Senin, 20 Mei 2013

Makalah Etika Profesi Keguruan Tentang Profesi, Profesional, dan Profesionalisme

Toto Si Mandja - Makalah Etika Profesi Keguruan Tentang Profesi, Profesional, dan Profesionalisme


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Profesi, Profesional, dan Profesionalisme

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “profesi” adalah bidang pekerjaan yg dilandasi pendidikan keahlian, keterampilan, atau kejuruan tertentu. Sedangkan menurut Prof. Udin Syaefudin Saud, Ph.D. dalam burukua Pengembangan Profesi Keguruan (2011: 4), makna “profesi” ialah suatu pekerjaan yang meminta persiapan spesialisasi yang relatif lama di perguruan tinggi (kepada pengembangannya) dan diatur oleh kode etika khusus. Istilah “profesi” sudah cukup dikenal oleh semua pihak, dan senantiasa melekat pada “guru” karena tugas guru sesungguhnya merupakan suatu jabatan profesional.

Biasanya sebutan “profesi” selain dikaitkan dengan pekerjaan atau jabatan yang dipegang oleh seseorang, tetapi tidak semua pekerjraan atau jabatan dapat disebut profesi karena profesi menuntut keahlian para pemangkunya. Hal ini mengundang arti bahwa suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang karena memerlukan suatu persiapan melalui pendidikan dan pelatihan yang dikembangkan khusus untuk hal itu. Ada beberapa istilah lain yang bersumber dari sebutan “profesi” diantaranya yaitu profesional dan profesionalisme.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “profesional” berarti memerlukan kepandaian khusus untuk melakukannya.  Profesional mempunyai makna yang mengacu pada sebutan tentang orang yang menyandang suatu profesi dan sebutan tentang penampilan seseorang dalam mewujudkan untuk kerja sesuai dengan profesinya. Penyandangan dan penampilan “profesional” ini telah mendapat pengakuan, baik secara formal maupun informal. Pengakuan secara formal diberikan oleh suatu badan atau lembaga yang mempunyai kewenangan untuk itu, yaitu pemerintah dan atau organisasi profesi. Sedangkan secara informal, pengakuan itu diberikan oleh masyarakat luas dan para pengguna jasa suatu profesi. Misalnya sebutan “guru profesional” adalah guru yang telah mendapat pengakuan secara formal berdasarkan ketentuan yang berlaku. Pengakuan ini dinyatakan dalam bentuk surat keputusan, ijazah, akta, sertifikat, baik yang menyangkut kualifikasi (pendidikan khusus untuk memperoleh suatu keahlian) maupun kompetensi.

Sebutan “guru profesional” juga dapat mengacu kepada pengakuan terhadap kompetensi penampilan untuk kerja seorang guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai guru. Dengan demikian, sebutan “profesional” didasarkan pada pengakuan formal terhadap kualifikasi dan kompetensi penampilan untuk kerja suatu jabatan atau pekerjaan tertentu. Didalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (pasal 1 ayat 4) dinyatakan bahwa: “Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi”.

Profesionalisme adalah sebuah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “profesionalisme” adalah mutu, kualitas dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Seorang guru yang memiliki profesionalisme yang tinggi akan tercermin dalam sikap mental serta komitmennya terhadap perwujudan dan peningkatan kualitas profesional melalui berbagai cara dan strategi. Ia akan selalu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman sehingga keberadaannya senantiasa memberikan makna profesional.

Guru dan dosen profesional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode. Keahlian yang dimiliki oleh guru profesional adalah keahlian yang diperoleh melalui suatu proses pendidikan dan pelatihan yang diprogramkan secara khusus untuk itu. Keahlian tersebut mendapat pengakuan formal yang dinyatakan dalam bentuk sertifikasi, akreditasi dan lisensi daro pihak yang berwenang (dalam hal ini pemerintah dan organisasi profesi). Dengan keahlian itu, seorang guru mampu menunjukkan otonominya, baik secara pribadi maupun sebagai pemangku profesinya.

B.    Syarat-syarat Profesi
Robert W. Richey (Arikunto dalam Udin Syaefudin Saud, 2011: 15) mengemukakan ciri-ciri dan syarat-syarat profesi sebagai berikut:
1.    Lebih mementingkan pelayanan kemanusiaan yang ideal dibanding dengan kepenringan pribadi.
2.    Seorang pekerja profesional, secara aktif memerlukan waktu yang panjang untuk mempelajari konsep-konsep dan prinsip-prinsip pengetahuan khususnya yang mendukung keahliannya.
3.    Memiliki kualifikasi tertentu untuk memasuki profesi tersebut serta mampu mengikuti perkembangan dalam pertumbuhan jabatan.
4.    Memiliki kode etik yang mengatur keanggotaan, tingkah laku, sikap dan cara kerja.
5.    Membutuhkan suatu kegiatan intelektual yang tinggi.
6.    Adanya organisasi yang dapat meningkatkan standar pelayanan, disiplin diri profesi, serta kesejahteraan anggotanya.
7.    Memberikan kesempatan untuk kemajuan, spesialisasi, dan kemandirian.
8.    Memandang profesi suatu karir hidup (alive career) dan menjadi seorang anggota yang permanen.

C.    Ciri-ciri dan Syarat-syarat Profesi Guru
Ciri-ciri dan syarat-syarat diatas dapat digunakan sebagai kriteria atau tolak ukur keprofesian guru. Seleanjutnya kriteria ini akan berfungsi ganda, yaitu untuk:
1.    Mengukur sejauh mana guru-guru di Indonesia telah memenuhi kriteria profesionalisasi.
2.    Dijadikan titik tujuan yang akan mengarahkan segala upaya menuju profesionalisasi guru.

Khusus untuk jabatan guru, sebenarnya juga sudah ada yang mencoba menyusun kriterianya. Misalnya National Education Association (NEA) yang menyarankan kriteria berikut:
1.    Jabatan yang melibatkan intelektual.
2.    Jabatan yang menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus.
3.    Jabatan yang memerlukan persiapan pofesional yang lama (dibandingkan dengan pekerjaan yang memerlukan latihan umum  belaka)
4.    Jabatan yang memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.
5.    Jabatan yang menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen.
6.    Jabatan yang menentukan baku 9standar) sendiri.
7.    Jabatan yang lebih mementingkan layanan diatas keuntungan pribadi.
8.    Jabatan yang mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.

D.    Pengembangan Sikap Profesional
Pengembangan sikap profesional tidak cukup dilakukan saat seseorang telah menjabat sebagai tenaga profesi, namun perlu dipupuk dan dikembangkan sejak seseorang sedang menjalani pendidikan profesi atau prajabatan. Dalam pengembangan sikap ini Soetjipto (2007) membagi ke dalam dua tahapan sebagai berikut:

1.    Pengembangan Sikap Selama Pendidikan Prajabatan
Dalam pendidikan prajabatan, calon guru dididik dalam berbagai pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaannya nanti. Karena tugasnya yang bersifat unik, guru selalu menjadi panutan bagi siswanya, dan bahkan bagi masyarakat sekelilingnya. Oleh sebab itu, bagaimana guru bersikap terhadap pekerjaan dan jabatannya selalu menjadi perhatian siswa dan masyarakat.

Pembentukan sikap yang baik tidak mungkin muncul beritu saja, tetapi harus dibina sejak calon guru memulai pendidikannya di lembaga pendidikan guru. Berbagai usaha dan latihan, contoh-contoh dan aplikasi penerapan ilmu, keterampilan dan bahkan sikap profesional dirancang dan dilaksanakan selama calon guru berada dalam pendidikan prajabatan. Sementara itu tentu sikap pembentukan sikap dapat memberikan pengetahuan, pemahaman, dan perencanaan, sebagaimana halnya mempelajari Civic Education yang diberikan di Sekolah.

2.    Pengembangan Sikap Selama dalam Jabatan
Pengembangan sikap profesional tidak berhenti apabila calon guru selesai mendapatkan pendidikan prajabatan. Banyak usaha yang dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan sikap profesional keguruan dan pengabdiannya sebagai guru. Seperti telah disebut, peningkatan ini dapat dilakukan dengan cara formal seperti melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi baik yang biayanya disediakan oleh pemerintah seperti program DMS (Dual Mode Sistem) atau biaya mandiri, kegiatan mengikuti penataran, lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya, ataupun secara informal melalui media masa televisi, radio, koran, jurnal dan majalah maupun publikasi lainnya. Kegiatan ini selain dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sekaligus dapat juga meningkatkan sikap profesional keguruan.

Sebagai profesional, guru harus meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan secara terus menerus. Sasaran penyikapan itu meliputi penyikapan terhadap perundang-undangan, organisasi profesi, teman sejawat, peserta didik, tempat kerja, pemimpin dan pekerjaan.
Sebagai jabatan yang harus dapat menjawab tantangan perkembangan masyarakat, jabatan guru harus selalu dikembangkan dan dimutakhirkan. Dalam bersikap guru harus selalu mengadakan pembaharuan sesuai dengan tuntutan tugasnya.
 

Tidak ada komentar:
Write komentar