Kamis, 07 Maret 2013

Makalah Perbandingan Madzhab Tentang Perbedaan Pendapat Tentang Hal yang Membatalkan Wudhu



Toto Si Mandja - Perbandingan Madzhab Fiqh - Perbedaan Pendapat Tentang Hal yang Membatalkan Wudhu

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Hal yang mendasari pembahasan batal wudhu adalah firman Allah:
جَآءَ اَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ اْلغَآئِطِ اَوْ لَا مَسْتُمُ النِّسآءَ (المئدة:٦)
“...atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh (menurut mufassir berarti menyetubuhi) perempuan (istri)... (Al-Maidah: [5]: 6)
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَايَقْبَلُ اللهُ صَلَاةً مِنْ اَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
Sabda Rasul: “Allah tidak menerima shalat siapa saja yang mempunyai hadats, sampai ia berwudhu.”

Berbagai pendapat para ulama mambahas tentang masalah hal yang membatalkan wudhu. Diantara ulama yang membahas tentang masalah ini adalah Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Hanafi, dan Imam Imamiyah. Meski belum menemukan titik temu tetapi ini kembali pada pendapat dan kepercayaan umat menganut madzhab para imam tentang hal-hal yang membatalkan wudhu.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pendapat para Imam Madzhab mengenai batalnya wudhu?
2.      Apa saja yang membatalkan wudhu?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pendapat Imam Madzhab mengenai batalnya wudhu.
2.      Mengetahui hal-hal yang membatalkan wudhu.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pendapat Empat Imam Mengenai Batalnya Wudhu
Masalah batalnya wudhu dengan khususnya bersentuhannya laki-laki dan perempuan bukan muhrim, memang saat ini masih menjadi khilafiyah. Oleh sebab itu pendapat para ulama terkemuka dalam madzhab yang empat mengenai masalah ini pun berbeda-beda:
1.      Pendapat Madzhab Maliki
Madzhab Maliki lebih kondisional dalam menyikapi hal ini, yakni bersentuhan antara lelaki dan perempuan itu membatalkan wudhu apabila:
a.       Lelaki yang menyentuh perempuan itu sudah baligh;
b.      Sentuhan itu bermaksud untuk mendapatkan kenikmatan, atau tidak bermaksud begitu, tapi ternyata merasa nikmat;
c.       Perempuan yang disentuh kulitnya terbuka atau berpakaian tapi dengan kain yang tipis. Jadi kalau kain penutup itu tebal, maka tidak batal wudhuya, kecuali bila persentuhan itu dengan cara memegang salah satu anggota tubuh yang bertujuan untuk mendapat kenikmatan atau ternyata merasa nikmat meski awalnya tidak bermaksud demikian.
d.      Orang yang disentuh tergolong perempuan yang sudah dapat membangkitkan syahwat lelaki.
Menurut madzhab ini yang termasuk menyentuh ialah mencium mulut. Mencium mulut bisa membatalkan wudhu seara mutlak sekali pun tidak bermaksud menikmatinya.
Namun demikian ciuman tetaplah tidak membatalkan wudhu jika ciuman itu berupa ciuman perpisahan atau ciuman kasih sayang.[1]
2.      Pendapat Madzhab Hanafi
Para ulama madzhab Hanafi mengatakan bahwa sekedar bersentuhan antara lelaki dan perempuan tidaklah membatalkan wudhu, kecuali bila yang dimaksud adalah sentuhan yang penuh semangat, dimana kemaluan mereka masing-masing saling menempel dengan syahwat tanpa dihalangi oleh sesuatu apapun yang dapat mencegah terasanya panas tubuh masihng-masing oleh kedua belah pihak. Jika terjadi perentuhan yang sedemikian rupa antara lelaki dan perempuan barulah wudhu mereka benar-benar batal. Demikian pula bila terjadi persentuhan yang serupa antara dua orang perempuan, maka keduanya batal wudhunya.[2]
3.      Pendapat Madzhab Syafi’i
Menurut para ulama madzhab Syafi’i persentuhan antara seorang perempuan dengan lelaki yang bukan muhrim mutlak membatalkan wudhu. Sekalipun tidak menimbulkan rasa nikmat dan meski si lelaki sudah tua dan perempuan sudah nenek-nenek, apabila tidak ada sesuatu yang menghalangi antara kulit mereka.
Dalam hal ini, persentuhan antara sesama perempuan atau sesama banci tidaklah membatalkan wudhu, meski pada masing-masing timbul syahwat.[3]
Menurut madzhab ini, persentuhan antara lelaki dan perempuan yang membatalkan wudhu disini adalah bila masing-masing pihak telah mencapai umur dewasa yang pada umumnya mulai timbul syahwat terhadap sesamanya. Namun demikian tidak termasuk rambut, gigi, dan kuku dalam anggota tubuh yang membatalkan bila disentuh.[4] Tetapi jika saudara wanita maka wudhunya tidak batal.[5]
Sebagian ulama mengejukan pendapat bahwa orang yang menyentuh wanita dengan tangannya, dan meraba tanpa pelapis, ia wajib wudhu. Demikian halnya dengan seorang yang mencium wanita, terlepas dari meraasakan atau tidak, karena berciuma, bagi sebagian ulama ini dinilai sebagai sentuhan juga.
Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Syafi’i dan para pengikutnya. Namun, pada saat tertentu Imam Syafi’i membedakannya (dari segi hukum) antara orang yang menyentuh dengan orang yanag disentuh. Ia berpendapat, hanya orang yang menyentuh saja yang harus wudhu, sedangkan yang disentuh tidak wajib. Pada saat tertentu pula, ia berpendapat bahwa yang menyentuh atau yang disentuh diperlakukan sama yakni harus wudhu.[6]
4.      Pendapat Madzhab Hambali
Menurut madzhab Hambali dengan tegas menetapkan bahwa sentuhan antara lelaki dan perempuan jelas membatalkan wudhu. Apabila sentuhan itu itu terjadi dengan syahwat tanpa ada penghalang. Tak peduli apakah yang bersentuhan itu masih muhrim atau bukan, dan apakah yang disentuh itu masih hidup atau sudah mati, masih muda atau sudah tua, telah dewasa maupun masih kecil, asal telah mencapai uur yang biasanya sudah dapat menimbulkan syahwat.[7]Madzhab ini menitik beratkan pada timbulnya syahwat atau tidak, jika sentuhannya timbul syahwat maka batal.
B.     Hal-hal yang Membatalkan Wudhu
1.      Keluar sesuatu dari kubul atau dubur
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT. “...atau kembali dari tempat buang air (kakus)...” (al-Ma’idah [5]: 6). Ayat ini merupakan metaforis yang menunaikan hajat. Didalam sebuah hadits yang disiwayatkan oleh Abu Hurairah Nabi Muhammad bersabda:
لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ. قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمُوْتَ: مَا اْلحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟ قَالَ: فُسَاءٌ أَوْضُرَطٌ
Shalat orang yang dalam keadaan hadats tidak diterima kecuali dia berwudhu. Seorang laki-laki dari hadramaut bertanya kepada Abu Hurairah, ‘apakah yang dimaksud hadats dalam hadits ini?’ Abu Hurairah menjawab, ‘kentut.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi ada pengecualian dari hukum hadits diatas, yaiitu bagi orang yang selalu hadats tanpa henti seperti orang yang beser dan sering kentut, aturan baagi orang-orang yang seperti itu sama dengan aturan bagi wanita yang keluar darah istihadhah.[8] Menurut Syafi’i, Hanafi dan Hambali, keluarnya ulat, batu kecil, darah, dan nanah, maka ia dapat membatalkan wudhu. Tetapi menurut Maliki, tidak sampai membatalkan wudhu, kalau semuanya itu tumbuh didalam perut, tapi kalau tidak tumbuh didalamnya, seperti orang yang sengaja menelan batu kecil, lalu batu tersebut keluar dari dubur, maka ia dapat membatalkan wudhu. Sedangkan menurut Imamiyah, ia tidak membatalkan wudhu, kecuali kalau keluar bercampur dengan kotoran.[9]
2.      Keluar air mani (sperma), madi dan wadi
Mani dapat membatalkan wudhu, Menurut Hanafi, Maliki dan Hambali, tetapi menurut Syafi’i, ia tidak dapat membatalkan wudhu. Sedangkan menurut Imamiyah: mani itu hanya diwajibkan mandi bukan diwajibkan wudhu.[10]
Ibnu Abbas r.a. berkata:
Tentang air mani (sperma), madi dan wadi, air mani mengharuskan mandi wajib, sedangkan tentang wadi dan madi, Rosulullah bersabda: ‘Basuhlah kemaluanmu kemudian berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat.’” (HR. Baihaqi)[11]
3.      Tidur yang lelap
Rasulullah saw. memerintahkan agar kami tidak melepaskan khuf (sejenis sepatu) didalam perjalanan selama tiga hari tiga malam, kecuali jika kami junub, buang kotoran, kencing dan tidur.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi dan Ibnu Majjah).
Dalam hadits ini, Nabi Muhammad saw. Menyamakan antara tidur, kencing dan buang kotoran. Namun harus dicatat bahwa tidur selamanya tidak membatalkan wudhu. Maksud “tidur” pada hadits diatas adalah tidur yang membuat seseorang sama sekali tidak sadar atau tidur yang sangat lelap. Salah satu ukurannya adalah bahwa apabila ia kentut dalam tidurnya itu, ia tidak menyadarinya.[12] Menurut Imamiyah: kalau hati, pendengaran dan penglihatannya tidak berfungsi sewaktu ia tidur, sehingga tidak dapat mendengar pembicaraan orang-orang disekitarnya dan tidak dapat memahaminya, baik orang yang tidur tersebut dalam keadaan duduk, terlentang atau berdiri, maka bila sudah demikian dapat membatalkan wudhu. Pendapat ini hampir sama dengan pendapat Hambali.
Hanafi: kalau orang yang mempunyai wudhu itu tidur dengan terlentang, atau terlungkup pada salah satu pahanya, maka wudhunya menjadi batal. Tapi kalau tidur duduk, berdiri, ruku’ atau sujud, maka wudhunya tidak batal. Syafi’i: kalau anusnya tetap dari tempat duduknya, seperti mulut botol yang tertutup, maka tidur yang demikian tidak sampai membatalkan wudhu. Maliki: membedakan antara tidur ringan dengan tidur berat. Kalau tidur ringan, tidak membatalkan wudhu, begitu juga kalau tidur berat dan waktunya hanya sebantar, serta anusnya tertutup. Tapi kalau ia tidur berat, dan waktunya panjang, ia dapat membatalkan wudhu, baik anusnya tertutup maupun terbuka.[13]
4.      Hilang kesadaran akibat mabuk, pingsan atau gila
Kondisi ini bisa membatalkan wudhu secara mutlak berdasarkan kesepakatan para ulama. Alasannya adalah karena hilangnya kesadaran pada tiga kondisi itu lebih hebat daripada hiangnya kesadaran karena tidur.
5.      Menyentuh kemaluan tanpa ada batas
أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَا لَ: مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلَا يُصَلِّ حَتَّى يَتَوَضَّأَ (رواه الخسة وصحح الترمذى)
Nabi saw. bersabda: “Siapa yang menyentuh kemaluannya, maka janganlah ia shalat sampai ia wudhu lebih daluhu.” (HR. Berlima dan dinyatakan sah oleh Turmudzi).
Menurut Bukhori, hadits ini merupakan yang paling sah tentang soal ini. Juga diriwayatkan oleh Malik, Syafi’i, Ahmad dan lain-lain. Berkata Daud: “ Saya katakan pada Ahmad: ‘hadits basrah tidak sah!’ maka jawabannya: ‘bahkan ia adalah sah!’.”
6.      Bersentuhan
Bersentuhan antara kulit lelaki dan perempuan yang bukan muhrim dan masing-masing sudah baligh. Para ulama madzhab Syafi’i (sebagaimana dirawikan dari Ibnu Mas’ud, Umar bin Khattab dan lain-lain) berpendapat bahwa persentuhan kulit antara laki-laki dewasa dan wanita dewasa (termasuk istri) membatalkan wudhu, walaupun tanpa dibarengi rangsangan syahwat.[14]
Dalam kitab


[1] Muhammad Fuad, Fiqih Wanita Lengkap (Jombang, Lintas Media, 2007), hal. 70-71.
[2] Muhammad Fuad, Ibid. hal. 71.
[3] Banci (khuntsa) yang dimaksud ialah orang yang mempunyai dua alat kelamin lelaki dan perempuan.
[4] Muhammad Fuad, Op. Cit. hal. 72.
[5] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Madzhab (Jakarta: Lentera, 1996), ha. 18.
[6] Ibnu Rusyd, Tarjamah Bidayatul Mujtahid (Semarang: Asy-Syifa, 1990), hal. 69.
[7] Muhammad Fuad, Ibid.
[8] Abu Malik Kamal, Fiqih Sunnah Wanita (Jakarta: Pena, 2007), hal. 28.29.
[9] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Madzhab (Jakarta:  Lentera, 1996), hal. 17.
[10] Muhammad Jawad Mughniyah, ibid. hal. 18.  
[11] Abu Malik Kamal, Op. Cit. hal. 29.
[12] Abu Malik Kamal, Ibid. Hal. 30.
[13] Muhammad Jawad Mughniyah, Op. Cit. hal. 18.
[14] Muhammad Bagir Al-Habsyi, Fiqih Praktis (Bandung: Mizan, 1999), hal. 75.

Tidak ada komentar:
Write komentar