada waktu musytarak (penggabungan).

Apabila waktunya sempit dan sisa waktunya hanya cukup untuk mendirikan shalat Dzuhur saja, maka boleh mendahulukan shalat Ashar dan shalat Dzuhur, kemudian shalat Dzuhur pada waktu terakhir dengan qadha’. Di antara para ulama mazhab ada yang setuju dengan Imamiyah yang menyatakan boleh melakukan jama’ bagi orang yang mukim (bukan musafir) Syaikh Ahmad Shadiq Al-Ghimari telah mengarang suatu buku yang menjelaskan hal ter¬sebut, yang buku itu dinamakan: Izalatul Khathar ‘Amman Jama’a Baina Al-Shalataini fi al-hadhar. Empat mazhab: Waktu Dzuhur dimulai dari tergelincirnya matahari sampai bayang-bayang sesuatu sama panjangnya dengan sesuatu itu.

Apabila lebih, walau hanya sedikit, berarti waktu Dzuhur telah habis. Tetapi Syafi’i dan Maliki: Batasan ini hanya berlaku khusus bagi orang yang memilihnya, sedangkan bagi orang yang terpaksa, maka waktu Dzuhur itu sampai bayang-bayang sesuatu (benda) lebih panjang dari benda tersebut. Imamiyah: Ukuran panjangnya bayang-bayang sesuatu sampai sama dengan panjang benda tersebut merupakan waktu Dzuhur yang paling utama. Dan kalau ukuran bayang-bayang suatu benda lebih panjang dua kali dari benda tersebut merupakan waktu Ashar yang utama.

Hanafi dan Syafi’i: Waktu Ashar dimulai dari lebihnya bayang-bayang sesuatu (dalam ukuran panjang) dengan benda tersebut sam¬pai terbenamnya matahari. Maliki: Ashar mempunyai dua waktu. Yang pertama disebut wak¬tu ikhtiari, yaitu dimulai dari lebihnya bayang-bayang suatu benda dari benda tersebut, sampai matahari tampak menguning. Sedang¬kan yang kedua disebut waktu idhthirari, yaitu dimulai dari matahari yang tampak menguning sampai terbenamnya matahari. Hambali: Yang termasuk paling akhirnya waktu shalat Ashar adalah sampai bayang-bayang sesuatu benda lebih panjang dua kali dari benda tersebut, dan pada saat itu boleh mendirikan shalat Ashar sampai terbenamnya matahari, tetapi orang yang shalat pada saat itu berdosa, dan diharamkan sampai mengakhirkannya pada waktu tersebut. Mazhab-mazhab yang lain tidak sependapat dengan pendapat di atas.

Waktu Dua Isya’ Syafi’i dan Hambali (berdasarkan pendapat Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambali): Waktu Magrib dimulai dari hilangnya sinar matahari dan berakhir sampai hilangnya cahaya merah di arah Barat.  Maliki: Sesungguhnya waktu Maghrib itu sempit. Waktunya khusus dari awal tenggelamnya matahari sampai diperkirakan dapat melaksanakan shalat Maghrib itu, yang mana termasuk di dalamnya cukup untuk bersuci dan adzan serta tidak boleh mengakhirkannya (mengundurkan) dari waktu ini dengan sesuka hati (sengaja). Se-dangkan bagi orang yang terpaksa, maka waktu Magrib berlaku sampai terbitnya fajar, hanya tidak boleh mengakhirkan waktu Maghrib dari awal waktunya.

Ini hanya pendapat Maliki saja. Imamiyah: waktu shalat Maghrib hanya khusus dari awal waktu terbenamnya matahari15 sampai diperkirakan dapat melaksanakannya, sedangkan waktu Isya’ hanya khusus dari akhir separuh malam pada bagian pertama (kalau malam itu dibagi dua) sampai diperki¬rakan dapat melaksanakannya. Di antara dua waktu tersebut adalah waktu musytarak (penggabungan) antara shalat Maghrib dan Isya’. Dari itu, mereka (Imamiyah) membolehkan melaksanakan shalat jama’, pada waktu musytarak ini.

Terbenamnya matahari terjadi bila tidak ada sinar matahari yang membias ke atas, sama dengan pendapat empat mazhab. Hanya Imamiyah berpendapat bahwa terbenamnya matahari itu tidak bisa diketahui dengan tidak terlihatnya bulatan matahari dari pandangan mata, bahkan dengan naiknya cahaya merah di arah Timur dengan perkiraan tingginya sama dengan orang lelaki berdiri, karena Timur lebih tinggi dari Barat, di atasnya terdapat cahaya merah yang menentang (berlawanan) dengan cahaya matahari.

Sedangkan isu yang kami dengar bahwa Syi’ah tidak berbuka puasa Ramadhan sehingga sampai terbitnya bintang-bintang, adalah tidak mempunyai sumber dasar yang dapat dipertanggung jawabkan. Bahkan orang-orang Syi’ah telah menentang isu ini sebagaimana yang ditulis mereka dalam beberapa buku fiqih mereka. Mereka menolak orang yang menyangka bahwa bintang itu kadang-kadang terbit sebelum terbenamnya matahari, bersamaan dengannya atau sesudahnya. Orang yang mengakhirkan (mengundur¬kan) shalat Maghribnya sampai bintang-bintang bertaburan, maka ia dilaknat tujuh keturunan.

Imamiyah (Syi’ah) berpendapat seperti ini sebagai penolak (sikap menolak terhadap isu yang dikembangkan oleh pengikut Abul Khattab yang berpendapat seperti diatas. Mereka sebenarnya (yang menuduh syi’ah seperti itu) adalah golongan yang merusak dan jahat. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Dikatakan pada Imam Shadiq: “Sesungguhnya penduduk Iraq selalu mengakhirkan shalat Maghrib sampai bintang-bintang bertaburan.” Maka Imam Shadiq menjawab:”Ini merupakan perbuatan yang selalu dilakukan musuh Allah, yaitu Abul Khattab.” Keterangan di atas kalau dihubungkan dengan orang yang memilih.

Waktu Shubuh Waktu. Shubuh yaitu terbitnya fajar shadiq sampai terbitnya matahari, menurut kesepakatan semua ulama mazhab kecuali Maliki. Maliki: Waktu Shubuh ada dua: Pertama adalah ikhtar (memilih). yaitu dari terbitnya fajar sampai terlihatnya wajah orang yang kita pandang; sedangkan kedua adalah idhthirari (terpaksa), yaitu dari terlihatnya wajah tersebut sampai terbitnya matahari.   

Tidak ada komentar:
Write komentar