Minggu, 17 Juni 2012

Makalah Sosiologi Pendidikan Tentang Pendidikan Keluarga Melalui Pernikahan Sebagai Proses Awal Pembentukan Keluarga

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan sosial. Di dalam kelompok ini terbentuklah norma-norma sosial.  Pengalaman berinteraksi dalam keluarga akan menentukan tingkah laku dalam kehidupan sosial diluar keluarga. Keluarga juga merupakan satuan unit sosial terkecil yang memberikan pondasi dalam pemeliharaan anak. Anak adalah ciptaan Allah, tercipta melalui perkawinan seorang laki-laki dan perempuan, dan dengan kelahirannya seorang anak bisa menimbulkan keharmonisan dalam keluarga asalkan orang tua bisa mendidiknya dengan baik dan benar.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan istilah pendidikan dalam konteks Islam?
2.      Apa yang dimaksud dengan keluarga?
3.      Apa saja fungsi dan peran keluarga?
4.      Bagaimana cara pola asuh anak dan tanggungjawab keluarga?
5.      Bagaimana proses perkembangan terhadap anak?
6.      Bagaimana pola asuh anak dalam perspektif Islam?
7.      Apa yang dimaksud dengan metode pengasuhan anak?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan istilah pendidikan dalam konteks Islam.
2.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan keluarga.
3.      Untuk mengetahui apa saja pungsi dan peran keluarga.
4.      Untuk mengetahui bagaimana pola asuh anak dan tanggungjawab keluarga.
5.      Untuk mengetahui bagaimana proses perkembangan terhadap anak.
6.      Untuk mengetahui bagaimana pola asuh anak dalam perspektif Islam.
7.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan metode pengasuhan anak.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Istilah Pendidikan Dalam Konteks Islam
Istilah Pendidikan dalam konteks islam telah banyak dikenal dengan menggunakan term yang beragam, yaitu At-Tarbiyah, At-Ta’lim, At-Ta’dib. Setiap term tersebut mempunyai makna dan pemahaman yang berbeda, walaupun dalam hal-hal tertentu, ia mempunyai kesamaan pengertian. Pemakaian ketiga istilah tersebut, apalagi pengkajiannya dirujuk berdasarkan sumber pokok ajaran Islam (Al-Qur’an dan As-Sunnah), setelah akan memberikan pemahaman yang luas tentang pengertian pendidikan Islam, secara subtansi filosofis pun akan memberikan gambaran mendalam tentang bagaimana sebenarnya hakikat dari pendidikan Islam tersebut.
Istilah At-Tarbiyah tidak dipergunakan dalam leksiologi Al-Qur’an, tetapi yang senada dengannya adalah Ar-Rabb, yaitu fonem yang seakar dengan At-Tarbiyah yang mempunyai makna At-Tanmiyah, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Didalam Al-Qur’an mengartikan Ar-Rabb dengan makna pemilik, yang Maha Memperbaiki, Maha Pengatur, Maha Menambah, dan yang Maha Menunaikan. Makna At-Tarbiyah dapat diartikan sebagai mengasuh. Menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membuat, membesarkan, menjinakkan.
Selanjutnya, istilah Ta’lim berasal dari kata ‘Allama yang berarti transmisi ilmu pengetahuan pada jiwa induvidu tanpa adanya batasan dari ketentuan tertentu. Hal tersebut didasarkan pada firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 31 yang artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam, nama-nama benda seluruhnya, kemudian mengemukakan kepada malaikat kemudian berfirman: Sebutkanlah nama-nama benda itu jika memang kamu orang-orang benar”.
Adapun istilah Ta’dib mengandung pengertian, berupa proses pengenalan dan pengakuan secara berangsur-angsur yang ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing dan mengarah kepada pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya. 

B.     Pengertian Keluarga
Ditinjau dari aspek kebahasaan, dalam bahasa inggris kata “keluarga” adalah family yang berasal dari kata familier yang berarti dikenal dengan baik atau terkenal. Selanjutnya kata itu tidak terbatas pada keluarga manusia saja, akan tetapi membentang dan meluas sehingga meliputi setiap anggotanya untuk saling mengenal. Secara etimologi berarti ikatan.
Dalam norma ajaran islam, asal-usul keluarga itu terbentuk dari perkawinan (laki-laki dan perempuan), asal-usul ini erat kaitannya dengan ajaran islambahwa dalam upaya pengembangkiakan keturunan manusia hendaklah dilakukan dengan perkawinan. Oleh karena itu, pembentukan keluarga diluar peraturan perkawinan dianggap sebagai perbuatan dosa.
Adapun bentuk-bentuk keluarga di klasifikasikan dalam beberapa bentuk keluarga, yaitu:
1.      Keluarga Nuklir, yaitu kelompok manusia yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang belum memisahkan diri dan belum membentuk keluarga sendiri.
2.      Keluarga Luas, yaitu keluarga yang terdiri dari semua orang yang berketurunan dari kakek, nenek, yang sama dan termasuk keturunan masing-masing istri dan suami.
3.      Keluarga Pangkal, yaitu jenis keluarga yang menggunakan sistem pewarisan kekayaan pada satu anak yang paling tua.
4.      Keluarga Gabungan, yaitu keluarga yang terdiri dari orang-orang yang berhak atas hasil milik keluarga.
Sementara dalam hubungan keluarga, bahwa sepasang suami istri memiliki tiga struktur, yaitu:
1.      Struktur komplementer atau pola keluarga tradisional
Pada struktur ini ada dua pihak yang menjalankan peran yang tidak sama, struktur ini bertentangan dengan asumsi sebagian orang yang menyatakan bahwa keluarga itu akan baik apabila kedua belah pihak, suami istri, mempunyai kesamaan. Dalam kesamaan ini, kesamaan justru merusak hubungan suami istri. Dari sekian banyak penelitian, ditemukan bahwa struktur keluarga yang terjamin stabilitasnya adalah struktur keluarga tradisional, misal suami mencari nafkah, istri berperan sebagai pengurus rumah tangga yang memelihara anak dan sebagainya.
2.      Struktur Simetris atau pola keluarga modern
Suami istri memasuki pernikahan seperti memasuki sebuah kontrak, dan umumnya mereka menuliskan kontrak ini secara tertulis. Masing-masing mempunyai kehidupan sendiri-sendiri, mereka diikat oleh sebuah kerja sama yang disebut sebagai kontrak keluarga, istri bisa mengajar karir tanpa dihalangi suami, begitu juga suami. Struktur simetris ini cenderung tidak stabil, bahkan biasanya tidak tahan menghadapi goncangan yang terjadi pada kehidupan keluarga, masing-masing pihak cenderung menyelesaikan persoalannya sendiri-sendiri. Struktur simetris ini tampaknya bagus untuk pertumbuhan individual setiap anggota keluarga, tetapi tidak bagus menghadapi krisis keluarga.
3.      Struktur Paralel
Yaitu gabungan antara struktur komplementer dan struktur simetris. Dalam struktur ini, kedua belah pihak berada dalam hubungan saling melengkapi dan saling bergantungan, tetapi dalam waktu yang sama mereka memiliki beberapa bagian dari perilaku kekeluargaan mereka yang mandiri. Misalnya istri meminta dalam masalah-masalah tertentu,maka bebas melakukan sesuatu. Begitu pula dalam masalah yang lain, harus ada persetujuan bersama. Dengan kata lain, ada bagian dari hubungan itu yang komplementer dan ada juga bagian yang simetris.
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan sosial, di dalam kelompok ini terbentuklah norma-norma sosial. Di dalam keluarga, manusia pertama kali belajar memperhatikan keinginan –keinginan orang lain. Pengalaman berinteraksi dalam keluarga akan menentukan tingkah laku dalam kehidupan sosial diluar keluarga. Keluarga merupakan satuan unit social terkecil yang memberikan pondasi pemeliharaan anak.
Sejalan dengan pandangan diatas, keluarga merupakan satuan sosial terkecil dalam kehidupan umat manusia sebagai makhluk sosial, karena ia merupakan unit pertama dalam masyarakat terhadap terbentuknya proses sosialisasi dan perkembangan induvidu. Sementara hubungan keluarga dengan lingkungan sosial tampaknya masih besar, terutama pada lapisan menengah dan bawah, bahkan dapat dikatakan bahwa faktor-faktor eksternal lebih besar perannya dalam pembentukan kepribadian seseorang.

C.    Fungsi dan Peran Keluarga
Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan didalam atau diluar keluarga itu. Fungsi disini mengacu kepada kegunaan individu dalam sebuah keluarga yang pada akhirnya mewujudkan hak dan kewajiban. Mengetahui fungsi keluarga amat penting, sebab dari sinilah kemudian dapat terukur dan terbaca sosok keluarga yang harmonis. Dapat dipastikan bahwa munculnya krisis dalam rumah tangga adalah sebagai akibat tidak berfungsinya salah satu fungsi keluarga. Peran keluarga yaitu orang tua memenuhi segala kebutuhan yang dibutuhkan oleh anak dari mulai sarana pembelajaran dan lain sebagainya.
Melly Sri mengemukakan bahwa secara sosiologis ada Sembilan fungsi keluarga, yaitu sebagai berikut:
1.      Fungsi biologi
2.      Fungsi ekonomi
3.      Fungsi kasih sayang
4.      Fungsi pendidikan
5.      Fungsi perlindungan (proteksi)
6.      Fungsi sosialisasi anak
7.      Fungsi rekreasi
8.      Fungsi agama
9.      Fungsi status  keluarga

D.    Pola Asuh Anak dan Tanggungjawab Keluarga
Perkawinan dalam perspektif islam, merupakan akad yang memiliki dasar sangat kuat dan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmahdiantara sesama anggota keluarga (ayah, ibu, dan anak). Manakalakah pasangan  bsuami istri telah mampu mewujudkan jalinan kasih sayang dan kedamaian dalamrumah tangganya, maka kemungkinan besar pasangan tersebut secara kooperatifakan mampu menunanaikan misi perkawinan berikutnya yaitu melahirkan keturunan (anak) yang tangguh dan berkualitas, tumbuh, dan berkembang menjadi anak yang berguna bagi masyarakat.
Dalam upaya menghasilkan generasi penerus yang tangguh dan berkualitas diperlukan adanya usaha yang konsisten dan kontinuedari orang tua didalam melaksanakan tugas memelihara, mengsuh, dan mendidik anak-anak mereka baik lahir maupun batin, sampai anak tersebut dewasa dan mampu berdiri sendiri, dimana tugas ini merupakan kewajiban orang tua.
Tumbuh kembangnya anak secara kejiwaan (mental intelektual dan mental emosional) yaitu IQ dan EQ amat dipengaruhi oleh sikap, cara, dan kepribadian orang tua dalam memelihara, mengasuh, dan mendidik anaknya. Sebab dalam masa pertumbuhan dan perkembangan  anak terjadi proses imitasi dan identifikasi anak terhadap kedua orang tuanya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya orang tua mengetahui beberapa aspek pengetahuan dasar yang sehubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan.
Oleh sebab itu, setiap orang yang menginjak kakinya dalam berumah tangga pasti dituntut untuk dapat menjalankan bahtera keluarga dengan baik, karena dari keluarga ini akan lahir generasi baru sebagai penerus, yaitu anak. Apabila gagal dalam memelihara, mengasuh, mendidiknya, anak yang semula menjadi dambaan keluarganya maka akan berbalik menjadi fitnah dikeluarganya itu.
Kewajiban mengasuh dan memelihara anak yang masih kecil atau belum dewasa, dibebankan kepada ibu dan bapaknya. Karena pemeliharaan dan pengasuhan anak adalah hak anak. Dalam surat Al-Baqarah ayat 233 dinyatakan:
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Tanggung jawab orang tua terhadap anaknya dalam hal pengasuhan, pemeliharaan, dan pendidikan anak, ajaran Islam menggariskannya sebagai berikut:
1.      Tanggungjawab pendidikan dan pembinaan akidah
2.      Tanggungjawab pendidikan dan pembinaan akhlak
3.      Tanggungjawab pemeliharaan kesehatan anak
4.      Tanggungjawab pendidikan dan pembinaan intelektual
5.      Tanggungjawab kepribadian dan sosial

E.     Proses Perkembangan Terhadap Anak
Anak sebagian dirumuskan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa :1 yang artinya, “Tercipta melalui ciptaan Allah dengan perkawinan seorang  laki-laki dan seorang perempuan dan dengan kelahirannya.”. Dalam ayat lain dikatakan bahwa anak, adalah perhiasan duniawi (QS. Al-Kahfi:46). Dan anak sebagai cobaan (QS. Al-Anfal:28).
Menurut Subono Hadisubroto, anak apalagi dilihat dari perkembangan usianya, dapat dibagi menjadi 6 periode: 
1.      Umur 0-3 tahun. Pada periode ini, yang terjadi adalah perkembangan fisik penuh. Oleh karena itu, anak yang lahir dari keluarga cukup material, pertumbuhan fisiknya akan baik dibandingkan dengan kondisi ekonomi yang rata-rata.
2.      Umur 3-6 tahun. Pada masa ini, yang berkembang adalah bahasanya. Oleh karena itu, dia akan bertanya segala macam.
3.      Umur 6-9 tahun. Pada masa ini, masa terbaik untuk menanamkan contoh teladan perilaku yang baik.
4.      Umur 9-12 tahun. Pada masa ini, anak sudah menimbulkan pemberontakan, dalam arti menentang apa yang tadinya dipercaya sebagai nilai atau norma, masa ini merupakan masa kritis.
5.      Umur 12-15 tahun. Pada masa ini sudah mulai terjadi pematangan dan sudah menyadari adanya lawan jenis.
6.      Umur 15-18 tahun. Pada masa ini merupakan masa penentuan hidup.

F.     Pola Asuh Anak Dalam Perspektif Islam
Kehidupan keluarga yang tentram, bahagia, dan harmonis baik bagi orang yang beriman, maupun orang kafir merupakan suatu kebutuhan muthlak. Apabila orang tua gagal dalam memerankan dengan baik dalam membina hubungan masing-masing pihak maupun dalam memelihara, mengasuh, dan mendidik anak yang semula menjadi dambaan keluarga malah terbalik menjadi boomerang dalam keluarga.
Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan pemeliharaan dan pengasuhan anak ini, dalam Al-Qur’an dan hadits telah dijelaskan secara terperinci, baik mengenai pola pengasuhan anak pra kelahiran, maupun pasca kelahiran. Allah SWT memandang, bahwa anak merupakan perhiasan dunia.
Untuk menjelaskan bagaimana pandangan islam tentang pola asuh ini, maka kerangka teori yang digunakan ini bersumber dan berpedoman pada apa yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, hadits, maupun beberapa pendapat ulama.
Sehubungan dengan hal itu, maka pola pengasuhan anak yang tertuang dalam sumber-sumber itu dimulai dari:
1.      Pembinaan pribadi calon suami istri, melalui penghormatannya kepada orang tua
Dalam Al-Qur’an dijelaskan, bahwa harapan agar anak menjadi baik (shaleh) dengan sikap hormat dan berbakti kepada orang tua, mempunyai keterkaitan yang erat. Seseorang yang tidak hormat dan tidak berbakti kepada orang tuanya berdampak pada tidak akan diridhai segala amal ibadahnya.
2.      Memilih pasangan hidup yang sederajat
Kufu dalam perkawinan adalah sama, sederajat, sepadan, atau sebanding. Calon suami sebanding dengan calon istrinya sama dalam kedudukan, tingkat sosialnya, dan sederajat dalam akhlak serta kekayaannya.
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa’ ayat 34, yang artinya:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”
Allah SWT sudah memberikan ketentuan yang tidak dapat diubah-ubah atau sudah merupakan sunnatullah, ialah bahwa keharmonisan rumah tangga itu, manakala lelaki dapat menjadi kawan hidupnya dan menguasai segala sesuatu yang masuk dalam urusan rumah tangganya itu sebagaimana pemerintah yang baik, pasti dapat menguasai dan mengatur sepenuhnya perihal keadaan rakyat.
Manakala ini terbalik, misalnya istri yang menguasai suami, atau sama-sama berkuasanya, sehingga seolah-olah tidak ada pengikut dan yang diikuti, tidak ada pengatur dan yang diatur, sudah pasti keadaan rumah tangga itu menemui kericuan dan tidak mungkin ada ketenangan dan ketentraman didalamnya.
Istri itu baru dapat dianggap shalihah, apabila ia selalu taat kepada Allah, melaksanakan hak-hak suami, memelihara diri di waktu suaminya tidak dirumah dan tidak seenaknya saja dalam hal memberikan harta yang menjadi milik suaminya itu. Dengan demikian, istri itupun pasti akan dilindungi oleh Allah dalam segala hal dan keadaan, juga ditolong untuk dapat melaksanakan tanggungjawabnya yang dipikulkan kepadanya mengenai urusan rumah tangganya itu.
3.      Melaksanakan pernikahan sebagaimana diajarkan oleh agama islam
Salah satu dari jenis kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan untuk menyalurkan hasrat biologis, dan manusia memerlukan pasangan jenisnya. Dan syari’at islam telah memberi tuntunan yang jelas yaitu dengan cara membentuk suatu ikatan perkawinan.
4.      Berwudhu dan berdoa pada saat melakukan hubungan badan suami istri
Ajaran islam menjelaskan, ketika seorang akan melakukan hubungan badan maka di anjurkan untuk berwudhu dan berdoa terlebih dahulu.
Kewajiban istri terhadap suami:
Dari Abu hurairah r.a, berkata, Rasulullah SAW bersabda:
“Jikalau seseorang lelaki mengajak istrinya ke tempat tidurnya, tetapi istri itu tidak mendatangi ajakan tadi, lalu suami itu marah pada malam harinya, maka para malaikat melaknat, mengutuk istri itu sampai waktu pagi.”(Muttafaqun ‘alaih).
Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah SAW bersabda:
“Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, tiada seorang lelaki pun yang mengajak istrinya untuk datang ke tempat tidurnya, lalu istri itu menolak ajakannya, melainkan semua penghuni yang ada di langit-yakni para malaikat-sama murka pada wanita itu sehingga suaminya rela padanya –yakni mengampuni kesalahannya.
5.      Menjaga, memelihara, dan mendidik bayi (janin) yang ada dalam kandungan ibunya
Ajaran islam menjelaskan bahwa membina hubungan harmonis dalam rumah tangga antara suami istri sangat dianjurkan. Sebab hubungan itu akan memberi kesan positif terhadap anak yang akan dan sedang dikandung. Orang tua juga harus bisa menjaga kesehatan fisik dan mental bayi yang berada dalam kandungan, mendoakan bayi yang ada dalam kandungan. 

G.    Metode Pengasuhan Anak
Adapun metode pengasuhan anak sebagaimana tertuang dalam ajaran Islam baik yang terungkap dalam Al-Qur’an, hadits, maupun pemikiran dari para ilmuan adalah sebagai berikut:
1.      Pola asuh anak dengan keteladanan orang tua
Orang tua dalam rumah tangga adalah contoh ideal bagi anak-anaknya. Anak akan meniru tindakan, perilaku orang tuanya, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan.
2.      Pola asuh anak dengan pembiasaan
Pengasuhan anak harus didasari oleh metode pembiasaan, sebab dengan hanya memberi teladan yang baik saja tanpa diikuti oleh pembiasaan belumlah cukup, contoh metode pembiasaan ialah dengan mendirikan shalat.
3.      Pola asuh anak dengan cerita
Metode cerita dijadikan salah satu pola pengasuhan anak dalam ajaran islam, didasarkan bahwa seni adalah sumber dari rasa keindahan dan bagian dari pendidikan. Demikian juga sastra, termasuk cerita, juga menjadi bagian dari keduanya. Abdul Majid mengatakan, cerita merupakan salah satu bentuk karya sastra yang memiliki keindahan dan kenikmatan tersendiri, baik bagi pengarang yang menyusunnya, pendongeng yang menyampaikannya, maupun penyimak yang menyimaknya.
4.      Pola asuh dengan pemberian hukuman
Dalam kenyataan kehidupan berkeluarga, dapat disaksikan bahwa diantara anak ada yang sangat agresif, suka relawan, berkelahi, senang mengganggudan berwatak sedemikian bandelnya sehingga sukar mengendalikannya melalui cara atau metode yang lazim digunakan untuk sebagian besar anak-anak. Oleh karena itu, untuk mengasuh anak yang berprilaku seperti diatas, ajaran islam menerapkan dan membenarkan pengusahaannya dengan metode hukuman, manakala dengan metode-metode lain tidak berhasil.
Pemberlakuan hukuman itu dapat dipahami, karena disatu sisi islam menegaskan bahwa anak adalah amanat yang dititipkan Allah kepada orang tuanya. Disisi lain, setiap orang tua yang mendapatkan amanat itu wajib bertanggung jawab atas pemeliharaan dan pengasuhannya.







BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pendidikan dalam konteks Islam telah banyak dikenal dengan menggunakan term yang beragam, yaitu At-Tarbiyah, At-Ta’lim, At-Ta’dib. Istilah At-Tarbiyah tidak dipergunakan dalam leksiologi Al-Qur’an, tetapi yang senada dengannya adalah Ar-Rabb, yaitu fonem yang seakar dengan At-Tarbiyah yang mempunyai makna At-Tanmiyah, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Selanjutnya, istilah ta’lim berasal dari kata ‘allama yang berarti transmisi ilmu pengetahuan pada jiwa induvidu tanpa adanya batasan dari ketentuan tertentu. Adapun istilah ta’dib mengandung pengertian, berupa proses pengenalan dan pengakuan secara berangsur-angsur yang ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing dan mengarah kepada pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya.
Keluarga adalah family yang berasal dari kata familier yang berarti dikenal dengan baik atau terkenal. Metode-metode pengasuhan anak:
1.      Pola asuh anak dengan keteladanan orang tua
2.      Pola asuh anak dengan pembiasaan
3.      Pola asuh anak dengan cerita
4.      Pola asuh anak dengan pemberian hukuman

B.     Saran
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk memperbaiki penulisan selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
Good, William J. 1995. Sosiologi Keluarga. Jakarta: Bumi Aksara.
Muhaimin. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya. Bandung: Trigenda Karya.
Rahmat, Jalaluddin. 1984. Keluarga Muslim Dalam Masyarakat Modern. Bandung: Rosda Karya.
Sabiq, Sayyid. 1987. Fiqih Sunnah, Terjemahan Moh. Thalib. Bandung: PT. Al-Ma’arif.
Tafsir, A. dkk. 2004. Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Mimbar Pustaka.
Ulwah, Abdullah. 1981. Tarbiyatul Al-Aulad fi Al-Islam. Beirut: Dar Al-Salam.
Ust. Alhafid dan Ust. Suhaemi Masrap.1986. Riadhus Shalihin. Surabaya: Mahkota.



Tidak ada komentar:
Write komentar